Skip to content

Category: Curhat

Selamat tinggal

Ucapan kalimat perpisahan ataupun selamat tinggal selalu saja menjadi sebuah keganjalan untuk disampaikan. Disamping tak ada kalimat-kalimat yang tepat ucapan perpisahan itu begitu kaku untuk diucapkan, dan pastinya akan selalu menjadi sebuah momen yang tidak diinginkan oleh kebanyakan orang. Tak terasa, sekarang sudah berada diujung tahun 2016, saat tulisan ini dibuat tepatnya malam Jum’at dan mungkin ini adalah malam Jum’at terakhir di tahun ini.

Entah mengapa setiap malam Jum’at, rasanya ada sesuatu yang mengganjal, seperti kehilangan sesuatu dan mungkin merindukan dirinya yang entah berada dimana, karena akupun tak mengerti dengan semua ini, apakah ini benar rindu, atau hanya sekedar rasa tak ikhlas yang lama kelamaan kok malah jadi sebuah penyakit, ya penyakit yang seolah menggerogoti isi hati ini. Terkadang disaat kuterduduk maupun termenung, selalu saja terlintas sejenak namamu, manis senyummu serta tingkah laku dirimu yang meskipun sedikit yang kutahu tetapi begitu membenak didalam fikiran.

Saat kupandangi langit hitam, ada beberapa bintang yang selalu dan tetap bersinar, dan saat itupun aku terkadang mengingatmu dan semua kenangan yang ada pada dirimu. Rasanya, malam-malamku tak lagi sama dengan malam-malam lainnya, apa ini yang dikatakan ketidakikhlasan, atau seolah diri ini belum rela akan kepergiannya?

Kutatap layar monitorku dengan begitu fokusnya, meskipun sepertinya tubuh ini sudah mulai berontak dan memintaku untuk segera terlelap menikmati indahnya malam dalam balutan mimpi yang terkadang terkesan nyata. Beberapa hari ini cuaca di pekanbaru mulai tidak menentu, pagi hari rasanya begitu cepat, tau-tau setelah shubuh eh udah jam 6 aja, beda banget waktu aku dijawa kemarin, lama banget rasanya menuju siang itu, duhhh sungguh kumerindukan kota kelahiranku itu. Ingin segera rasanya kembali kesana lagi.

Kutulis ini bukan karena aku tak menginginkanmu lagi, tapi semua sudah berlalu, janjiku dan janjimu sudah menjadi janji palsu semata. Semua rencana dan keinginan kita itu hanya bualan semata. Tak ada lagi rasa optimis, tak ada lagi harapan yang kita tautkan dalam doa kita, yang kita renungkan setiap kita berusaha dan yang setiap saat kita usahakan.

Aku dan kamu kini sudah seperti tiada apa-apa lagi, karena memang mungkin dipenghujung tahun ini, kita memulai untuk lebih menjadi diri kita sendiri, mencoba mengikhlaskan dan mencari lagi tentang kemana kapal yang bernama hati ini akan berlabuh. Layaknya setiap pergantian tahun, setiap orang memiliki harapan dan keinginan yang ingin dicapainya lagi, itu agar menjadikannya lebih semangat lagi dalam menghadapi kenyataan hidup ini yang perlu usaha ekstra untuk selalu memiliki apa yang kita inginkan.

Selamat tinggal kuucapkan untuk tahun ini dan semua kisah serta kenangan yang tersimpan didalamnya, bukan karena aku tidak bahagia, tapi aku harus mulai lagi mengukir semuanya, sehingga kelak ditahun depan aku bisa menjadi manusia yang setidaknya lebih baik dari sekarang. Karena aku merasa, ada banyak yang tersia-siakan dalam hidupku ditahun ini, oleh karena itu seperti layaknya pohon yang selalu tumbuh dan semakin tinggi tentunya angin yang diterpanya akan semakin kencang. Maka harus benar-benar menyiapkan diri ini agar selalu berusaha dan tak kenal menyerah dengan semuanya yang terjadi.

Jika memang aku diharuskan didamaikan dengan dirimu, maka aku berharap kita bisa berdamai dan kembali menjadi teman layaknya seperti kita dahulu. Agar ini semua tak lagi menjadi sebuah penyesalan yang terus hinggap didalam relungan dada.

Karena ditahun 2017 ada satu yang harus kita pertahankan bersama yaitu :

Kita harus bahagia.

Ditulis oleh Andriyas Efendi

29 Desember 2016, di kamar depan Rumah pekanbaru, ditemani gelas yang sudah kosong, sehingga akan mulai diisi lagi dengan air yang baru.

Tak selamanya selingkuh itu indah

Semua kesedihan yang terjadi didalam dirimu, bukan berarti menjadikan hidupmu menjadi begitu menderita. Dan pantas bagimu untuk melakukan kelakuan yang dilakukan para penderita itu. Selingkuh? Siapa yang selingkuh? Itulah sejenak tanya yang selalu terucap, kata yang selalu menjadi misteri, yeahhhh I like mistery. Tapi aku gak suka film horor, apalagi kalo ada hantu-hantunya, gak asik banget itu film. Entah mengapa kalo nonton film horor itu rasanya jadi porno sendiri, eh parno maksudnya, secara tiba-tiba halusinasi merasuk kedalam fikiran dan seolah mencucinya dengan tanpa menguceknya sehingga sisa-sisa hayalan itu masih tersisa dan menghantui hari-harimu.

Selingkuh? Kata yang identik dengan penghianatan, kebencian serta rasa nikmat bagi para pelakunya. Padahal jika kita telaah lagi, sebenernya para pelaku perselingkuhan ini sebenarnya mereka itu adalah orang yang bener-bener butuh kasih sayang. Karena mereka merasa tidak cukup dengan apa yang mereka miliki saat ini. Jadi ya gitu, carilah pelampiasan yang lainnya.

