Skip to content

Month: August 2016

Jalan terus

Dalam setiap aktifitas tentunya akan ada dimasa kita akan merasa kalau kegiatan yang kita lakukan gitu-gitu aja, atau istilahnya karena terlalu banyak melakukan aktifitas yang sama maka akan timbul rasa jenuh. Jenuh kerap kali akan menjadi sebuah pemicu seseoarang akan malas dalam melakukan suatu hal, ini dikarenakan biasanya orang yang suka jenuh merupakan orang yang suka dengan perkembangan, dan karena merasa diri ini tidak berkembang sama sekali, maka muncullah rasa jenuh itu.

Jenuh bukan hanya melulu mengenai pekerjaan, atau aktifitas harian, bahkan dalam membina sebuah hubungan, tentunya pasti akan pernah disatu titik tertentu kok merasa kalo kita kok gini-gini aja, chatting, telfon, and dll. Itu-itu aja aktifitasnya. Nah, ini juga berbahaya, bagi yang gak tau cara ngendaliinnya ya ujung-ujungnya bakalan diam gitu aja.

Lalu apa iya diam merupakan solusi yang bakal jadi yang terbaik? Ingat disini yang kita fikirkan bukan hanya mengenai yang terbenar ya, tapi apa itu yang terbaik. Apa gak ada solusi lain? Tentunya ada, tapi mungkin akan berbeda solusi bagi setiap orang. Ini dikarenakan kan yang ngejalani juga orang yang berbeda, itu mengapa masalah yang dihadapi oleh pasangan biasanya pasangan tersebutlah yang paling mengerti apa solusi terbaiknya.

Tapi perlu digaris bawahi juga, kalo seandainya solusi akhir adalah pisah, maka itu bukan solusi sebenarnya, itu hanya sebuah pembenaran untuk lari dari masalah tersebut. Tak ada luka yang tak terobati, tetapi luka tersebut tersisa apakah masih membekas atau tidak. Terkadang rasa sakit itu sudah hilang, tetapi bekas-bekasnya masih terlihat nyata.

Jalan terus, merupakan sebuah langkah untuk selalu berusaha maju kedepan, untuk selalu menjalankan semua apa saja yang selama ini dipercayai baik awalnya, maka lanjutkanlah sehingga akan bertemu bahwa keyakinan kita akan kebaikan itu benar-benar terjadi.

Apa yang menjadi keyakinanmu diawal tentunya sudah engkau pertimbangkan baik dan buruknya, jangan hanya baiknya saja ya, tentunya sedikit demi sedikit harus memulai untuk melihat apa saja yang buruk, jadi kalo seandainya kejadian bener yang buruk ya gak begitu kecewa, karena sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan tersebut.

Menjalani lagi semua yang engkau yakini baik itu juga merupakan sebuah tanda ataupun bukti akan kesetiaan yang engkau miliki, ini bukan hanya soal cinta, tetapi dalam berbagai hal, kesetiaan merupakan sebuah parameter apakah sebenarnya hidup seseorang memiliki makna atau tidak.

Bahkan setia disini bisa menghancurkan benteng-benteng rasa gengsi yang selama ini biasanya muncul dalam diri manusia. Misalnya, pernahkah terbayang ketika seorang majikan memiliki pembantu yang meskipun digaji tidak terlalu besar tapi begitu ikhlas memberikan yang terbaik untuk sang majikan.

Oke, mungkin contoh itu terlalu viral, bagaimana dengan seorang sahabat yang selalu setia hadir untuk teman-temannya. Bukankah itu juga merupakan sebuah kesetiaan yang begitu berharga, pernahkah terfikir oleh kita bahwa menerima keadaan diri kita yang begitu banyak kekurangan ini, dan ada orang yang mau dan ikhlas bersama kita dalam situasi apapun.

Nah, apapun kejadian yang dialami seseorang tentunya akan disangkut pautkan dengan semua yang terjadi di masa lalu, begitupun mengenai kesetiaan ini. Hati-hati dalam mengelola dan menjaganya, karena kebanyakan orang ketika sekali saja dikhianati maka selamanya dia tidak akan pernah percaya lagi.

Nah, ketika sudah merasakan yang namanya menderita karena rasa setia yang dipertaruhkan, solusinya ya “Jalan Terus”. Karena sang waktulah yang akan memperbaiki semua rasa sakit itu, dan menjadikannya sebuah kebahagiaan yang jika di renungi merupakan suatu yang berharga melebihi dunia dan seisinya.

