Skip to content

Month: September 2016

Harus Ikhlas

Saat kita mengalami suatu peristiwa tentunya bakal bermacam-macam rasa yang bisa kita rasakan. Kadang senang, kadang sedih, dan mungkin lebih seringnya sedih. Tapi mentari harus bersinar, detik jam-pun harus terus berdetak. Hidup ini tidak bisa berhenti begitu saja. Ketika kita memikirkan sebuah kemungkinan yang akan pernah terjadi, mungkin akan ada sebuah analisa singkat tentang kemungkinan terburuk yang sebenarnya juga belum terjadi.

Tapi itulah hidup, terkadang bayang-bayang yang semu itu akan selalu hadir dalam angan serta bayangan manusia. Tak bisa kita tolak dan sekalipun kita coba tuk menghentikannya meski hanya sejenak. Dia akan selalu berjalan dan mengalir menuju muaranya kelak akan berlabuh.

Ikhlas bukan suatu kata yang mudah, tapi tidak ada jalan lain, semuanya pasti akan terjadi, dan tak mungkin kita yang lemah ini akan bisa melawannya. Karena kita takkan bisa hidup dengan penuh kebencian, dan jika kita memilih untuk hidup dengan membenci, apa lantas itu akan berguna, tentunya selain buang-buang waktu, itu juga akan membuatmu rugi.

Benci bisa membuatmu berhenti berkembang, berhenti optimis menatap masa depan, dan bahkan membuatmu stack dan berhenti ditempat. Padahal akan begitu banyak hal yang bisa engkau lakukan jika engkau setidaknya mencoba untuk menerima semua yang terjadi, dan membiarkannya mengalir begitu saja, dan cobalah apa saja yang telah engkau dapatkan ketika mencoba untuk ikhlas.

Tenang, ya ketenangan, tak semua dari kita bisa merasakan hal tersebut, bahkan terkadang akupun juga tidak bisa, tetapi, ketenangan bukanlah sebuah hal yang datang begitu saja, tetapi merupakan hasil sebab akibat dari peristiwa yang terjadi. Akan ada resiko dalam setiap hal, bahkan untuk mencinta pun kita harus siap untuk tersakiti, ini terjadi karena kita memaksakan diri kita untuk bahagia, padahal yang membuat bahagia itu bukanlah dia yang kamu cinta, tapi kamulah sendiri yang cinta padanya yang akan membuatmu benar-benar bahagia.

Ketika dirimu mencintai, maka engkau melupakan begitu banyak logika, begitu banyak luka yang akan engkau rasakan, tapi cinta tidak menyakiti, sebenarnya dia memberikan rasa bahagia, hanya karena rasa benci yang muncul yang akan menjadikan luka tersebut makin membesar dan mungkin akan membuat serta menjatuhkanmu.

Bahagia juga bukan cara, tapi dia adalah akibat, akibat dari sebuah proses yang panjang yang mungkin kamu harus luka berdarah-darah untuk bisa merasakan bahagia. Tetapi apakah bahagia itu sebuah tujuan, ataukah kita merasa tidak bahagia lantas hidup kita tidak bermakna. Please deh yas, cobalah memandang hidup bukan dari apa yang kamu rasakan. Tapi, coba lihatlah disekitarmu, mereka yang hidupnya tak sebaik dirimu, yang mungkin saja tidak seberuntung dirimu, atau mungkin jangan-jangan mereka ingin sekali hidup seperti dirimu.

Terus mengeluh dan membuat diri ini semakin lemah gak akan bisa buat kamu bahagia, karena sekali lagi bukan bahagia tujuanmu, karena yang memberi bahagia itu bukan kamu. Dan bahagia juga bukan soal yang kamu rasakan tapi cobalah menerka apa yang mererka rasakan, apakah selama ini kamu sudah membuat begitu banyak kebahagiaan? Ataukah kehadiranmu hanyalah menghadirkan luka semata?

Saat kita menerima sesuatu dengan ikhlas, maka bahagia pasti yang dirasakan. Pasti.