Padahal, pelaku selingkuh itu bener-bener penjahat yang bener-bener jahat, karena kan mereka itu sudah melakukan banyak kejahatan sekaligus, rasa sakitnya itu bukan hanya dikulit serta diindra saja, melainkan merasuk sampai ke ulu jantung, karena hati sudah tak kuat lagi merasakannya. Syeeahhhhh,,,

lalu sebenarnya apa esensi dari selingkuh itu, kenapa banyak orang yang mungkin berfikir ini adalah jalan keluar terakhir. Apa iya itu cuma satu-satunya solusi yang bisa diambil, opo yo gak eneng langkah liyane. Opo ora eman duite, gawe tuku banyu setan. Eh malah nyanyi, yaa, selingkuh bukanlah solusi, itu hanya akan menambah masalah baru buat kamu para pelakunya.

Apa iya selingkuh itu enak? Apa iya perlu dicoba? Apa iya selingkuh itu perlu banget dicoba? Karena penasaran akhirnya aku pengen ngebahasnya, bukan ngelakuin ya? Sudah cukup dengan semua penyesalan ini. Hahahahaha,,

Enaknya selingkuh itu bagi yang pernah ngelakuin itu kayak misalnya kamu lagi males ngapa2in trus tiba-tiba ada seorang yang dateng dan ngajak kamu buat main game, nah itu rasanya. Nikmat, seneng, bahagia, tapi ya cuman sampek gamenya kelar, abis itu hanya penyesalan yang tersisa.

Selingkuh, merupakan langkah bagi mereka yang bosen dengan apapun yang sedang mereka jalani sekarang, semisal kalo aku biasanya make windows, lantas aku bosen, saatnya selingkuh sesaat dengan linux. Apa itu? Pikiren dewe.

Selingkuh itu kesenangan sesaat yang menipu, apa yang kamu udah bangun selama bertahun-tahun, kepercayaan yang dari awal kamu udah berusaha untuk menumbuhkannya, sesaat akan menjadi tak berarti lagi, karena satu kata yang memiliki berjuta-juta dampak. Bayangin aja kalo kamu itu pelaku atau korbannya, gak bakal bahagia, saya jamin gak bahagia, karena pasti ada sisa-sisa penyesalan yang itu gakkan pernah hilang, meskipun engkau bersujud, bersimpuh padanya untuk meminta maaf. Karena tentu saja, bagi sang korban memaafkan itu mudah, tapi melupakan?? oh,, sorry, kesempatan kedua terlalu berharga bagi para pelaku perselingkuhan.

Nah itu kan pendapat pribadi, lalu tak tanya kesalah satu sahabat, katanya orang selingkuh itu hanya perlu ditinggalkan dan dilupakan saja. Tapi tak semudah kalimat yang terucap, prakteknya duh pasti sulit banget, apalagi bagi sang korban, dia diduakan tanpa izin dari pihak pertama, jangankan meminta izin terlebih dahulu, dengan egoisnya dia dengan mudah meninggalkan semua kepercayaan yang telah engkau berikan padanya.

Karena tak semua yang kita ingin lupakan akan dengan mudah hilang begitu saja, bahkan ketika kita mencoba melupakan sesuatu, kita malah akan semakin ingat dengan semua kisah kelam tersebut.

Tapi selingkuh tak selamanya indah, percayalah, akan ada masa kamu akan sangat menyesalinya, bukan karena lukanya, karena saat itu kamu sudah menghilangkan satu orang yang begitu sangat mempercayaimu, engkau akan sangat merugi, belum tentu dia yang kamu ajak selingkuh akan sama seperti yang kamu tinggalkan.

Seringkali kita tergoda dengan sesuatu yang fana, kita tergiur dengan hal-hal yang bahkan gak perlu pertimbangan lagi. Apa yang lebih baik darinya? Dari dia yang kamu ajak selingkuh? Apakah dia yang mau merusak hubunganmu akan dengan baik begitu saja seterusnya denganmu? Tidakkah engkau risau akan dia yang akan memperlakukankmu juga seperti itu. Apa rasanya jika suatu saat dia pergi darimu? So, pikirkan lagi jika mau selingkuh ya?

Tapi seperti petir, yang bisa tiba-tiba muncul tanpa hujan, atau dia muncul karena penanda akan turunnya hujan. Semua itu pasti engkau lalui, akan ada masa kamu akan merasa jika hubunganmu tak bisa diselamatkan lagi, maka cobalah beri ruang sejenak pada dirimu dan dirinya, agar bisa punya waktu untuk saling berfikir dan menjernihkan hati, lalu cobalah berbicara dengannya, carilah solusi yang mungkin akan menyelesaikan semua masalahmu, jika tidak maka putuskan dengan baik, bahwa hubunganmu dan dia itu bukan saja karena harus saling bahagia, tetapi harus saling percaya, agar tercipta hubungan yang harmonis. Dan jika semua itu tidak tercapai, mungkin saja satu-satunya solusi yang bisa tercapai adalah pisah.

Jadi, bagi yang berfikir selingkuh adalah solusi, itu salah banget. Cari solusi lain yak, sama yang sering aku bilang, kalo pergi, ya pergi aja. Hahahahaha,, see ya.

 

Andriyas Efendi

18 Oktober 2016

Antara aku kamu dan penantianku untuk dia yang aku juga belum tau siapa.