Dari sebuah untaian canda yang terselip antara aku dan kamu. AESP

Bulan separuh

Kerlip bintang dimalam minggu ditambah bulan yang bersinar hanya separuh menambah petualangan malam ini menjadi lebih syahdu. Kali ini adalah kali pertama malam mingguku berada di sini, di kota pekanbaru. Sebuah tempat yang sebenarnya bisa dikatakan merupakan daerah kota terdekat aku dibesarkan, tapi aku tak pernah sekalipun berada disini dalam waktu yang lama. Mungkin kali ini harus dikurangi ego meninggalkan budaya yang tak ku mengerti ini dan berusaha untuk sama-sama maju berkembang.

Malam itu karena perut rasanya udah melilit, meskipun hatinya lagi seneng karena abis ditelfon sama kekasih tersayang, ya tetep aja pengen makan. Mungkin kalo kata orang ketika kita bersama dengan orang yang kita sayangi, maka kita akan selalu semangat dan kondisi tubuh tiba-tiba menjadi lebih sehat, anehnya kalo soal laper ya tetep laper ya. Ini ngingetin aku ketika malam-malam minggu sebelumnya aku lewati dirumah si Ratna itu, dan biasanya di hidangnkan teh atau kopi, trus kemilannya ya itu jajanan sisa lebaran. Wkwkwkwkw .

Bagiku secangkir teh/kopi itu sudah cukup untuk menemani malamku, apalagi adanya dirimu disampingku, wuihh bikin diri ini serasa menjadi manusia yang begitu bahagia. Semuanya serasa hanya menjadi kenangan, kenangan manis yang mengalahkan pahitnya rasa kopi. Tapi aku bukanlah pengingat yang baik, terkadang aku kesulitan dalam mengingat momen2 itu, yang aku ingat hanyalah aku pernah berada disana bersamamu, tentang apa yang kita lakukan serta kita ngomongin apa ya biasanya udah bablas lupa, meskipun ada beberapa tindakan yang bakal keinget terus. Seperti kejadian aku yang hampir terjatuh karena gerogi mau megang pipi kamu. Iya jatuh, dan Alhamdulillah masih bisa bangkit lagi.

Bulan dilangit hanya tampak separuh, ya separuh yang setengahnya lagi dalam keadaan kekurangan cahaya. Gelap, satu kata itu yang bisa mewakili mudahnya dari banyak kesimpulan mengenai keadaan kekurangan cahaya itu. Karena disaat gelaplah kita semakin mengerti tentang apa saja yang sebenarnya penting bagi kita dan yang sebenarnya percuma kita lakukan. Seperti aku yang ada disini, ketika malam ini aku keluar rumah, nada tanda bahaya itu sudah terasa, melihat langit seolah tak lagi sama dengan langit-langit malam sebelumnya. Ada sebuah perasaan yang berbeda, apa iya ini karena ini malam minggu pertamaku tanpamu. Apa sebenarnya aku ini sudah tak menghiraukan lagi perubahan yang ada diatas sana.

Apa selama ini aku terlalu terlena dengan semua kesendirian itu, sehingga ketika tak kurasakan lagi hadirnya dirimu didekatku, aku merasa bahwa malam ini berbeda. Bukankah sebenarnya ini adalah malam yang sama dengan malam-malam yang sebelumnya. Lalu apakah yang menjadikan dia begitu berbeda?

Kondisi bulan itu seolah menunjukkan dua buah sisi kehidupan manusia, yang terkadang kita cermati akan ada cahaya yang menerangi kegelapan dan selalu saja ada kegelapan yang tidak di pancari oleh sinar sang cahaya.

Seperti aku yang serasa gelap tanpamu, lalu apakah engkau sudah menjadi cahaya bagiku? Apakah benar jika aku dan dirimu itu layaknya gelap dan terang, ibarang yin dan yang, ataukah kita ini sebenarnya layaknya seperti air dan api? Itu bukanlah sebuah pertanyaan yang rumit jika antara kita ada sebuah jembatan yang saling menghubungkan tentang apa dan bagaimana sebenarnya yang kita mau.