Apapun itu, kita hanya bisa berusaha, hasilnya tentu akan sejalan dengan yang kita usahakan. Rasa sakit yang dirasakan orang berbeda-beda, bahkan tak mungkin sama. Ya ini soal rasa ya, bukan standar-standar yang biasa dipake buat menyetarakan status sebuah keadaan. Ini soal yang dirasakan bukan yang ditetapkan. Jadi apakah kamu merasa bahagia?
Pertanyaan itu pasti ndak bisa dijawab, karena sekali lagi selama kita memikirkan apa kita bahagia atau tidak, sebenarnya kita itu sedang tidak bahagia, orang yang bahagia itu tidak perlu diungkapkan, hanya perlu dirasakan.

Sayang, terima kasih untuk semua,,,

Ya ini ungkapan rasa terima kasih untukmu, aku menyadari diri ini tak sempurna, aku sadar bahwa diri ini bukanlah apa-apa, dan siapa-siapa.
Yang jelas, denganmu aku bisa berfikir maju kedepan, aku semakin tahu kemana arah hidup ini akan aku usahakan.
Aku tak bisa mengerti semua hal, aku juga tak bisa untuk memaksa diriku mengerti semua hal, karena akan ada selalu ada titik dimana kamu harus menetapkan bahwa kamu harus berhenti untuk memaksa diri.

Akan ada masa, kamu harus merasakan, bukan lagi memaksakan, jika yang kamu rasakan bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin bisa diragukan bahwa itu semua merupakan rasa yang kamu miliki.

Jika diri ini sangat jauh dari cahaya, maka apakah masih begitu penting pendapat naluri? Karena jangan-jangan fikiran jahat itulah yang membuat dan akan menghancurkan kita.

Ketika dahulu kuliah, sang prof ganteng itu selalu memberikan nasehat untuk selalu melihat suatu hal dari sisi positifnya, karena percuma juga kalo yang dilihat negatif, gak bakal menimbulkan efek apa-apa loh. Harus positif.

Semua ini seolah memberikan sebuah garis titik temu, yang bukan sejajar, tetapi harus bersilangan agar tercapai sebuah titik yang nantinya kita juga akan dipertemukan kembali.

Lalu apakah titik temu itu akan memberikan kebahagiaan? Please jangan tanya itu,

Harus ikhlas, ketika kita melepaskan sesuatu, jika memang itu akan jadi milik kita, maka dia akan kembali kepada kita, dan jika tidak? Mungkin itu bukan milik kita, maka tunggu saja mana yang akan jadi milikmu.

Aku nulis ini dibarengi ama lagu karaokenya si “Marya Isma”, itu lo artis smule, yang suaranya unik ra ketulungan. (Hahahaha)

Ditulis di Kubang raya, pekanbaru saat hujan baru saja berhenti.
15 September 2016
Oleh Andriyas Efendi


Meski kau terus sakiti aku

Hari gini ngomongin patah hati? Klise banget kan ya,, kayaknya udah basi banget gitu, dijaman yang serba modern kayak gini kok masih juga ada bahasan tentang sakit hati. Sebenernya ini niat nulis atau pengen bergalau ria aja? Nah pertanyaan itu yang seringkali hinggap dikepalaku, seolah mengaung-ngaung untuk segera diungkapkan. Entah mengapa kalo sudah berbicara soal sakit hati tentunya kita tiba-tiba akan merasa menjadi orang yang paling tersakiti. Bukan cuma sekelas patah hati loh, tapi bahkan bisa dikategorikan kedalam sebuah patah hati yang begitu dalam, bahkan menjadi patah hati yang terdalam.

Seperti juga sumur, tentunya pasti memiliki dasar. Begitu juga diri ini, sedalam apapun yang kita rasakan pasti suatu saat akan muncul sebuah titik dimana kita sudah tak merasakan lagi apa itu patah hati atau bagaimana rasanya tersakiti. Karena dia yang sudah terbiasa patah hati, maka sakit itu sudah tak dirasakan. Begitu juga tangisan, mereka yang sudah terbiasa menangis, lama-kelamaan yo pasti bakal jadi lebih strong. Itu lah mengapa jika engkau masih merasakan semua perasaan itu, bersyukurlah, itu artinya engkau masih memiliki perasaan dan rasa sakit.

