Skip to content

Bulan separuh

Kerlip bintang dimalam minggu ditambah bulan yang bersinar hanya separuh menambah petualangan malam ini menjadi lebih syahdu. Kali ini adalah kali pertama malam mingguku berada di sini, di kota pekanbaru. Sebuah tempat yang sebenarnya bisa dikatakan merupakan daerah kota terdekat aku dibesarkan, tapi aku tak pernah sekalipun berada disini dalam waktu yang lama. Mungkin kali ini harus dikurangi ego meninggalkan budaya yang tak ku mengerti ini dan berusaha untuk sama-sama maju berkembang.

Malam itu karena perut rasanya udah melilit, meskipun hatinya lagi seneng karena abis ditelfon sama kekasih tersayang, ya tetep aja pengen makan. Mungkin kalo kata orang ketika kita bersama dengan orang yang kita sayangi, maka kita akan selalu semangat dan kondisi tubuh tiba-tiba menjadi lebih sehat, anehnya kalo soal laper ya tetep laper ya. Ini ngingetin aku ketika malam-malam minggu sebelumnya aku lewati dirumah si Ratna itu, dan biasanya di hidangnkan teh atau kopi, trus kemilannya ya itu jajanan sisa lebaran. Wkwkwkwkw .

Bagiku secangkir teh/kopi itu sudah cukup untuk menemani malamku, apalagi adanya dirimu disampingku, wuihh bikin diri ini serasa menjadi manusia yang begitu bahagia. Semuanya serasa hanya menjadi kenangan, kenangan manis yang mengalahkan pahitnya rasa kopi. Tapi aku bukanlah pengingat yang baik, terkadang aku kesulitan dalam mengingat momen2 itu, yang aku ingat hanyalah aku pernah berada disana bersamamu, tentang apa yang kita lakukan serta kita ngomongin apa ya biasanya udah bablas lupa, meskipun ada beberapa tindakan yang bakal keinget terus. Seperti kejadian aku yang hampir terjatuh karena gerogi mau megang pipi kamu. Iya jatuh, dan Alhamdulillah masih bisa bangkit lagi.

Bulan dilangit hanya tampak separuh, ya separuh yang setengahnya lagi dalam keadaan kekurangan cahaya. Gelap, satu kata itu yang bisa mewakili mudahnya dari banyak kesimpulan mengenai keadaan kekurangan cahaya itu. Karena disaat gelaplah kita semakin mengerti tentang apa saja yang sebenarnya penting bagi kita dan yang sebenarnya percuma kita lakukan. Seperti aku yang ada disini, ketika malam ini aku keluar rumah, nada tanda bahaya itu sudah terasa, melihat langit seolah tak lagi sama dengan langit-langit malam sebelumnya. Ada sebuah perasaan yang berbeda, apa iya ini karena ini malam minggu pertamaku tanpamu. Apa sebenarnya aku ini sudah tak menghiraukan lagi perubahan yang ada diatas sana.

Apa selama ini aku terlalu terlena dengan semua kesendirian itu, sehingga ketika tak kurasakan lagi hadirnya dirimu didekatku, aku merasa bahwa malam ini berbeda. Bukankah sebenarnya ini adalah malam yang sama dengan malam-malam yang sebelumnya. Lalu apakah yang menjadikan dia begitu berbeda?

Kondisi bulan itu seolah menunjukkan dua buah sisi kehidupan manusia, yang terkadang kita cermati akan ada cahaya yang menerangi kegelapan dan selalu saja ada kegelapan yang tidak di pancari oleh sinar sang cahaya.

Seperti aku yang serasa gelap tanpamu, lalu apakah engkau sudah menjadi cahaya bagiku? Apakah benar jika aku dan dirimu itu layaknya gelap dan terang, ibarang yin dan yang, ataukah kita ini sebenarnya layaknya seperti air dan api? Itu bukanlah sebuah pertanyaan yang rumit jika antara kita ada sebuah jembatan yang saling menghubungkan tentang apa dan bagaimana sebenarnya yang kita mau.

Lalu apakah kita ini harus menjadi seperti bulan dan matahari, ada yang memberi dan yang diberi akan memancarkannya dan memberikan keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan cahaya dari sang matahari mampu menutupi semua jelek ataupun kekurangan dari sang bulan.

Bulan separuh seolah menampilkan serta menunjukkan semua yang dirasakan bagi setiap siapa saja yang sedang merindukan sosok yang sangat dicintainya.

Apapun itu, bulan separuh itu seperti menunjukkan jika kita harus selalu waspada, jangan terlena dengan semua kesenangan ini yang bukanlah kebutuhan, tetapi hanya kesenangan semata.

Efek, naik motor gak konsen n malah liatin langit, jadinya hampir nabrak kucing. Dasar kucing kota, gak liat-liat jalan dulu kalo mau nyebrang. Alhamdulillah, mungkin takdirmu bukan terkena ban sepeda motorku.

Lalu apakah jika malam minggu pasti akan serasa berbeda? Seperti bulan yang mungkin saja minggu depan akan lebih banyak cahaya dibandingkan kegelapan, ataukah harus seperti ini terus?

Apapun itu, sebenarnya lika-liku semua ini layaknya kita, yang berproses, dari yang dahulu seperti tidak kenal, lalu sedikit-sedikit mulai dekat. Dan sekarang sudah dekat lagi. Proses ini menunjukkan dan akan membuktikan seberapa serius kita membinanya, dan akan kelihatan semua hasil yang telah kita rawat selama ini. Dan semoga kelak hasil yang kita dapatkan sesuai dengan keinginan yang telah kita tanamkan sejak pertama kali kita sepakat untuk menjalani ini semua bersama-sama.

Ditulis dalam kerinduan yang tiada tara. AESP

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.