Seperti juga bulan, aku juga bisa merindu

Mungkin tak semestinya ini semua diungkapkan, karena tak semua kalimat akan sama maknanya ketika yang membaca berbeda, tetapi tak ada kalimat yang tak bisa dimengerti. Karena kalimat merupakan salah satu cara atau gaya bahasa seseorang untuk menyampaikan sesuatu, ada yang menggunakan bahasa isyarat dan ada juga yang terang-terangan mengungkapkannya. Terkadang itu yang membuatnya menjadi mudah dimengerti. Seperti juga bulan, aku juga bisa merindu, kalimat ini buat anak-anak jaman 90an kayaknya familiar banget, kala itu masih awal-awalnya punya hape, dan beberapa lagu juga ada yang sampai sekarang masih terkenang, kalo ndak salah lagunya siti nurhaliza yang judulnya “Wulan merindu”.

Apa yang terjadi belakangan ini terhadap diriku setidaknya membuka sedikit cakrawala lagi dalam memandang hidup ini, seolah akan menunjukkan ke sebuah titik dimana tujuan hidup kita ini menjadi jelas, jadi bukan hanya sekedar mengalir bagai air begitu saja, tapi jelas tujuannya menuju ke arah yang lebih rendah. Itu jika mengambil filosofi air, tapi berlaku juga bagi para kapal, yang kemanapun dia berlayar, dia juga pasti tahu tujuan dermaga tempat dia berlabuh dan nantinya untuk berhenti dan memutuskan untuk menetap didermaga itu.

Seperti juga pesawat terbang, yang dalam satu waktu bisa berpindah-pindah tujuan, terkadang dalam perjalanan akan terjadi gejolak yang menghambat atau bisa lancar seperti apa adanya. Jadwal penerbangan yang tidak menentu juga terkadang menjadikan proses menunggu menjadi lebih lama lagi, tetapi tetap saja, akan ada kepastian berapa lama para penumpang akan menunggu.

Halah, ngomong apa ini. Ada kala saat-saat terburuk bagi seseorang untuk memutuskan menyendiri, karena tidak selamanya sendiri itu akan memberikan efek yang baik, ada kalanya menyendiri akan menjadikanmu menjadi lebih terpuruk lagi.

Apalagi jika yang ada didalam benakmu hanyalah hal-hal yang menyakitkan dirimu untuk diingat, apalagi dikenangkan. Tidak semua yang kita ingat adalah hal-hal yang bahagia, pastinya ada kala sesuatu yang berusaha keras kita lupakan, dia akan hadir begitu saja. Seperti angin yang terkadang hadirnya memberikan kesejukan, tetapi jika terlalu kencang juga bakalan bikin ribet.

Kata menjadi tak berarti lagi ketika sudah tak ada lagi rasa dalam hati, karena sedikit banyaknya kata merupakan hasil dari olahan fikiran dan yang dirasakan dengan hati. Apa yang dirasakan tentunya juga akan sedikit banyak mempengaruhi apa yang akan diucapkan dan yang akan tertuliskan.

Seperti juga rindu, ada kalanya yang dirindukan adalah dia yang selama ini sudah engkau yakinkan dan engkau pilih melalui beberapa proses pendekatan, atau yang dirindukan adalah masa-masa bersamanya. Atau bahkan hal-hal yang kamu benci sekalipun akan bisa memberikan efek rindu yang bisa jadi tidak terbendung.

Lalu salahkah rindu jika kehadirannya hanya mendatangkan luka baru? Karena ada beberapa luka yang bisa sembuh tapi dengan resiko masih meninggalkan begitu banyak bekas. Itu mengapa bagi para pecinta, sudah menjadi resiko akan banyaknya bekas-bekas luka hati yang dideritanya.

Dan luka yang paling menyakitkan adalah melihatnya mengabaikan diri kita, seolah bidadari yang sudah dicuri selendangnya tapi sang pencuri tak mengembalikannya sehingga dia hanya bisa menatap bulan karena tak bisa lagi mencapainya.

Atau seperti layaknya para pecinta itu yang masih juga bisa sabar ketika dirinya begitu sering dilukai, begitu sering diabaikan, karena mereka meyakini, jika cinta memang takkan selancar jalan tol, ataupun semulus lembaran kertas, ada kalanya cinta layaknya pedang, yang akan menikam dan melukai kita jika kita tidak pandai dalam merawatnya.

Lalu bagaimana caranya agar rindu yang hadir itu takkan berefek pada diri kita, setidaknya ada beberapa hal yang sering dilakukan para korban-korban patah itu, dan mungkin juga ini akan dilakukan mereka yang berusaha menjada diri agar tidak lagi gagal dalam menjalin sebuah hubungan dan kecewa berlebihan.

Menangis.

Ya, pertama kali bagi para korban itu biasanya menangis, menangislah, sesalilah semuanya, bahkan jika perlu salahkan dirimu dan salahkan dirinya dengan kesalahan yang benar salah, ini akan memberikanmu dorongan untuk menjadi lebih sedih lagi dan nantinya kamu bakal lebih lega, jika perlu menangislah sampai engkau bisa minum dengan air matamu sendiri. (by Wira)

Menatap masa depan dengan lebih optimis.

Ada yang lagi dipersiapkan untukmu, ada yang sedang menunggumu dengan setia, dan ada yang sedang memperjuangkanmu. Katakan kalimat-kalimat itu yang akan sedikit memberikan dorongan bahwa kesedihan harusnya berlalu, tukang ojek saja yang begitu lelah menunggu dan terkadang tak mendapatkan penumpangpun esok harinya masih tetap berangkat mangkal untuk mencari penumpang lagi. So, mulailah mencari-cari apa saja yang hilang selama ini karena terlalu sibuk dengannya, perbanyak belajar apa saja yang menurutmu perlu, dan jangan lupa untuk lebih banyaklah senyum, tapi perlu diingat, senyumlah untuk semua orang, tapi hatimu jangan. (JANGAN)

Mencari makna dibalik kegagalan.