Rintik-rintik hujan jatuh kebumi, dengan alunan suara yang begitu merdu untuk didengarkan, begitu indah untuk dikenangkan dan begitu sakit untuk dirasakan. Ada berjuta manfaat serta keuntungan yang didapat ketika hujan turun, seperti ketika saatnya pulang kerja dan ternyata hujan, pasti yo beruntung kamu masih dikantor jadi ya gak kehujanan kan.

Lalu apa hubungannya dengan lagu yang ada liriknya “Meski kau terus sakiti aku”, nah sebenarnya apa iya kalo cuma kita yang tersakiti? Atau jangan-jangan malahan dia yang menyakiti bahkan merasakan rasa sakit yang lebih dalam. Tetapi, seperti drama kebanyakan serta kejadian yang telah terjadi disekitar kita, tentunya biasanya yang bersalah adalah orang yang begitu egois dan bener-bener gak mikirin maunya orang lain gimana.

Itulah kenapa Tipe-X dalam sebuah lirik lagunya menyebutkan, “Caci aku, maki aku, sakiti aku, tapi jangan diam”. Bentuk rasa sakit dari yang paling sakit adalah “didiamkan”, pernah ngerasain? Tentu lebih sering lah ya, iya dia yang didiamkan akan benar-benar tersakiti, karena akan dibiarkan didalam ketidakjelasan yang bener-bener tidak jelas. Itulah mengapa sampek ada muncul lagi film sekuel “AADC”, ini mau nunjukin kalo sebenarnya cowok itu ya tukang PHP (didalam film).

Kalo dikehidupan nyata? Wooohh berani bilang begitu mungkin belum ketemu saya kali ya, (sombong). Bukan gitu, tapi tak semua laki-laki seperti itu, bahkan para mbak-mbak ni bakal lebih sensi ketika sang cowok tiba-tiba menghilang ataupun tiba-tiba kok jarang ngehubungi. N bakalan disangkut pautin tu sama filmnya.

Bukannya ini melakukan pembelaan, tapi tidak semua laki-laki, bersalah padamu. Contohnya akuuuu, (nyanyi). Kalo itu tadi lagunya Meggi Z ya. Intinya adalah, selektif lah dalam menilai seseorang, jangan hanya karena kegagalan yang diakibatkan seseorang eh malah kita jadi salah menilai. Bisa jadi, orang lain akan berbeda kan ya.

Lalu terkadang ada rasa sakit yang mengharuskan kita untuk bertahan, “Kucoba tuk bertahan, dalam kisah ini”, lagu lagi yaa, iya bertahan, ini seperti sebuah karang yang berusaha berdiri tegak karena diterpa ombak yang begitu keras, ataupun seperti tiang bendera yang berusaha tetap berdiri meskipun terhuyun kesana kemari dikarenakan angin yang begitu kencangnya. Bertahan bukanlah yang mudah, akan ada begitu banyak perjuangan serta yang akan dikorbankan. Eh mungkin belum kefikiran apa yang kamu perjuangkan dan kamu korbankan? Sekilas memang tak kasat mata, tetapi jika kita lebih teliti lagi, pasti ya bakalan jelas ketahuan itu apa yang sebenarnya sedang menimpa kita dan sebenarnya akan bagaimana yang akan terjadi pada kita.

Seperti yang sering aku sampaikan, bahwa tidak ada kerugian bagi orang yang sabar, ini sebenarnya bukan nasehat buat orang sih, tapi lebih kepada buat diri aku sendiri, lha gimana, aku ini lo bukan tipe orang yang sabar, aku kalo ada yang jahat sama aku ya tak pencak-pencak. Apalagi kalo dia itu semena-mena, jangan sampai aku terbakar cemburu (eh). Karena pasti gak enak, baik di aku dan kamunya (bukan curhat), tu makanya kamu jangan lagi buat aku tersakiti (lagi-lagi bukan curhat). Jangan bikin aku diabaikan seolah engkau tak menganggap diriku lagi, karena aku bisa saja tak menganggap dirimu juga (bukan curhat lohh).

Hujan masih saja menerpa sore ini, di pekanbaru dikota tempat aku kembali menjauhkan diri dari desa tercintaku, desa tempat aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang, dan setelah pergi darinya yang terjadi malahan aku seperti hanya objek yang dengan pantasnya akan dijadikan korban dalam setiap kejadian yang begitu menguras perasaan.