Lalu apakah kita ini harus menjadi seperti bulan dan matahari, ada yang memberi dan yang diberi akan memancarkannya dan memberikan keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan cahaya dari sang matahari mampu menutupi semua jelek ataupun kekurangan dari sang bulan.

Bulan separuh seolah menampilkan serta menunjukkan semua yang dirasakan bagi setiap siapa saja yang sedang merindukan sosok yang sangat dicintainya.

Apapun itu, bulan separuh itu seperti menunjukkan jika kita harus selalu waspada, jangan terlena dengan semua kesenangan ini yang bukanlah kebutuhan, tetapi hanya kesenangan semata.

Efek, naik motor gak konsen n malah liatin langit, jadinya hampir nabrak kucing. Dasar kucing kota, gak liat-liat jalan dulu kalo mau nyebrang. Alhamdulillah, mungkin takdirmu bukan terkena ban sepeda motorku.

Lalu apakah jika malam minggu pasti akan serasa berbeda? Seperti bulan yang mungkin saja minggu depan akan lebih banyak cahaya dibandingkan kegelapan, ataukah harus seperti ini terus?

Apapun itu, sebenarnya lika-liku semua ini layaknya kita, yang berproses, dari yang dahulu seperti tidak kenal, lalu sedikit-sedikit mulai dekat. Dan sekarang sudah dekat lagi. Proses ini menunjukkan dan akan membuktikan seberapa serius kita membinanya, dan akan kelihatan semua hasil yang telah kita rawat selama ini. Dan semoga kelak hasil yang kita dapatkan sesuai dengan keinginan yang telah kita tanamkan sejak pertama kali kita sepakat untuk menjalani ini semua bersama-sama.

Ditulis dalam kerinduan yang tiada tara. AESP

Aku tak seperti yang aku persangkakan

Terkadang kita begitu egois dengan berusaha menilai diri sendiri, tak menggunakan analisa serta pendapat dari orang lain. Kita hanya berusaha memikirkan seperti apa diri kita dan tak pernah peduli apakah diri kita ini sebenarnya memang sesuai persangkaan kita terhadap orang lain. Ini merupakan evaluasi diri yang mungkin sedikit banyaknya yang aku, kamu dan mereka rasakan.

Untuk lebih menjelaskan sebenarnya tentang diri kita, mungkin kita butuh pendapat dari orang lain, ini sudah pasti, karena kan yang menilai adalah orang lain, dan bukan diri kita, akan sangat egois sekali bukan, jika kita memaksa orang lain untuk menerima semua yang kita miliki, yang ternyata kita juga jika diberikan pilihan untuk menerima manusia seperti diri kita sendiri pun bakalan ogah kan.

Ada beberapa pertanyaan yang mungkin perlu kita jawab agar kita makin tahu seperti apa diri kita sebenarnya.

Apakah aku baik?

Sudah merasa baikkah diri kita? Sudah berapa banyak hal-hal positif yang kita lakukan, apakah kita udah sering membantu orang lain, atau ternyata kita sibuk memuaskan keinginan sendiri. Lalu apa iya yang kita lakukan itu memang benar-benar baik, atau ternyata semuanya itu hanya terselubung saja. Hanya kita dan Allah yang tahu apa yang tersimpan dalam hati. Yang kita lakukan itu ikhlas karena berbuat baik atau ternyata kita hanya ingin dipuji saja oleh orang lain?

Jujurkah kita?

Jujur, ya kata 5 huruf yang mirip dengan “C.I.N.T.A”, entah mengapa beberapa kata yang tersusun dari 5 huruf itu kebanyakan maknanya begitu berat, dan bahkan bisa jadi suatu kata yang sulit untuk dimengerti, ada jujur, sabar, dan termasuk cinta. Ya cinta selalu jadi bahasan yang jadi topik utama. Bahkan cinta juga sering kali di rekayasa (kayak lagu dangdut ya). Lantas, seberapa jujurkah kita? Pas kita ditanya sama kasir di minimarket “Ada uang kecil gak kak?”, apa cobak yang kita jawab? Ketika kita berada dirumah teman trus ditawari makan apa jawaban kita? Ketika kita ditanya kabar dari keluarga, apa jawaban kita? Apakah jawaban kita sudah benar-benar merupakan ekspresi yang kita rasakan, atau ternyata hanya untuk basa-basi saja. Memang susah jujur itu.

Adilkah kita?