Nah, akhirnya langkah terakhir ya coba diselami lagi dalamnya samudera kegagalan itu, dan akan sampai mana dasarnya. Coba engkau cek dalam dirimu, apa yang kurang yang ada padamu, karena mungkin bisa jadi momen ini adalah saat yang tepat buatmu untuk memperbaiki diri. Tentunya akan banyak hal yang bisa engkau koreksi, entah itu karena terlalu terlena, terlalu cuek atau bahkan karena engkau merasa dialah sang pemilik hatimu maka engkau lebih sering merasakan luka daripada kelukaan itu sendiri.

Setelah ketika hal itu kamu lakukan, maka mulailah tetapkan tujuan hidupmu kembali, bergaullah dengan siapa saja yang menurutmu akan membantumu, hubungi sahabat-sahabat yang peduli padamu, mereka yang memandangmu bukan karena engkau berkulit putih, anak baik atau bahkan anak dari orang kaya, tapi mereka yang memandangmu apa adanya dirimu, karena mereka adalah teman-teman terbaik yang akan selalu mendukungmu meskipun saat itu engkau sedang tak butuh mereka sekalipun. Dan tentunya cobalah untuk saling berbagi pengalaman, mencari cari apa saja yang pernah dilakukan, ceritakan dan semoga engkau sedikit banyak rindu yang tadinya itu sangat membuatmu terpuruk, hanya akan jadi bahan candaan yang tidak lucu dan tentunya tidak melukai juga.

Kesimpulannya, merindulah jika rindu itu memang benar-benar hadir dalam hadirmu, karena tidak semua yang kita lawan lantas kita akan menang, berdamailah dengannya, karena bisa jadi itu akan membuatmu menjadi lebih bahagia.

Ditulis ketika mentari bersinar terang, seolah mengatakan, aku tetap bersinar meskipun beberapa hari yang lalu aku ditutupi oleh awan-awan itu.

By Andriyas Efendi

 

Melati aku benci kamu

Ada yang menarik pada beberapa kisah yang terjadi pada setiap orang. Begitu juga tentang dia yang mungkin dulu engkau cintai sekarang cuma jadi sebuah kenangan pahit yang pahitnya itu udah ngelebihi kopi, tu ngapa mungkin saat ini kopi bukanlah teman yang tepat untuk menemani hari-harimu. Tetapi tidak seperti bunga melati sesungguhnya yang putih bersih ataupun yang beraroma begitu wangi.

Melati, dia pergi dan meninggalkanku, sendiri disini menatap layar kosong yang disebut katanya si sindrom kertas putih, dimana ide dan isi kepala hanya terpaut padanya dan tidak menemukan satupun alasan kuat yang akan bisa membuatmu menjadi berfikir secara normal kembali. Karena seolah hidupmu yang separuh lagi udah direnggut, kembalikan semua yang telah engkau ambil dariku, kemana engkau bawa janji-janji manis itu, sekarang setelah kuingat secara jelas semuanya, engkau malah pergi begitu saja meninggalkanku.

Apa segitu tidak berartikan diriku dimatamu? Atau bagaimana sebenarnya engkau memandangku selama ini? Siapakah aku? Dimana aku? Bahkan apa sebenarnya aku ini?

Itu adalah beberapa kalimat yang keluar dari orang yang galau ya, bukan berarti representasi dari perasaan yang penulis rasakan, karena ada kala kita harus masuk kedalam sebuah kondisi dimana kita harus benar-benar merasakan apa yang orang lain rasakan sehingga kita bisa kembali menuliskan kisah tersebut secara gamblang dan jelas.

Beberapa hari ini udah disibukkan sama kerjaan yang bisa dikatakan capek dijari dan pusing dikepala. Seolah rasa mau pecah saja ni kepala, ditambah deadline yang mencekik serta pekerjaan yang tak ada todolistnya, jadi aku serasa mengawang-awang, membayangkan bayanganmu hadir didalamnya. Eh,

Tak butuh waktu lama untuk benci terhadap seseorang, apa lagi jika dia yang pernah engkau anggap sebagai teman hidupmu, tempatmu berbagi kisah, cerita serta curhat tentang masalah-masalah yang pernah engkau hadapi. Tak perlu waktu lama untuk berusaha untuk melukai diri dengan cara membuat diri ini benci kepadanya. Karena tentunya itu akan bertolak belakang dengan prinsip yang selama ini kamu pegang. Untuk tidak membenci siapapun, tetapi jika engkau tidak membencinya, lantas percaya atau tidak kamu hanya akan jadi manusia baperan yang mungkin kisah kasihmu akan jadi sebuah legenda, yaitu legenda “Ketika cintamu bertepuk sebelah tangan”.

Malam jum’at, gerimis hujan diluar sana, dan aku meringkuk kedinginan didalam kamar dikarenakan sudah 2 hari ini pulang kerja diguyur hujan. Pas ujan-ujanan rasa dingin itu gak kerasa sama sekali, karena mungkin lebih dingin sikapmu kepadaku akhir-akhir ini. Tapi sampai rumah ya tetep aja, tetes demi tetes air mata hidung itu mulai mengalir. Dan kedatangannya tak bisa diprediksi, terkadang dia hadir begitu saja, seperti perasaan ini yang kadang muncul begitu saja tanpa melihat apakah ini saat yang tepat atau tidak.

Melati, keindahan yang jangan cuma dipetik, tapi harus dicium wanginya disiram tubuhnya, sehingga semakin hari melati tersebut makin tumbuh menjadi dewasa, meskipun pada akhirnya akan layu dan bahkan potel juga dari dahannya. Itu siklus hidup melati, lalu bagaimana dengan dirimu? Yang aku anggap sebagai melatiku.