Hujan ini turun memberikan jutaan berkah bagi banyak orang, dimulai dari dinginnya udara yang biasanya panas tentunya memberikan kesan sejuk bagi siapa saja. Dan airnya yang insyaAllah bersih akan memberikan kebasahan serta energi baru bagi kehidupan dimuka bumi ini. Meskipun anak-anak lain pada sibuk ngerjain entah apa itu, karena internetnya mati ya aku diam saja dan nulis dikit-dikit. Ya cuman bisa dikit karena mungkin kalo banyak ya bakalan galau lagi yang kejadian kan.

 

AESP

 


Tersadar

Pernahkah dikau dikecewakan? Atau bahkan kita menjadi salah satu faktor pembuat kecewa itu, seringkali kita dihadapkan pada situasi yang sesungguhnya benar-benar kita rasakan bahwa efek untuk diri kita kedepannya tidak jelas akan baik atau tidaknya. Ini bukanlah curhatan diri, tapi ini adalah sebuah refleksi diri yang mengalami begitu banyaknya gonjang-ganjing kehidupan yang bisa dikatakan sudah entah harus kemana lagi kaki ini berpijak. Tak tahu akan kemana arah yang kita tuju, dan seolah semuanya serasa menjadikan kita manusia yang semakin lama semakin jauh dengan kuasa yang pencipta.

Bulan tak lagi bersinar terang, begitu juga gemerlap bintang yang biasanya begitu indah terlihat, tetapi entah mengapa kali ini semuanya terlihat suram. Hanya gelap yang didefinisikan sebuah keadaan kekurangan cahaya. Apa ini juga refleksi dari diri ini? Apakah memang suasana diri ini sedang dalam keadaan gelap gulita? Apakah aku butuh cahaya?

Ya, sepertinya aku memang membutuhkannya. Lalu cahaya seperti apa yang aku butuhkan? Mungkin sedikit merenungi semua kejadian dan apa saja yang telah dialami bisa membuatku menemukan sebenarnya apa yang sedang aku cari saat ini. Sebagian dari kita mungkin begitu mudah dan sudah mendapatkan cahaya yang dia inginkan, tapi entah mengapa, tidak dengan diriku, entah mengapa seolah sedikit demi sedikit semuanya itu menjadi semakin suram dan bahkan hilang sama sekali.

Apa iya keinginan untuk tidak terlihat menonjol itu malah sebenarnya tombak yang menghujam kepada diri ini? Apa iya jika aku hanya menginginkan menjadi orang yang bersorak saja dan tidak menjadi pahlawan itu merupakan sebuah hal yang salah. Entah mengapa saat ini aku merasa kok sepertinya diri ini tiada berharga sama sekali. Semua yang telah aku capai bukan apa-apa, dan bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang telah didapatkan orang lain.

Lagi-lagi sepertinya alam ingin menunjukkan langkah yang tepat yang seharusnya aku tempuh sebelum mengambil sebuah keputusan.

Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu salah dan kita tetap melakukannya, lantas disebut apa diri kita ini?

Pernahkah kita merasa kecewa dengan diri kita sendiri atas apa saja yang pernah dilakukannya. Sepertinya memang sudah saatnya kita menata diri kembali, mengembalikan apa yang sudah terbiasa dilakukan. Menjadikannya sebuah teguran singkat yang kelaknya akan menjadikan kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.

AESP


Jangan tinggalkan aku

Jangan tinggalkan aku, kumohon kepadamu, tak sanggup diri ini, hidup tanpa dirimu. Mungkin sebagian dari kita pernah deh denger lagu itu, tepatnya itu lagunya siapa, jujur aja aku lupa. Lagu itu sebenernya pasti membekas di benak banyak orang kan ya. Atau mungkin jangan-jangan cuma gue aja kan ya. Oke, bukan lagunya yang sebenarnya mau dibahas, tapi lebih kepada yang kata orang-orang biasa disebut “makna” dari sebuah lagu. Bukanlah yang tertulis dengan jelasnya, tapi yang disampaikan dengan begitu banyak bahasa keindahan yang kita sendiri perlu menerka-nerka sebenarnya apa makna yang tersimpan didalamnya.

