Skip to content

Month: July 2015

Cerita Ramadhan : Malam Ke 25, Patah Hati Yang Terdalam

Setiap oran pasti pernah merasakan yang namanya patah hati, bahkan ada beberapa patah hati yang sampai sekarang pasti masih terasa. Itu kenapa terjadi? apakah karena besarnya dosa serta pengkhianatan cintanya terhadap kita sehingga memberikan luka yang begitu membekas.

Menurut gue, itu semua bukan dikarenakan luka yang ada tetapi adanya pengabaian terhadap dirimu. Engkau sudah menyiapkan tempat yang indah untuknya, tetapi entah mengapa dia mengabaikan, mungkin itu yang bikin kamu kecewa dan menjadikannya sebuah luka.

Tetapi, luka harus disembuhkan agar tidak terjadi sebuah penyesalan yang semakin mendalam. Itu mengapa, sebaiknya mulailah untuk move on, agar tidak menyesal dikemudian harinya. Terima kasih 🙂

Cerita Ramadhan : Malam Ke 18, Jadi Petani

Sebagai anak seorang petani, pastilah selalu dididik dan diajarkan cara bertani juga. Kebetulan kedua orang tua saya backgroundnya adalah dari petani. Dilahirkan dari keluarga petani, dan ketika merantau menjadi petani juga. Walaupun kalo disini yang ditanam adalah pohon sawit, tapi jabatannya tetap saja disebut sebagai petani.

Petani kebun sawit yang sekarang di tahun 2015, berbeda dengan tahun waktu awal-awal dahulu, sekitar tahun 2000 kebawah. Sekarang sudah lebih modern. Apa saja yang berubah? Banyak,

  1. Dodos jadi Egrek, Dodos adalah nama sebuah alat yang digunakan untuk memanen buah sawit yang pohonnya masih kecil. Sehingga ketika sudah besar akan digantikan dengan egrek. Nahh, egrek ini terlihat lebih sedikit mengerikan, karena biasanya sawit yang dipanen pohonnya lebih tinggi lagi. Egrek ini memiliki panjang yang bisa disesuaikan dengan tinggi dari pohon sawit, sehingga tidak menyulitkan ketika ada pohon yang tinggi banget dan ada yang sedang-sedang saja.
  2. Angkong jadi Obrok, Nah ini bagian yang menarik, kalo dahulu biasanya orang memakai Angkong, sekarang berubah menjadi obrok. Yappp, keranjang yang dipasang di sepeda motor, sehingga lebih memudahkan ketika akan membawa buah sawit melewati jalan-jalan yang rumit dan tidak akan terlalu capek.

Perubahan tersebut menjadikan petani sawit menjadi lebih produktif lagi, karena yang biasanya sehari hanya bisa memanen satu buah kapling, sekarang sudah bisa berkapling-kapling. Jadi ya gitu, kerjaan yang berat, lama-kelamaan akan menjadi lebih ringan.

Jadi petani bukanlah suatu hal yang buruk, karena ya itu tadi, hasil yang didapatkan menjadi lebih berkah karena berasal dari tetes keringat sendiri. Semoga para Petani tetap diberikan kesehatan sehingga hasil taninya bisa dimanfaatkan untuk kelangsungan kehidupan bangsa.

Jika di Riau banyak pohon sawit, berbeda dengan di pulau Jawa, yang mayoritas masih banyak yang bercocok tanam, menanam padi, sayuran, tembakau dan sebagainya. Tetapi jika dilihat lahan pertanian di pulau jawa semakin lama bisa semakin tergerus arus modern. Karena bisa dikatakan bahwa kesejahteraan petani di Jawa masih jauh dari kata mencukupi. Hal ini sebaiknya mulai dicarikan solusi bersama agar kedepannya petani-petani itu tetap bertani dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Karena bagaimanapun merekalah yang memberikan makanan kepada kita, sehingga ada baiknya kita sebagai generasi muda, jika ingin jadi petani gak usah malu, justru berbanggalah karena hasil tani kita akan menjadi pasokan makanan untuk seluruh bangsa.

Petani?? Mengapa tidak??

Home sweet Home

Rumah, adalah tempat tinggal tetap kita dan tempat kita kembali dari kejauhan. Kemanapun kita pergi, pasti tetap akan kembali kerumah kita. Kecuali kalau rumahnya dijual, jadi pindah deh. Rumah juga tempat kita dibesarkan, membangun pribadi, serta momen-momen indah yang kadang tak ingin dilupakan, tetapi entah kenapa bisa terlupakan. Aku sudah lupa ketika pertama kali aku menginjakkan kaki disini, katanya sih tahun 1993, sekitar bulan Maret atau April. Aku tak ingat karena saat itu aku masih berumur 3 bulan.