Aku tak tahu tentang melatiku, karena ketika aku menanamnya dengan hati-hati ternyata dia tidak hanya tumbuh mendewasa tetapi sesaat dia berubah menjadi mawar yang berduri, indah dan harum wanginya, tapi tubuhnya berduri dan bisa melukai.

Tak semua keindahan itu akan memberikan kebahagiaan, dan tak semua yang kelihatannya indah dan baik akan bener-bener indah. Indah sebagai kata sifat yang merepresentasikan sebuah keadaan yang membuat mata terbelalak dan sejenak tidak bisa berfikir dan hanya bisa melihatnya terpaku, terdiam dan tersenyum melihatnya tumbuh menjadi melati yang benar-benar melati.

Bencilah melati itu jika memang dia berubah menjadi mawar, karena itu sudah tidak lagi pada tempatnya, dia sudah mulai berubah menjadi sosok yang lain. Yang mungkin engkau tidak akan lagi mengenalnya, bukan karena sudah lupa tapi engkau hanya tidakk menyangka bahwa dia berubah sedemikian rupa.

Melati, aku membencimu bukan berati aku tak menyukaimu, jika memang melati itu mulai berduri maka apalah daya diriku yang hanya bisa membiarkan diri ini tertusuk oleh dirimu, karena aku tak mau hanya memetik dirimu, yang ingin kulakukan adalah merawat dan menjadikanmu melati yang sesungguhnya. Karena itu semua bukan karena betapa besar rasa sukaku padamu, tapi itu lebih kepada aku yang sudah menjadikan diri ini tempat engkau kembali untuk lebih mendewasa lagi dan merengkuh kesejatian sebagai melati yang harum mewangi.

Lalu ketika engkau ingat melati sebagai ekspresi perandaian dirimu, apa yang engkau ingat, jujur saja awalnya akan bahagia-bahagia saja, tetapi lama kelamaan akan terasa sekali kehadirannya sudah tak lagi ada disisimu, melainkan dia sudah dipindah ketempat yang lain, mungkin sekali karena tidak cocok hidup ditempat yang lama, maka dia harus pindah mengisi kekosongan energi akibat ditempatkan ditempat yang tidak seharusnya.

Hujan beberapa hari ini seolah memberikan jadwal yang teratur agar kamu bisa lagi menyesuaikan dengan keadaan disekitarmu, kamu harus merasa lebih peka lagi untuk menatap bagaimana alam ini memperlakukan isinya. Seperti melati yang harus kembali berinteraksi lagi dengan tanah yang baru, dan mungkin pot yang baru, atau bahkan merelakan dirinya untuk dipetik oleh tangan-tangan jahil. Hujan disenja hari secara tidak langsung membuat ekspresi yang merasakan air tetesannya menjadi berbeda, yang dahulu tetes demi tetes membuatku tersenyum karena teringat akan melati yang akan disiram oleh air dari langit dan yang akan menyuburkannya, tetapi kali ini air itu bukan mendatangkan kesenangan, tetapi sedikit duka yang mungkin saja menjadikannya kebal terhadap derasnya hujan diluar sana, dan tetap memandangnya sebagai berjuta-juta panah yang tak akan sampai menusuk hati, karena hatinya serasa udah kebal, bukan karena kuat, melainkan karena begitu pedih dan sakitnya luka itu sehingga sampai tak bisa lagi mengeluh untuk mengatakan sakit.

Tapi sebagai pengagum melati, mungkin engkau hanya akan diam dan sejenak memandang melati tersebut, maka cobalah tersenyum padanya, dan katakan padanya “Melati, aku benci kamu”.

By Andriyas Efendi
Pekanbaru

Dibawah langit yang sama

Perlahan matahari mulai tenggelam, pertanda akan datangnya sang malam. Ini merupakan fase dari salah satu tugas matahari yang selalu menerangi bumi dengan cahayanya yang penuh dengan berjuta manfaat. Aku masih terpaku menatap langit yang perlahan cahaya birunya mulai hilang dan perlahan digantikan oleh cahaya mega merahnya pertanda bahwa siang akan berlalu. Bagi siapa saja yang pernah memperhatikan dengan benar-benar mengenai proses kejadian alam ini, pasti sudah benar-benar mengerti tentang apa arti dari kehidupan sebenarnya.
Sejenak melihat kejadian alam menjadikan diri kita akan lebih dalam lagi dalam mengenal kehidupan ini. Seperti juga aku, yang masih begitu perlu banyak belajar lagi. Aku akan selalu berusaha menatap senja itu dan mencari-cari apa sebenarnya makna yang tersembunyi didalamnya.

Karena jika kita terbiasa melihat yang jelas didepan mata dan tak mampu melihat lebih jauh kedalam maka aku gak akan berkembang, yang ada malahan aku bakal diam ditempat. Padahal hidup ini ya harus terus move, terus gerak dan jalan.

Senja, denganmu aku bisa terpaku sejenak menatap perubahan alam ini, sejenak aku bisa meluangkan beberapa waktuku untuk mengingat kejadian-kejadian apa saja yang pernah terjadi kala waktu matahari itu mulai tenggelam. Aku tak mengerti mengenai apa arti sebenarnya dari senja, apa yang dirasakan setiap orang mengenai senja, tetapi yang aku rasakan saat menatap senja hari, yang kuingat hanya kumpulan-kumpulan penyesalan yang perlahan mulai hilang layaknya matahari yang tenggelam, tetapi esok paginya terbit lagi dan begitu terus, hilang dan muncul kembali.