Aku seperti layaknya pepohonan yang diterpa angin, yang bergerak kesana kemari hanya karena terombang-ambing karena besarnya terpaan sang angin. Ini juga seperti layaknya bintang yang selalu bersinar terang tetapi tertutup awan, sehingga tak nampak lagi keindahannya. Aku sudah merasakan beberapa purnama bersamamu, setidaknya sudah 2 purnama, aku dan kamu menikmatinya bersama, melihat indahnya sang bulan yang memancarkan cahaya, menjadikannya begitu sempurna yang membentuk sebuah lingkaran terang yang dihiasi oleh cahaya-cahaya yang terbias dan terkena awan disekitarnya.

Seperti juga diriku, bulan purnama seolah memberikan sebuah pembelajaran yang begitu berharga, ini seperti kita sedang dinasehati dan diarahkan oleh kedua orang tua kita, yang terkadang maksud dan tujuan mereka itu masih tersirat, perlu waktu dan pemikiran tersendiri agar kita bisa merasakan dan benar-benar merasakan apa saja yang sebenarnya mereka inginkan. Aku dan kamu layaknya sepasang kekasih yang sedang benar-benar dimabuk asmara, ya kita sudah mabuk, kita seolah sudah merasa cocok satu sama lain, walaupun tak begitu mengenal, tapi entah mengapa diri dan hati ini rasanya sudah terpaut kepada dirimu.

Aku juga yakin begitu juga dengan dirimu, biasanya apa yang kita rasakan akan sama. Ini karena yang kita harapkan dan kita lakukan juga sama, sehingga ada sebuah sinyal tersendiri yang menjadikan apapun yang kita rasakan juga jadi sama. Seperti layaknya hamparan tanah kering yang begitu merindukan kemurahan sang hujan untuk menyiraminya. Aku ingin kita layaknya bumi dan hujan, yang satu sama lain saling membutuhkan dan saling memberi manfaat.

Hujan, ya hujan, apa yang teringat ketika hujan turun? Memori yang tentunya akan beterbangan ketika sang Hujan ini turun, apakah kebahagiaan, atau kesedihan yang sering muncul? Nah, kali ini entah mengapa ketika sang Hujan turun, ada rasa yang berbeda yang aku rasakan, jika hari-hari sebelumnya aku seolah takut menghadapi kenyataan yang sering muncul seiring jatuhnya tiap tetes dari Hujan yang membasahi bumi dan apa saja yang ditimpanya. Termasuk diriku, ada semacam sugesti yang menyirami diriku ketika tetesan hujan ini turun, seperti ada perasaan yang entah apa rasanya, yang gak tau itu rasa apa sebenarnya. Karena hujan selalu saja memberikan sebuah rasa Rindu. Ya rindu pada apapun yang ada dimasa lalu ketika hujan ini turun.

Hujan dan rindu seolah tak terpisahkan, karena mungkin sudah ditakdirkan seperti itu, melihat tanah-tanah yang kering dan berdebu, melihat daun-daun yang berguguran, tanaman-tanaman yang lalu, serta rasa panas yang dirasakan setiap makhluk hidup baik disiang maupun malam hari, seolah hanya satu yang paling ditunggu-tunggunya. Meskipun bagi yang kepanasan bisa saja menggunakan alat pendingin, tetapi tetap saja kehadiran hujan selalu saja diinginkan. Ini karena bukan hanya kita butuh air dalam tubuh, tetapi kita juga butuh sebuah rasa senang serta puas yang didapatkan ketika hujan telah turun. Dari tanah-tanah yang basah, tanaman yang kembali segar, serta makhluk-makhluk hidup yang selalu bergembira ketika datangnya hujan. Semoga hujan kali ini membawa berkah.

