Skip to content

Month: September 2017

Jika Rindu

Jika rindu menyapaku

Ingin kusambut dengan sebait harapan

Antara aku dan dirimu

Kala kita bersama dengan semilirnya angin malam

 

Jika rindu datang padaku

Membawa sedikit kenangan serta harapan

Mengingatkan akan masa dimana aku dan kamu saling merajut asa

Membawa semua keindahan yang terjadi antara kita

 

Jika rindu ingin menetap bersamaku

Maka tak kusambut dengan gembira

Karena dia rasa yang sementara, Kadang tinggi kadang rendah

Kadang bergelora kadang surut dan tenggelam

 

Jika rindu ingin pergi meninggalkanku

Izinkan aku berterima kasih padanya

Tentang hari-hari indahku bersamanya

Tentang kenangan-kenangan yang tercipta

 

Jika rindu membenciku

Maka aku ingin menegaskan padanya

Bahwa kita tak lagi sama

Tak lagi menuju tujuan yang sama

 

Jika rindu tak bahagia berjumpa denganku

Aku akan selalu berbahagia ketika dihampirinya.

 

AESP

 


Anak jaman now

Tadi itu sekitar jam setengan 11an, kebetulan dapet tugas dari pak bos buat nimbang sawit. Biasanya tu jam 9an udah dateng tukang nimbangnya, tapi ini eh malah kok ya lama juga. Sambil disambi nunggu ketemu sama mas2 yang biasa manen tempat bapak, dia cerita banyak hal dari mulai gimana penyakit darah tingginya yang ndak kelar sembuh, sampek ngebandingin beberapa nasehat dokter seng rodok aneh dan beda. Bukankah mereka satu ilmu, tapi kok ya beda2, gitu kata dianya.

Beliau juga menceritakan tentang kondisi anak2 muda yang ada sekarang, dan kenapa anak2 ketika lulus SD sebaiknya disekolahkan diluar daerahnya, yaitu dijawa, ini bukan karena tegaan tetapi karena demi kebaikan mereka juga. Karena, menurut dia lingkungan disini udah mulai gak sehat untuk didik anak, kalo kita berusaha didik bener2 tapi tidak begitu dengan yang lainnya. Tentunya ini bakal jadi polemik yang bahkan mungkin bisa jadi ajang salah2an antara orang tua, ya benar, yang satu nyalahin yang lain.

Dan lucunya pasti gak bakal mau disalahin. Menurut dia, anak2 disini pergaulannya sulit untuk dikendalikan, mereka ketika dirumah bisa kita bimbing dan kita arahkan, tapi lain halnya jika mereka sudah keluar dari rumah. Waduhhh, bakal bebas sebebasnya, ini dia lihat dari fakta banyak anak2 kecil yang udah main2 terut sawitan, trus mangani komik, Ra mejaji blasss. Komik loooo, diombeee.

Trus solusinya mungkin harus tega buat ditempatkan ditempat yang bener-bener bagus pendidikannya. Ya semoga dengan solusi beliau masalah bakal clear kan ya.

Akhirnya mas2 tukang nimbang itu datang setelah lama ditunggu, ada yang menarik ketika mereka kerja sambil ngobrol mengenai kondisi anak2 mereka. Sedikit bakal gue ceritain:

Cerita Bapak A;

Beliau ini punya anak laki-laki, yang mungkin secara pergaulan dia bener gitu dan ndak aneh-aneh, bahkan ketika lulus SD beliau mau mondok langsung ke f6, nah disini dilihat mungkin karena kemauan yang keras, anak tersebut bahkan tanpa diminta langsung daftar sendiri, gak dibantu orang tua, tentunya orang tua seneng banget kan ya, anaknya mau mondok, bangga tentunya, karena setidaknya meskipun ndak bisa member kebutuhan harta berlebih, melihat anaknya semangat belajar tentu ada rasa tersendiri yang muncul, rasa yang mungkin belum pernah ada sebelumnya, rasa bangga luar biasa.

Nah, ternyata harapan orang tua tidak begitu mulus, 4 bulan anaknya di pondok dia minta pulang dengan alasan dia tidak betah.