Seolah diri ini sedang dipermainkan dengan permainan yang begitu halus, karena permainan ini bukanlah mainan ketika kecil dulu yang jika kita lari, kesandung dan terjatuh lantas terluka, kita tak pernah merasakan bingung ataupun tak mengerti kenapa kita terluka, ini luka yang penuh dengan ketidak jelasan. Luka itu bukanlah luka yang nampak jelas diluarnya, melainkan luka yang bisa membuatmu menjadi orang yang tegar, karena berusaha menyembunyikan segala kesedihanmu. Luka yang bisa membuatmu tersenyum pada dia dan siapa saja yang melukaimu.
Luka yang kamu teringat akan dirinya bukannya semakin sembuh, tetapi luka itu serasa semakin lebar, perasaan tidak terima, perasaan ingin balas dendam dan bahkan perasaan untuk melampiaskan kesemuanya itu. Lantas apakah selalu setiap senja hanya akan datang perasaan-perasaan kita yang dipermainkan, apakah kedatangan senja hanya selalu berkutat mengenai patah hati?

Apakah senja begitu bersalah sehingga dia layak dipersalahkan, apakah jika suatu ketika terjadi kejadian indah kala senja itu lantas engkau mengatakan “Senja, hadirmu mendatangkan sejuta kebahagiaan”, atau engkau akan mengatakan “Senja, luka yang engkau hadirkan belum juga sembuh, tetapi engkau sudah menambahnya dengan luka yang baru”.
Senja tidak bersalah, dia bukan hanya sebagai pelampiasan kesedihan banyak orang, tetapi sebenarnya senja itu ingin menunjukkan jika aku dan kamu saat ini sedang menyaksikan suatu hal yang sama, menunjukkan jika sebenarnya kita itu hidup disatu atap yang sama.

Jika memang kita dipisahkan, tentunya masih berada dilangit yang sama. Ya sama, langit kita sama, bahkan sampai kita matipun, langitnya tetep sama. Tapi apakah kita menyadari jika kita sebenarnya ada untuk bersama? Apakah jika kita dipisahkan lantas kita pasti berpisah? Begitu juga apakah jika kita dipersatukan, kita benar-benar bersatu?
Tentunya akan tetap ada yang namanya perbedaan, yang mungkin terlalu sulit untuk dimengerti dan bahkan mungkin terlalu rumit juga untuk dijelaskan. Itu mengapa terkadang luka itu muncul tanpa sebab, ataupun jika sebabnya ada, tetapi rasa yang dirasakan pastinya tak bakal bisa benar-benar menunjukkan rasa yang sebenarnya.

Karena ketika kita berada ditempat yang sama, lantas apakah kita benar-benar berada ditempat yang sama? Bukankah jeruji-jeruji yang menghalangi aku dan kamu bersatu itu tetap ada, bukankah semua yang kita lakukan juga bakal bisa jadi pemicu yang suatu saat kelak akan memisahkan kita lagi.

Setidaknya jika kita berada dilangit yang sama, maka usahakan kita memiliki visi yang sama, serta misi yang akan kita jalankan bersama juga, karena seperti kata orang-orang, melakukan hal bersama-sama itu akan menjadikan pekerjaan akan lebih ringan, tetapi disini bukan hanya mengenai membagi satu pekerjaan menjadi banyak, melainkan menentukan kerja masing-masin, sehingga akan tercipta sebuah sinergi yang akan menyatukan kita.

By Andriyas Efendi
Pekanbaru

Seperti juga bulan, aku juga bisa merindu

Mungkin tak semestinya ini semua diungkapkan, karena tak semua kalimat akan sama maknanya ketika yang membaca berbeda, tetapi tak ada kalimat yang tak bisa dimengerti. Karena kalimat merupakan salah satu cara atau gaya bahasa seseorang untuk menyampaikan sesuatu, ada yang menggunakan bahasa isyarat dan ada juga yang terang-terangan mengungkapkannya. Terkadang itu yang membuatnya menjadi mudah dimengerti. Seperti juga bulan, aku juga bisa merindu, kalimat ini buat anak-anak jaman 90an kayaknya familiar banget, kala itu masih awal-awalnya punya hape, dan beberapa lagu juga ada yang sampai sekarang masih terkenang, kalo ndak salah lagunya siti nurhaliza yang judulnya “Wulan merindu”.

Apa yang terjadi belakangan ini terhadap diriku setidaknya membuka sedikit cakrawala lagi dalam memandang hidup ini, seolah akan menunjukkan ke sebuah titik dimana tujuan hidup kita ini menjadi jelas, jadi bukan hanya sekedar mengalir bagai air begitu saja, tapi jelas tujuannya menuju ke arah yang lebih rendah. Itu jika mengambil filosofi air, tapi berlaku juga bagi para kapal, yang kemanapun dia berlayar, dia juga pasti tahu tujuan dermaga tempat dia berlabuh dan nantinya untuk berhenti dan memutuskan untuk menetap didermaga itu.

Seperti juga pesawat terbang, yang dalam satu waktu bisa berpindah-pindah tujuan, terkadang dalam perjalanan akan terjadi gejolak yang menghambat atau bisa lancar seperti apa adanya. Jadwal penerbangan yang tidak menentu juga terkadang menjadikan proses menunggu menjadi lebih lama lagi, tetapi tetap saja, akan ada kepastian berapa lama para penumpang akan menunggu.

Halah, ngomong apa ini. Ada kala saat-saat terburuk bagi seseorang untuk memutuskan menyendiri, karena tidak selamanya sendiri itu akan memberikan efek yang baik, ada kalanya menyendiri akan menjadikanmu menjadi lebih terpuruk lagi.
Apalagi jika yang ada didalam benakmu hanyalah hal-hal yang menyakitkan dirimu untuk diingat, apalagi dikenangkan. Tidak semua yang kita ingat adalah hal-hal yang bahagia, pastinya ada kala sesuatu yang berusaha keras kita lupakan, dia akan hadir begitu saja. Seperti angin yang terkadang hadirnya memberikan kesejukan, tetapi jika terlalu kencang juga bakalan bikin ribet.

