Skip to content

Month: February 2018

Pudarnya pesonamu

Dalam setiap rindu ada luka, dalam setiap suka ada duka, dalam setiap benci ada cinta. Layaknya seperti rembulan yang tertutup awan, cahaya serta keindahannya ditutupi oleh suramnya kenyataan. Menatap kosong rembulan yang tenggelam ditelan oleh gelapnya malam, menyisakan secercah cahaya harapan. Diiringi oleh semilirnya angin malam, bersama gemericik air mata kerinduan, wajahmu nampak terang, seterang purnama itu.

Dengan tanpa sadar, diri ini dengan lekat menatap jelas wajah serta senyum itu, terngiang dikepala, teringat didalam hati. Rasa beserta kegaduhan angin malam, ditambah dengan suara deruan daun yang bergesekan, kita masih berdua menatap lekat akan semburat senyum diwajahnya.

Waktu harus berlalu, detik akan berdetak, rindu akan berpaling, hingga akhirnya cinta itu akan memudar. Dengan tanpa fikir panjang, duduknya rindu itu ditengah gelapnya malam, bersama semua ratapan kesedihan, kebencian akan kenyataan, serta kecintaannya akan rasa benci itu.

Batas aku dan purnama hanyalah adanya dirimu, senyummu, serta keindahan yang memancar dari dirimu, hanya saja saat ini senyum itu memudar, keindahannya sudah tak nampak lagi indah. Cahaya yang seterang purnama itu perlahan redup dan tenggelam, bersama dengan rintihan tangis awan dimalam ini. Dengan tanpa sadar, tetesan demi tetesan air hujan itu seolah memberikan sebuah energi baru terhadap tanah yang begitu kering, tanaman yang begitu layu, serta hati-hati yang begitu tersiksa.

Dengan setetes embun pagi, sisa hujan semalam, beningnya embun itu memberikan harapan baru, era baru, serta pesona baru dari dirimu. Dengan tatapan optimis, menatap perlahan goresan-goresan pena yang telah terlukiskan didalam indahnya untaian kata-kata, yang berisi nada-nada keindahan, serta alunan merdu dari suara yang berasal dari jiwa-jiwa yang merindukan akan indahnya nikmat bersamamu.

Dingin rasa hati yang telah rapuh, yang telah di dekatkan pada dinginnya udara kesedihan, basahilah dengan tetes-tetes embun harapan dari sebuah keteguhan penantian yang tertunda, dengan menatap kembali rasa-rasa yang telah berceceran itu, dan kembali di susun menjadi sebuah energi baru dengan sebuah senyum baru, keindahan baru, serta kekuatan yang baru juga.

Peluklah aku dengan kerinduan yang menerpamu setiap malam, dari dinginnya angin malam di perjalanan malammu, dari terpaan debu jalanan yang selalu menghampirimu, tegarlah dengan setiap ujian yang menimpamu, dengan begitu kelak engkau akan menemukan obat dari setiap kerinduan, dari setiap rasa dingin, dari setiap harapan yang selama ini engkau selalu tuangkan dalam bait-bait doa, yang engkau ucapkan dengan perlahan, yang engkau merasukinya dengan jiwamu yang tulus, yang dengan rasa sabar serta kegigihan untuk selalu menanti.

Tetesan kenangan itu perlahan memudar, diiringi oleh hilangnya dirimu diantara ceceran harapan-harapan yang ada. Dengan rasa putus asa denganmu, dengan rasa optimis bersamanya.

Dalam bahagia ada kesedihan, dalam sedih selalu ada hal yang membahagiakan. Layaknya diri ini menatap masa lalu dengan beragam kesedihan, dalam banyaknya penyesalan, dalam banyaknya kesalahan yang dilakukan, selalu ada langkah baru untuk mencapai hal baru, ada rasa baru untuk memulai kembali, dan selalu ada pesona baru yang kan membawaku kedalam keindahan yang sebenarnya.

 

3 Februari 2018

Di sungai kuning bersama kerinduanku akan dirimu,

 

*Keterangan

  • Kata “Aku”, tidak selalu memacu pada diri dari penulis
  • Kata “Kamu”, bisa terkesan mengacu pada seseorang, bisa jadi banyak orang