Dari cerita ini sebenernya udah keliatan mirisnya yakk, karena ternyata tidak semua orang bisa konsisten dengan pilihan yang diambilnya. Mungkin ini sama seperti aku dulu yang pindah kos, kalo udah kehilangan sebuah barang, karena menurutku, tempat tinggal yang kita gak bisa nyimpan barang-barang kita dengan nyaman itu gak banget, bahkan gak bisa jadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Dari sini kita tahu, bahwa punya prinsip serta komitmen itu penting, karena ketika kita tak memilikinya, kita bukan hanya merugikan diri kita sendiri, melainkan bakal merugikan orang lain juga. Contohnya, si Bapak tadi, beliau udh membayar semua biaya sekolah sang anak, tapi nyatanya, sang anak malah tak bisa memenuhi janji yang dia buat sendiri.

Cerita Bapak B;

Nah, kalo yang ini sebenarnya cerita sebelum nimbang, beliau cerita mengenai ada gitu anak2 yang baru kelas 5 SD dan hamil, gue udah tau si, cuman ini semacam ingin dibukakan mengenai fakta yang telah lama pudar, iya anak SD udah hamil, dan menurut beliau sang laki2 itu baru kelas 1 SMP, bentar-bentar, dulu perasaan gue kelas 1 SMP itu masih pada main kelereng deh, masih pada main lompat tali, main gateng. Ini udah “Hamil“, mungkin ini adalah efek teknologi yang begitu berkembang tanpa diiringi oleh adanya pengawasan dari orang tua.

Nah, biar ndak kejadian seperti ini lagi, sebaiknya orang tua mulai awas terhadap anaknya;

  • Jangan percaya begitu saja dengan apa yang mereka katakan, cobalah selidiki lebih lanjut, kemana mereka izin pergi, dengan siapa saja.
  • Cobalah sekali cek isi hape-hape mereka, lihat, adakah konten2 yang negatif atau tidak, kalo perlu kunci aplikasi-aplikasi yang bisa memunculkan bahaya yang berlebih, semacam: browser, facebook, ig, dll.

Mungkin ada yang berpendapat kurang bebas anaknya, ataupun kasian dong mereka jadi gaptek, please dehhh, anak2 itu belum butuh hal2 itu, buat apa? belajar? enggak, faktanya gadget itu bikin mereka jadi males belajar, Tapi kalo buat “Pamer“, ini yang bakal payah.

Trus kan gadget bisa membantu dalam belajar, ini lain lagi, karena memang ada beberapa hal yang menyangkut dengan gadget dan bikin anak2 jadi lebih tertarik, tapi mereka perlu juga diarahkan kan yaa, misalnya buat memperkuat hafalan Qur’an, bisa gunakan aplikasi, jadi mereka dengan mudah akses. Belajar perkalian, pembagian, bahkan membaca bisa dibantu dengan gadget, tapi perlu dipastikan bahwa ini juga benar-benar digunakan dengan baik. Karena jangan sampai kita akan menyesal dikemudian hari, inget loo anak SD “HAMIL”, si anak itu paling baru umur belasan tahun kan ya, gak lama itu looo, Waspadalah waspadalah.

Mungkin soal pergaulan antara laki2 dan perempuan, lebih baik di jaman dulu, dari cerita kedua bapak tersebut juga terselip sebuah cerita bagaimana dahulu jaman mereka mengenal lawan jenis, tidak ada istilah pacaran. Yang mereka lakukan adalah semacam drama gitu;

Misalnya, kalo seorang ibu suka terhadap laki2 maupun perempuan beliau akan meminta anaknya untuk mengantar sayur kerumah sang sosok yang disukai, ada yang diminta bantu2 cuci piring. Lucu, tapi ya itu lebih berkesan dan jelas. “Eh itu sianak rajin ya cuci piringnya, Eh itu anak rajin ya kerjanya”. Tak satupun tertulis, “Eh dia ganteng ya”, ataupun “Eh dia keren ya”.

Dan hasilnya, rumah tangga tangguh, yang kuat diterjang badai apapun. Pengen gakkk???

Tapi ya mungkin kan “Dulu lain ama sekarang”, karma gue karena sering ngomong gitu ke bapak dulu.

Sebagai bonus tak kasih beberapa gambar seru kan yaaa:

 

 

 

Udah cukup herann???

 

Oleh Andriyas Efendi, dikamar sambil denger lagu “Dulu aku suka padamu, dulu aku memang sukaaa”

30-September-2017