Skip to content

Month: December 2016

Selamat tinggal

Ucapan kalimat perpisahan ataupun selamat tinggal selalu saja menjadi sebuah keganjalan untuk disampaikan. Disamping tak ada kalimat-kalimat yang tepat ucapan perpisahan itu begitu kaku untuk diucapkan, dan pastinya akan selalu menjadi sebuah momen yang tidak diinginkan oleh kebanyakan orang. Tak terasa, sekarang sudah berada diujung tahun 2016, saat tulisan ini dibuat tepatnya malam Jum’at dan mungkin ini adalah malam Jum’at terakhir di tahun ini.

Entah mengapa setiap malam Jum’at, rasanya ada sesuatu yang mengganjal, seperti kehilangan sesuatu dan mungkin merindukan dirinya yang entah berada dimana, karena akupun tak mengerti dengan semua ini, apakah ini benar rindu, atau hanya sekedar rasa tak ikhlas yang lama kelamaan kok malah jadi sebuah penyakit, ya penyakit yang seolah menggerogoti isi hati ini. Terkadang disaat kuterduduk maupun termenung, selalu saja terlintas sejenak namamu, manis senyummu serta tingkah laku dirimu yang meskipun sedikit yang kutahu tetapi begitu membenak didalam fikiran.

Saat kupandangi langit hitam, ada beberapa bintang yang selalu dan tetap bersinar, dan saat itupun aku terkadang mengingatmu dan semua kenangan yang ada pada dirimu. Rasanya, malam-malamku tak lagi sama dengan malam-malam lainnya, apa ini yang dikatakan ketidakikhlasan, atau seolah diri ini belum rela akan kepergiannya?

Kutatap layar monitorku dengan begitu fokusnya, meskipun sepertinya tubuh ini sudah mulai berontak dan memintaku untuk segera terlelap menikmati indahnya malam dalam balutan mimpi yang terkadang terkesan nyata. Beberapa hari ini cuaca di pekanbaru mulai tidak menentu, pagi hari rasanya begitu cepat, tau-tau setelah shubuh eh udah jam 6 aja, beda banget waktu aku dijawa kemarin, lama banget rasanya menuju siang itu, duhhh sungguh kumerindukan kota kelahiranku itu. Ingin segera rasanya kembali kesana lagi.

Kutulis ini bukan karena aku tak menginginkanmu lagi, tapi semua sudah berlalu, janjiku dan janjimu sudah menjadi janji palsu semata. Semua rencana dan keinginan kita itu hanya bualan semata. Tak ada lagi rasa optimis, tak ada lagi harapan yang kita tautkan dalam doa kita, yang kita renungkan setiap kita berusaha dan yang setiap saat kita usahakan.

Aku dan kamu kini sudah seperti tiada apa-apa lagi, karena memang mungkin dipenghujung tahun ini, kita memulai untuk lebih menjadi diri kita sendiri, mencoba mengikhlaskan dan mencari lagi tentang kemana kapal yang bernama hati ini akan berlabuh. Layaknya setiap pergantian tahun, setiap orang memiliki harapan dan keinginan yang ingin dicapainya lagi, itu agar menjadikannya lebih semangat lagi dalam menghadapi kenyataan hidup ini yang perlu usaha ekstra untuk selalu memiliki apa yang kita inginkan.

Selamat tinggal kuucapkan untuk tahun ini dan semua kisah serta kenangan yang tersimpan didalamnya, bukan karena aku tidak bahagia, tapi aku harus mulai lagi mengukir semuanya, sehingga kelak ditahun depan aku bisa menjadi manusia yang setidaknya lebih baik dari sekarang. Karena aku merasa, ada banyak yang tersia-siakan dalam hidupku ditahun ini, oleh karena itu seperti layaknya pohon yang selalu tumbuh dan semakin tinggi tentunya angin yang diterpanya akan semakin kencang. Maka harus benar-benar menyiapkan diri ini agar selalu berusaha dan tak kenal menyerah dengan semuanya yang terjadi.

Jika memang aku diharuskan didamaikan dengan dirimu, maka aku berharap kita bisa berdamai dan kembali menjadi teman layaknya seperti kita dahulu. Agar ini semua tak lagi menjadi sebuah penyesalan yang terus hinggap didalam relungan dada.

Karena ditahun 2017 ada satu yang harus kita pertahankan bersama yaitu :

Kita harus bahagia.

Ditulis oleh Andriyas Efendi

29 Desember 2016, di kamar depan Rumah pekanbaru, ditemani gelas yang sudah kosong, sehingga akan mulai diisi lagi dengan air yang baru.