Teringat kisahku ketika sang hujan itu turun dan aku sedang dalam keadaan tak merindukannya, kala itu aku masih duduk di bangku SMK, aku yang masih kecil dan masih terbiasa terombang ambing dengan yang dinamakan arus kehidupan itu, pernah sesekali merasa sebal dan benci terhadap hadirnya sang hujan. Kala itu aku tak mampu membaca apa sebenarnya yang terjadi dari setiap tetesan yang turun dari langit itu. Atau aku yang saat itu belum bisa merasa lebih peka dengan keadaan sekitarku. Waktu itu seperti biasa hari minggu sore aku berangkat dari desaku menuju sebuah kota tempatku sekolah, setelah ashar aku bersiap dan berangkat menggunakan sepeda motor kesayanganku. Ditengah perjalanan, awan menunjukkan kegelapannya, dan aku merasa harus secepatnya sampai tujuan, sehingga kucoba memacu sepeda motor itu dengan lebih cepat, tetapi mungkin karena ini takdir, ditengah jalan hujan itu turun juga, aku sedikit menggerutu, kenapa ketika aku dijalan kok malah ujan? Kenapa gak ketika udah sampai atau ketika aku dirumah tadi ujannya sih? Semua kalimat menggerutu itu keluar dari dalam diriku, lalu kuputuskan untuk sejenak berhenti, banyak tempat yang sudah pernah jadi tempat persinggahanku ketika hujan turun, di SD f5, di tempat cucian mobil di Logas, di mesjid logas dekat simpang f6.

Dalam hatiku saat itu ketika aku berteduh, aku berusaha memantapkan diri bahwa ini adalah perjuanganku, ini adalah saat dimana aku akan tersenyum kelak ketika aku mengenang bagaimana hidupku ini diawali. Tak ada tujuan lain ketika aku berusaha selalu menerjang hujan itu, bahkan beberapa kali aku nekat dengan beraninya menerjang hujan yang begitu derasnya, dan disepanjang perjalanan yang kuingat adalah Aku harus sabar menghadapi semua ini, ini adalah proses yang kelak akan membawaku kedalam sebuah titik dimana aku merasa bahagia.

Bukan hanya ketika aku SMK ketika aku kuliah juga seringkali kejadian itu terus terulang, dan bahkan ada kebiasaan menarik yang aku lakukan, jika itu aku berangkat kesebuah tempat dan hujan biasanya aku bakal minggir berteduh atau memakai mantel, tapi jika itu adalah perjalanan pulang, biasanya aku tak pernah mau menggunakan mantel, ataupun berhenti sejenak untuk berteduh. Entah mengapa kala kuliah itu setiap tetesan dari sang Hujan begitu berharga untuk dilewatkan, bahkan ketika awan-awan mulai mendung dan rintik-rintik hujan mulai turun, aku malah selalu mencari alasan untuk keluar dari kos. Keluarnya bukan dengan tujuan yang jelas, melainkan tanpa tujuan dan akhirnya cuman naik motor muter-muter jogja dan nikmatin tiap tetes ujan itu.
Begitu juga ketika aku mengenal dirimu, beberapa kali tetesan hujan itu membuatku merasakan kehidupan yang begitu indah, waktu itu aku menjemputmu dari tempat kerja, entah kamu merasakan atau tidak, pernah sekali pas kita sampai di simpang lima, rintik-rintik hujan mulai turun, dan akupun bukannya mempercepat laju kendaraanku, melainkan kupelankan gas motorku, dan kututup mata sejenak dan menikmati tiap tetes yang kurasakan ditubuhku. Owh betapa indahnya dan bahagianya jika diri ini selalu menjadi seorang yang bisa menikmati tiap tetes hujan itu.
Seperti layaknya hujan yang deras sekalipun pasti bakal reda, akan berhenti dan bisa jadi dalam waktu yang lama takkan kembali lagi. Jika itu kita lihat mungkin kejam, tetapi ternyata tidak seperti itu, itulah cara hujan agar selalu dirindukan, karena meskipun sudah reda, air-air yang turun itu tetap memberikan begitu banyak manfaat kepada yang dibasahinya.

Aku ingin sekali menjadi seperti itu, aku tak bisa mengatakan bahwa aku akan selalu ada disampingmu, karena ini diluar batas kemampuanku, yang bisa aku inginkan adalah, aku ingin selalu menjadi hujan yang kau rindukan, dan kehadiranku akan memberikan berjuta manfaat dan kebahagiaan kepadamu.

Ditulis ketika Hujan begitu dirindukan di desaku, desa tercinta Sungai kuning.