Selain jujur, ada kata “Adil”, kata ini selalu menjadi pasangan dari kata “jujur”. Bahkan menggunakan kalimat “Jujur dan Adil”, menggunakan kata hubung “dan” bukan “atau”. Kalau yang pernah faham logika, pasti mengerti bahwa ketika menggunakan kata “dan” itu artinya kedua-duanya harus dipenuhi baru bernilai “true”, semisal “aku dan kamu”, ya harus 22nya, gak bisa cuma “aku” aja atau “kamu aja. Nah setelah jujur tentunya adil, adil bukanlah memberikan suatu yang sama terhadap suatu hal atau masalah. Tetapi adil lebih ke “Menempatkan sesuatu pada tempatnya”.

Itu baru 3 pertanyaan loh? Tentunya akan banyak pertanyaan lain yang mungkin, kalo kita tuliskan sendiri bakal muncul satu kesimpulan,

Ternyata aku tak seperti apa yang aku persangkakan.

Ditulis menggunakan jari-jariku yang katanya “manis”.

Kebebasan

Kemana pun akan aku bawa dirimu bersama dengan semua kenangan yang pernah hinggap diantara kita yang mungkin akan terlalu indah untuk dilupakan tetapi terlalu sakit untuk dikenang. Semua itu lantaran kita, ya aku dan kamu terkadang masih memikirkan diri sendiri dan belum satu visi dan misi yang mungkin takkan selamanya kita akan selalu berada didalam sebuah pendapat yang sama. Mungkin sekali dua kali kita akan merasakan yang namanya perbedaan yang sebenarnya itu akan menjadikan kita manusia yang semakin dewasa dan akan lebih baik lagi dalam menghadapi semua lika-liku kehidupan ini.

Baik aku dan kamu mungkin belumlah menjadi satu tapi tanpa adanya kesepakatan antara kita, mungkin saja tujuan kita yang awalnya sama tidak akan pernah menjadi satu atau istilah singkatnya kita akan selalu dalam perbedaan. Tak mengapa berbeda kan ya, asalkan kita saling percaya dan saling support satu sama lain yang bikin kita bisa menjadi lebih leluasa dalam bergerak, bebas dalam artian bukan melakukan sesuatu sesuka kita, melainkan selalu memberikan sebuah alasan tersendiri untuk mencapai tujuan kita bersama.

Oke, kali ini mungkin pembahasannya lebih luas, bukan sekedar antara aku dan kamu saja. Bukannya bosen, tapi memang sepertinya akan lebih enak lagi kalo pembahasannya bukan sekedar mengenai aku dan kamu. Sekali lagi ini mungkin pola yang seharusnya diikuti sejak awal aku membuat beberapa tulisan awal. Tujuan utama dari pembuatan blog ini serta apa saja yang sebenarnya selalu mengganggu didalam fikiranku. Saatnya kita buka semua.

Kebebasan

Semua dari kita pasti menginginkan yang namanya kebebasan, mau itu dalam menjalani sebuah hubungan, maupun berbuat sesuatu. Bahkan seringkali kita merasa bahwa diri ini harus sebebas mungkin melakukan yang kita mau dan kita suka tanpa memperdulikan apakah orang lain senang atau tidak dengan kelakuan kita. Oke, sekilas nampak jika memang ego manusia itu gakkan pernah yang namanya turun, makin naik iya.

Lalu, bebas disini maknanya apa?

Untuk ngejawab pertanyaan tersebut mungkin agak sulit, karena definisi bebas menurut orang, pasti berbeda, termasuk juga aku. Semisal, dijalanan ada anak kecil yang baru bisa naik motor trus dia gak make helm, terus dia naiknya ugal2an dan membahayakan pengendara lain. Dari sini saja kita bisa ngelihat perbedaan pendapat loh, dari sisi sang anak kecil tentunya dia pengin banget bergaya seperti itu kan, karena menurut dia itu yang namanya bebas, serasa jalan miliknya sendiri. Tapi kalo menurut aku yang ternyata ribet ini, woohhhhh, itu bahaya sekali, kalo yang jatuh cuma kamu okelah dek, tapikan kalo kamu trus nabrak orang lain yang berusaha hati-hati kan bener-bener ngeselin.

