Skip to content

Month: March 2016

Pergi untuk kembali

Belum hilang rasa lelah di tubuh, masih terasa dinginnya udara di ngawi, serta segarnya udara di Sarangan. Semua itu beralu begitu saja tanpa ada sisa-sisa kenangan yang ada, hanya untuk menapaki kaki ini, serta menjadi saksi bahwasanya aku pernah tiba ditempat itu.

Pergi, kata yang menyisakan sedikit luka bagi orang yang ditinggalkan, tetapi akan menjadi sebuah pendorong motivasi baru bagi yang akan pergi. Didunia ini ada berbagai macam jenis kepergian. Tetapi anehnya semuanya menyisakan sebuah kesedihan.

Entah itu kepergian seorang anak untuk menuntut ilmu, ataupun kepergian saudara maupun sanak famili untuk bekerja ditempat yang jauh dari keluarga. Itu hanyalah sedikit dari banyaknya kepergian yang ada. Tetapi, setiap yang pergi pasti akan kembali. Hanya saja apakah yang pergi dan yang kembali suatu hal yang sama atau berbeda?

Tahun 2011, aku memutuskan untuk pergi menuntut ilmu ke Jawa, entah dimanapun itu, yang aku tuju yang penting di Jawa. Itu aku lakukan agar sedikit demi sedikit aku ingin melihat, seperti apa sebenarnya Jawa itu. Ingin tau letaknya, manusianya serta apapun itu yang berkaitan dengan Jawa. Itu mengapa aku begitu kekeuh ketika meminta izin kepada orang tua untuk melanjutkan sekolah ke Jawa.

Kepergianku keJawa, tentunya dengan niat baik, tetapi tetap saja aku tau sebenarnya ada yang sedih dengan perginya aku ke Jawa, Pacar?? bukan, emmm itu termasuk sih,, tapi sebenarnya kedua orang tua aku pastinya sedih, karena aku tau yang mereka inginkan sebenarnya  cuma ingin dekat dengan anak2nya. Tapi inilah anaknya, yang haus akan ilmu, yang selalu ingin tahu hal baru, yang ingin melihat dunia lebih luas, maka aku selalu berharap untuk merelakan kepergianku.

Setiap kehidupan pasti ada kematian, setiap yang bertemu pasti akan merasakan berpisah. Begitu juga yang pergi, pasti akan kembali. Percayalah, sejauh apapun kita pergi, tetap akan kembali ketempat awal kita memulai hidup, yaitu “Rumah”.

Mawar dan melati yang bertaburan

Datang akan pergi, terbit kan tenggelam, pasang akan surut, bertemu akan berpisah. Sebait lirik yang menyayat hati bagi siapa saja yang pernah merasakan sebuah pertemuan dan akhirnya terjadi sebuah perpisahan. Sedih tentunya ketika semua itu terjadi, dan hanya setitik air mata yang bisa terurai.

Siang ini, kota jogja terasa begitu panas, matahari seolah sedang benar-benar memancarkan cahayanya. Tetapi banyak kesedihan yang terjadi, tetangga disekitar kos aku ada yang meninggal, tangis haru serta bacaan Al-Qur’an berseru-seru, seolah ingin menunjukkan sebuah tragedi bahwa setiap yang hidup pasti akan mati. Fenomena itu sudah menjadi sebuah sunatullah, ini sudah takdir, ketika suatu hal sudah sampai ajalnya maka tidak ada satupun yang bisa menghalanginya. Tidak pandang bulu siapa itu, akan tetap merasakan sebuah kematian.

Aku hanya bisa tertunduk ketika melihat jenazah yang hanya menggunakan kain kafannya, tiada daya lagi, semua yang dimilikinya akan ditinggalkannya. Orang yang disayanginya akan ditinggalkan begitu saja. Semua harta yang telah ia cari, akan ditinggalkan begitu saja. Hanya ada 3 hal yang akan selalu mendampinginya diruangan kecil didalam tanah tersebut.

Tiada bekal yang akan dibawa melainkan 3 hal, yaitu Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak yang shaleh. Tentunya 3 hal tersebut tidak semata-mata hanya begitu saja ikut dengan jenazah dan setia mendampinginya. Ke3 hal tersebut harus benar-benar diusahakan, dan itu tentunya tidak mudah untuk dilakukan.

Kepergian orang yang telah sampai pada ajalnya tentunya akan menjadi pengingat bagi siapa saja yang masih hidup, ini harus terjadi. Karena itulah salah satu pengingat akan kehidupan yang sebenarnya, bukan didunia ini, melainkan akhirat kelak yang kekal.

Jenazah itu terbaring lemah tiada daya, hanya orang-orang yang disayanginya dahulu lah yang membantu menguburkannya. Langkah demi langkah menuju tempat peristirahatan terakhir, diiringi oleh tangis-tangis dari keluarga tercinta, serta taburan bunga-bunga mawar serta melati yang mengeluarkan wangi yang khas.

Jika bagi sebagian orang bunga-bunga tersebut menjadi simbol tentang cinta, kali ini bunga-bunga itu berubah menjadi sebuah kesedihan-kesedihan yang mungkin berasal dari orang-orang yang dicintainya. Ketika bunga-bunga itu sudah bertaburan, maka sedikit demi sedikit jenzah tersebut akan segera sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.