Kata menjadi tak berarti lagi ketika sudah tak ada lagi rasa dalam hati, karena sedikit banyaknya kata merupakan hasil dari olahan fikiran dan yang dirasakan dengan hati. Apa yang dirasakan tentunya juga akan sedikit banyak mempengaruhi apa yang akan diucapkan dan yang akan tertuliskan.

Seperti juga rindu, ada kalanya yang dirindukan adalah dia yang selama ini sudah engkau yakinkan dan engkau pilih melalui beberapa proses pendekatan, atau yang dirindukan adalah masa-masa bersamanya. Atau bahkan hal-hal yang kamu benci sekalipun akan bisa memberikan efek rindu yang bisa jadi tidak terbendung.

Lalu salahkah rindu jika kehadirannya hanya mendatangkan luka baru? Karena ada beberapa luka yang bisa sembuh tapi dengan resiko masih meninggalkan begitu banyak bekas. Itu mengapa bagi para pecinta, sudah menjadi resiko akan banyaknya bekas-bekas luka hati yang dideritanya.

Dan luka yang paling menyakitkan adalah melihatnya mengabaikan diri kita, seolah bidadari yang sudah dicuri selendangnya tapi sang pencuri tak mengembalikannya sehingga dia hanya bisa menatap bulan karena tak bisa lagi mencapainya.
Atau seperti layaknya para pecinta itu yang masih juga bisa sabar ketika dirinya begitu sering dilukai, begitu sering diabaikan, karena mereka meyakini, jika cinta memang takkan selancar jalan tol, ataupun semulus lembaran kertas, ada kalanya cinta layaknya pedang, yang akan menikam dan melukai kita jika kita tidak pandai dalam merawatnya.

Lalu bagaimana caranya agar rindu yang hadir itu takkan berefek pada diri kita, setidaknya ada beberapa hal yang sering dilakukan para korban-korban patah itu, dan mungkin juga ini akan dilakukan mereka yang berusaha menjada diri agar tidak lagi gagal dalam menjalin sebuah hubungan dan kecewa berlebihan.

Menangis.
Ya, pertama kali bagi para korban itu biasanya menangis, menangislah, sesalilah semuanya, bahkan jika perlu salahkan dirimu dan salahkan dirinya dengan kesalahan yang benar salah, ini akan memberikanmu dorongan untuk menjadi lebih sedih lagi dan nantinya kamu bakal lebih lega, jika perlu menangislah sampai engkau bisa minum dengan air matamu sendiri. (by Wira)

Menatap masa depan dengan lebih optimis.
Ada yang lagi dipersiapkan untukmu, ada yang sedang menunggumu dengan setia, dan ada yang sedang memperjuangkanmu. Katakan kalimat-kalimat itu yang akan sedikit memberikan dorongan bahwa kesedihan harusnya berlalu, tukang ojek saja yang begitu lelah menunggu dan terkadang tak mendapatkan penumpangpun esok harinya masih tetap berangkat mangkal untuk mencari penumpang lagi. So, mulailah mencari-cari apa saja yang hilang selama ini karena terlalu sibuk dengannya, perbanyak belajar apa saja yang menurutmu perlu, dan jangan lupa untuk lebih banyaklah senyum, tapi perlu diingat, senyumlah untuk semua orang, tapi hatimu jangan. (JANGAN)

Mencari makna dibalik kegagalan.
Nah, akhirnya langkah terakhir ya coba diselami lagi dalamnya samudera kegagalan itu, dan akan sampai mana dasarnya. Coba engkau cek dalam dirimu, apa yang kurang yang ada padamu, karena mungkin bisa jadi momen ini adalah saat yang tepat buatmu untuk memperbaiki diri. Tentunya akan banyak hal yang bisa engkau koreksi, entah itu karena terlalu terlena, terlalu cuek atau bahkan karena engkau merasa dialah sang pemilik hatimu maka engkau lebih sering merasakan luka daripada kelukaan itu sendiri.

Setelah ketika hal itu kamu lakukan, maka mulailah tetapkan tujuan hidupmu kembali, bergaullah dengan siapa saja yang menurutmu akan membantumu, hubungi sahabat-sahabat yang peduli padamu, mereka yang memandangmu bukan karena engkau berkulit putih, anak baik atau bahkan anak dari orang kaya, tapi mereka yang memandangmu apa adanya dirimu, karena mereka adalah teman-teman terbaik yang akan selalu mendukungmu meskipun saat itu engkau sedang tak butuh mereka sekalipun. Dan tentunya cobalah untuk saling berbagi pengalaman, mencari cari apa saja yang pernah dilakukan, ceritakan dan semoga engkau sedikit banyak rindu yang tadinya itu sangat membuatmu terpuruk, hanya akan jadi bahan candaan yang tidak lucu dan tentunya tidak melukai juga.

Kesimpulannya, merindulah jika rindu itu memang benar-benar hadir dalam hadirmu, karena tidak semua yang kita lawan lantas kita akan menang, berdamailah dengannya, karena bisa jadi itu akan membuatmu menjadi lebih bahagia.

Ditulis ketika mentari bersinar terang, seolah mengatakan, aku tetap bersinar meskipun beberapa hari yang lalu aku ditutupi oleh awan-awan itu.

By Andriyas Efendi

Harus Ikhlas

Saat kita mengalami suatu peristiwa tentunya bakal bermacam-macam rasa yang bisa kita rasakan. Kadang senang, kadang sedih, dan mungkin lebih seringnya sedih. Tapi mentari harus bersinar, detik jam-pun harus terus berdetak. Hidup ini tidak bisa berhenti begitu saja. Ketika kita memikirkan sebuah kemungkinan yang akan pernah terjadi, mungkin akan ada sebuah analisa singkat tentang kemungkinan terburuk yang sebenarnya juga belum terjadi.