Trus lagi, soal lampu lalu lintas. Sebagian orang masih belum menganggap penting bahwa mematuhi lampu lalu lintas adalah demi kelancaran dan keselamatan berkendara. Mikirnya, ah masak cuma gara-gara ngelanggar lampu bakal bahaya. Kan ntar aku gak mungkinlah ngeliat mobil didepan trus aku gasak gitu aja kan. Kan aku juga bisa mikir mana yang bahaya dan tidak. Oke, sebagian kita pasti pernah dong berfikir seperti itu, pasti pernah, apalagi kalo lampu merah itu tinggal didaerah tempat tinggal kita, seolah lampu itu kita yang ngatur, ya karena kan milik kita.

Padahal tidak mematuhi lampu lalu lintas itu bukan cuma dampak terhadap pengendara loh, pernah gak berfikir kalo kepatuhan terhadap aturan lalu lintas bisa dijadikan parameter pemimpin yang baik? Mungkin bagi kita gak peduli, n bodok amat ah dengan semua itu, tapi bagi pemimpin itu sangat penting lohhh. Coba bayangkan kalo suatu saat presiden lewat jalan situ dan tanpa barikadenya, karena niatnya cuma pengin “blusukan”, trus ngeliat kondisi jalanan yang semrawut itu. Bayangkan pemerintah daerahnya, ndak mungkin dibiarin begitu aja kan, bisa-bisa malah dipecat gitu aja kan, karena dianggap gagal.

Owh, mungkin masih berfikir kalo gak mungkin dampaknya akan sebesar itu?
Lalu, sebaiknya gimana ya dalam menyikapi kebebasan ini?
Bukankah setiap dari kita punya hak-hak yang harus dipenuhi, iya benar, tapi menurut seorang teman yang kuliah di jurusan Hukum, benar bahwa kita semua punya hak untuk berekspresi, tetapi ada tuntutannya juga, bahwa jangan sampai hak kita juga mengganggu hak orang lain. Misalnya, mungkin bagi sebagian kita memutar musik dengan keras itu Ok ok aja, tapi pernahkah terfikir kalo ada hak orang lain yang kita langgar? Hak mereka untuk hidup tenang sebenarnya sudah kita usik sedikit?

Nah, ternyata kebebasan yang kita miliki ini merupakan kebebasan yang terikat, ya terikat, selama itu akan mengganggu kepentingan orang lain, maka kebebasan yang kita miliki juga gak bisa disebut dengan bebas lagi.

Lalu gimana kalo kita udah terlanjur egois dan suka menuntut agar semua hak kita dipenuhi? Ya solusi, satu-satunya ya harus berubah, harus dari sekarang mulailah berubah. Kalo sering melanggar aturan lalu lintas, ya ada baiknya mulai sekarang berusahalah untuk sering-sering belajar aturan apa aja si dijalanan itu, lantas kalo lampu merah gimana harus di patuhinya. Jangan manja, hanya karena disekolah dahulu tidak diajarkan maka gak mau belajar, ilmu itu banyak, bahkan ketika kita bangun tidur pun kita udah ada banyak ilmu yang bisa kita ambil.

Sudah mengerti bukan kira-kira kebebasan yang saya maksud?

Ditulis di kamar kecil yang sudah diberantakin.

Ini pekanbaru, bukan Jogja

31 Juli 2016 sekitar jam setengah 8 pagi pelan-pelan kumulai perjalananku kali ini menuju kota pekanbaru. Diawali dengan tangisan sang ibundaku yang sebenarnya berat melepasku pergi kepekanbaru, tetapi beliau menginginkan aku untuk menggunakan semua pendidikanku selama ini untuk menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kehidupanku kelak. Pagi itu aku pergi sendiri, dan sepertinya sepanjang perjalanan ya bakalan sendiri, berat rasanya kali ini meninggalkan rumah untuk kembali merantau. Terkadang terfikir dibenakku, sampai kapan kira-kira aku akan terus seperti ini, apa iya aku bakalan selalu hidup jauh dari rumah, padahal kan sebenarnya aku pengin banget dekat dengan rumah sehingga gak begitu banyak menahan rindu terhadap orang-orang tersayang.

