Skip to content

Aku tak seperti yang aku persangkakan

Terkadang kita begitu egois dengan berusaha menilai diri sendiri, tak menggunakan analisa serta pendapat dari orang lain. Kita hanya berusaha memikirkan seperti apa diri kita dan tak pernah peduli apakah diri kita ini sebenarnya memang sesuai persangkaan kita terhadap orang lain. Ini merupakan evaluasi diri yang mungkin sedikit banyaknya yang aku, kamu dan mereka rasakan.

Untuk lebih menjelaskan sebenarnya tentang diri kita, mungkin kita butuh pendapat dari orang lain, ini sudah pasti, karena kan yang menilai adalah orang lain, dan bukan diri kita, akan sangat egois sekali bukan, jika kita memaksa orang lain untuk menerima semua yang kita miliki, yang ternyata kita juga jika diberikan pilihan untuk menerima manusia seperti diri kita sendiri pun bakalan ogah kan.

Ada beberapa pertanyaan yang mungkin perlu kita jawab agar kita makin tahu seperti apa diri kita sebenarnya.

Apakah aku baik?

Sudah merasa baikkah diri kita? Sudah berapa banyak hal-hal positif yang kita lakukan, apakah kita udah sering membantu orang lain, atau ternyata kita sibuk memuaskan keinginan sendiri. Lalu apa iya yang kita lakukan itu memang benar-benar baik, atau ternyata semuanya itu hanya terselubung saja. Hanya kita dan Allah yang tahu apa yang tersimpan dalam hati. Yang kita lakukan itu ikhlas karena berbuat baik atau ternyata kita hanya ingin dipuji saja oleh orang lain?

Jujurkah kita?

Jujur, ya kata 5 huruf yang mirip dengan “C.I.N.T.A”, entah mengapa beberapa kata yang tersusun dari 5 huruf itu kebanyakan maknanya begitu berat, dan bahkan bisa jadi suatu kata yang sulit untuk dimengerti, ada jujur, sabar, dan termasuk cinta. Ya cinta selalu jadi bahasan yang jadi topik utama. Bahkan cinta juga sering kali di rekayasa (kayak lagu dangdut ya). Lantas, seberapa jujurkah kita? Pas kita ditanya sama kasir di minimarket “Ada uang kecil gak kak?”, apa cobak yang kita jawab? Ketika kita berada dirumah teman trus ditawari makan apa jawaban kita? Ketika kita ditanya kabar dari keluarga, apa jawaban kita? Apakah jawaban kita sudah benar-benar merupakan ekspresi yang kita rasakan, atau ternyata hanya untuk basa-basi saja. Memang susah jujur itu.

Adilkah kita?

Selain jujur, ada kata “Adil”, kata ini selalu menjadi pasangan dari kata “jujur”. Bahkan menggunakan kalimat “Jujur dan Adil”, menggunakan kata hubung “dan” bukan “atau”. Kalau yang pernah faham logika, pasti mengerti bahwa ketika menggunakan kata “dan” itu artinya kedua-duanya harus dipenuhi baru bernilai “true”, semisal “aku dan kamu”, ya harus 22nya, gak bisa cuma “aku” aja atau “kamu aja. Nah setelah jujur tentunya adil, adil bukanlah memberikan suatu yang sama terhadap suatu hal atau masalah. Tetapi adil lebih ke “Menempatkan sesuatu pada tempatnya”.

Itu baru 3 pertanyaan loh? Tentunya akan banyak pertanyaan lain yang mungkin, kalo kita tuliskan sendiri bakal muncul satu kesimpulan,

Ternyata aku tak seperti apa yang aku persangkakan.

Ditulis menggunakan jari-jariku yang katanya “manis”.

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.