Aku lahir bukan di Sungai kuning, itu wilayah di Kabupaten kuantan singingi, provinsi Riau. Melainkan, aku lahir di Ngawi, salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur, tepatnya di desa Bringin, dusun Nampu. Aku dilahirkan pas hampir waktu maghrib, dan ceritanya saat itu sedang hujan. Udah gitu yang bikin nyesek adalah, aku berada didalam kandungan selama 12 bulan, jadi sebenarnya kalo dihitung normal aku sebenarnya lahir di tahun 1992, dibulan September. Tetapi takdir berkata lain, jadi lahirlah aku dibulan Januari. Yapp Januari, tapi bukan 11 Januari.

Di rumah akan ada banyak kenangan yang terjadi, terkadang itu indah, tapi kadang itu juga agak sedikit menyedihkan, karena disanalah kita dididik sejak kecil, sehingga ketika besar jadi manusia yang tidak kurang ajar gitu. Disini, dirumah ini, sejak kecil dilatih agar menjadi anak yang baik. Dan gak neko-neko, biar kalo dilihat orang bisa nyaman dan adem.

Oleh karena itu, aku sebagai anak sebisa mungkin jangan berprilaku yang aneh-aneh deh, biar jangan sampai kejadian suatu hal yang membuat kedua orang tua merasa malu menghadapi anak seperti aku.

Setiap kita pasti memiliki Rumah yang istimewa, dan sejauh apapun kita pergi pasti akan kembali juga kan. Bahkan bagi yang merantau ketika kembali kerumah, rasanya itu sudah tidak ingin keluar rumah itu. Begitu juga dengan saya, bisa dikatakan saya malah gak pernah keluar rumah, selama Ramadhan ini bisa dihitung berapa kali saya keluar rumah. Sisanya ya saya habiskan dengan duduk dirumah, ataupun sekedar bantu-bantu bapak dirumah. Udah itu aja,,

Itulah sepenggal cerita tentang rumah, Tempat kita kembali.

Cerita Ramadhan : Malam Ke 17, Mudik Ke Riau

Ada yang berbeda dengan perjalanan mudik kali ini,, yapp pas puasa. Pada tau sendiri kan kalo kadang-kadang orang yang pergi melalui pesawat itu suka nyebelin. Ada yang berpakaian seadanya, yang narsis, bahkan ada yang dari pesawat take off, dan diatas masih sempat-sempatnya dandan lagi, pas pesawat landing dia dandan lagi, duhhhh. Ini kisah tentang perjalanan yang sebenernya gak ngenakin, tapi ya diceritain aja deh. Seperti apa kisahnya, mari kita bahas lebih lanjut.

Lewat Tembang Kangen

Ada yang berbeda setiap perjalanan kekota jogja dari ngawi, biasanya akan ada banyak kenangan-kenangan yang pahit yang akan muncul. Seperti, ketika naik bus, gak ada bus yang keren selain nama itu. Udah gitu ditambah lagi, kadang-kadang didalam bus itu suka memutar lagu-lagu yang bisa dikatakan sangat menggalaukan. Gimana ndak, puasa-puasa diputarkan pulak lagu dangdut, kan yang denger jadi pengin jogeddd. Hahahahaha

Tapi kali ini radak sedih, karena yang diputar lagu campursari dan itu semuanya memutar lagu yang ada hubungannya dengan kata “Kangen”. Duuhhhh, iya kangen, suatu rasa yang akan dirasakan manusia. Baik itu kepada keluarga, ataupun orang yang di sayangi yang bukan keluarga. Jeleknya adalah, kangen ini membuat kita bingung dalam melakukan apapun. Pasti bingung, karena jika kamu kangen lantas tidak berbuat apa-apa, percuma donk. Seperti ketika kamu lapar, terus kamu gak makan, lantas kamu ya bakal tetep lapar.

Itu kenapa, kalo kangen ya dikit-dikit kasih kabarlah, baik itu mau lewat telfon, sms, bbm atau kalo yang modal dikit make video chat. Jadi kan bisa menjadi manusia yang sedikit terhormat yak. Buat yang merasakan kangen dan tidak bisa berbuat apa-apa, mending kamu kelaut terus loncat deh kesana, kelarrrr..

Cerita Ramadhan : Malam Ke 16, Puasa Terakhir dijogja

Jogja, sebuah kota yang akan selalu memberikan sebuah kesan yang mendalam bagi siapapun yang datang kesana. Baik itu sekedar jalan-jalan atau menuntut ilmu. Berpuasa di jogja bukanlah hal yang buruk, toleransi dan keindahan jogja menjadikan kita lebih betah untuk berpuasa. Tetapi ada yang aneh dengan berpuasa di kota, yappp godaan begitu banyak. Yang terkadang membuat kita jadi serba ragu apakah puasa ini masih ada pahalanya atau tidak. Oke, seperti apa puasa terakhir pada ramadhan kali ini dijogja? Mari kita jelaskan….