Pagi itu kumulai perjalanan dengan berpasrah, atau bertawakkal kepada Allah, apapun yang terjadi sepanjang perjalanan dan akan jadi seperti apa kelak aku di pekanbaru, sepenuhnya aku pasrahkan ke Allah. Dan sepertinya tidak ada tempat lain deh. Sinar mentari terasa sedikit terik kali ini, ini karena mungkin biasanya kalo kepekan aku seringnya subuh-subuh, dan itu pasti perginya sama bapak, tapi kali ini sendiri, ya aku yang menginginkan sendiri itu. (Salah sendiri)

Sepanjang perjalanan yang kufikirkan dan kuingat-ingat adalah orang rumah, ya orang-orang yang kutinggalkan disana, termasuk si Gadis tersayang itu, yang dulunya Judes itu, tapi sekarang udah manja banget. Beberapa rencana sudah disiapkan demi kelancaran hidup dipekanbaru ini, semuanya agar aku nanti sesampai ditempat tidak seperti kehilangan arah lagi. Seperti dahulu, yang pergi tanpa tujuan dan tanpa arah, sehingga jadinya bukannya mencapai cita-cita, melainkan menikmati hidup saja.

Sudah beberapa kali aku datang kekota pekanbaru, hanya untuk singgah, dan itu tidak untuk waktu yang lama, paling lama berada disini cuman sehari semalam saja. Dahulu pernah ketika baru lulus dari SMK, aku disini menginap hampir seminggu karena ikut ujian SNMPTN ya itu namanya dulu, kalo sekarang mungkin sudah berubah, karena tentu udah pada tau, hampir setiap ganti mentri yang diubah ya nama ujiannya kan yaa.

Kedatanganku serasa disambut dengan beberapa hal yang gak akuk sukai, tapi karena niatnya adalah untuk mengenal maka sedikit demi sedikit aku harus bisa menerimanya dan beradaptasi dengannya. Tidak ada yang ingin kutaklukkan, ataupun ingin menaklukkan kota ini, karena yang aku inginkan adalah mari kita berkemkin tibang bersama, baik itu aku, kamu, dia dan mereka semua yang sama-sama menginginkan yang terbaik untuk kota ini.

Rumah yang ada dipekanbaru ini sudah cukup bagus sebenarnya, dan udah layak banget untuk ditinggali apalagi buat manten anyar, wihhh, cocok banget ni tempat. Kalo tinggal disini sama pasangan ya bakal serasa berdua terus sih, meskipun mungkin agak ngebosenin karena disini koneksi internetnya agak ceket, tapi ya gak papa sih, daripada gak ada kan ya.

Hari pertama disini dipake buat bersih-bersih dan nyiapin apa aja yang kira-kira bakal dibutuhin nantinya ketika tinggal disini, ya tentu saja bakalan belanja beberapa kebutuhan pokok utama biar setidaknya enggak bakalan kaliren, atau kelaparan.

Salah satu hal yang aku bener-bener tekankan ketika aku memutuskan tinggal disini adalah “Ini pekanbaru, bukan Jogja”. Ya ini harus bener-bener ditekankan, karena penting banget, sangat penting malahan. Membandingkan kota ini dengan jogja tentu tidak tepat dan bahkan mungkin gak akan pernah menemukan mana yang bakalan bisa dibandingin. Karena sudah jelas sekali bahwa nama besar jogja bukan hanya soal pariwisatanya, atau julukannya sebagai kota pendidikan, tetapi lebih dari itu jogja sudah jadi tempat rekomendasi untuk melakukan apa saja. Ya hampir apa saja, seperti mau sekolah disana cocok, mau kerja juga cocok atau mungkin mau cari jodoh, sangat cocok sekali. Karena ternyata disana itu banyak anak mudanya dan serunya adalah mereka pada jomblo, Hahahahaha. (Ratna ngomel ni kalo baca, hihihihi)

Tapi benar, kalo kita jauhan pas lagi seneng-senengnya itu bener-bener gak enak si, tapi gimana lagi lo. Harus gini, karena kalo gak aku ntar bakalan nyaman dengan suasana disana loh, kan malah jadi percuma ilmu yang aku punya ni kan ya. Tapi sekali lagi ya itu, kita harus ikhlas dan tawakkal. Biar apa yang jadi mauku dan maumu juga pasti akan kesampaian. Yakan??

Kalo jauh-jauhan gini ni sebenarnya pada nyadar diri si, ternyata pentingnya si dia itu. Penting banget ternyata ya, buat ngebangkitin semangat lagi kan yaa.

Ditulis di Kubang Raya pekanbaru, sambil nonton One Piece.