Tapi itulah hidup, terkadang bayang-bayang yang semu itu akan selalu hadir dalam angan serta bayangan manusia. Tak bisa kita tolak dan sekalipun kita coba tuk menghentikannya meski hanya sejenak. Dia akan selalu berjalan dan mengalir menuju muaranya kelak akan berlabuh.

Ikhlas bukan suatu kata yang mudah, tapi tidak ada jalan lain, semuanya pasti akan terjadi, dan tak mungkin kita yang lemah ini akan bisa melawannya. Karena kita takkan bisa hidup dengan penuh kebencian, dan jika kita memilih untuk hidup dengan membenci, apa lantas itu akan berguna, tentunya selain buang-buang waktu, itu juga akan membuatmu rugi.

Benci bisa membuatmu berhenti berkembang, berhenti optimis menatap masa depan, dan bahkan membuatmu stack dan berhenti ditempat. Padahal akan begitu banyak hal yang bisa engkau lakukan jika engkau setidaknya mencoba untuk menerima semua yang terjadi, dan membiarkannya mengalir begitu saja, dan cobalah apa saja yang telah engkau dapatkan ketika mencoba untuk ikhlas.

Tenang, ya ketenangan, tak semua dari kita bisa merasakan hal tersebut, bahkan terkadang akupun juga tidak bisa, tetapi, ketenangan bukanlah sebuah hal yang datang begitu saja, tetapi merupakan hasil sebab akibat dari peristiwa yang terjadi. Akan ada resiko dalam setiap hal, bahkan untuk mencinta pun kita harus siap untuk tersakiti, ini terjadi karena kita memaksakan diri kita untuk bahagia, padahal yang membuat bahagia itu bukanlah dia yang kamu cinta, tapi kamulah sendiri yang cinta padanya yang akan membuatmu benar-benar bahagia.

Ketika dirimu mencintai, maka engkau melupakan begitu banyak logika, begitu banyak luka yang akan engkau rasakan, tapi cinta tidak menyakiti, sebenarnya dia memberikan rasa bahagia, hanya karena rasa benci yang muncul yang akan menjadikan luka tersebut makin membesar dan mungkin akan membuat serta menjatuhkanmu.

Bahagia juga bukan cara, tapi dia adalah akibat, akibat dari sebuah proses yang panjang yang mungkin kamu harus luka berdarah-darah untuk bisa merasakan bahagia. Tetapi apakah bahagia itu sebuah tujuan, ataukah kita merasa tidak bahagia lantas hidup kita tidak bermakna. Please deh yas, cobalah memandang hidup bukan dari apa yang kamu rasakan. Tapi, coba lihatlah disekitarmu, mereka yang hidupnya tak sebaik dirimu, yang mungkin saja tidak seberuntung dirimu, atau mungkin jangan-jangan mereka ingin sekali hidup seperti dirimu.

Terus mengeluh dan membuat diri ini semakin lemah gak akan bisa buat kamu bahagia, karena sekali lagi bukan bahagia tujuanmu, karena yang memberi bahagia itu bukan kamu. Dan bahagia juga bukan soal yang kamu rasakan tapi cobalah menerka apa yang mererka rasakan, apakah selama ini kamu sudah membuat begitu banyak kebahagiaan? Ataukah kehadiranmu hanyalah menghadirkan luka semata?

Saat kita menerima sesuatu dengan ikhlas, maka bahagia pasti yang dirasakan. Pasti.

Apapun itu, kita hanya bisa berusaha, hasilnya tentu akan sejalan dengan yang kita usahakan. Rasa sakit yang dirasakan orang berbeda-beda, bahkan tak mungkin sama. Ya ini soal rasa ya, bukan standar-standar yang biasa dipake buat menyetarakan status sebuah keadaan. Ini soal yang dirasakan bukan yang ditetapkan. Jadi apakah kamu merasa bahagia?
Pertanyaan itu pasti ndak bisa dijawab, karena sekali lagi selama kita memikirkan apa kita bahagia atau tidak, sebenarnya kita itu sedang tidak bahagia, orang yang bahagia itu tidak perlu diungkapkan, hanya perlu dirasakan.

Sayang, terima kasih untuk semua,,,

Ya ini ungkapan rasa terima kasih untukmu, aku menyadari diri ini tak sempurna, aku sadar bahwa diri ini bukanlah apa-apa, dan siapa-siapa.
Yang jelas, denganmu aku bisa berfikir maju kedepan, aku semakin tahu kemana arah hidup ini akan aku usahakan.
Aku tak bisa mengerti semua hal, aku juga tak bisa untuk memaksa diriku mengerti semua hal, karena akan ada selalu ada titik dimana kamu harus menetapkan bahwa kamu harus berhenti untuk memaksa diri.

Akan ada masa, kamu harus merasakan, bukan lagi memaksakan, jika yang kamu rasakan bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin bisa diragukan bahwa itu semua merupakan rasa yang kamu miliki.

Jika diri ini sangat jauh dari cahaya, maka apakah masih begitu penting pendapat naluri? Karena jangan-jangan fikiran jahat itulah yang membuat dan akan menghancurkan kita.

Ketika dahulu kuliah, sang prof ganteng itu selalu memberikan nasehat untuk selalu melihat suatu hal dari sisi positifnya, karena percuma juga kalo yang dilihat negatif, gak bakal menimbulkan efek apa-apa loh. Harus positif.

Semua ini seolah memberikan sebuah garis titik temu, yang bukan sejajar, tetapi harus bersilangan agar tercapai sebuah titik yang nantinya kita juga akan dipertemukan kembali.

Lalu apakah titik temu itu akan memberikan kebahagiaan? Please jangan tanya itu,

Harus ikhlas, ketika kita melepaskan sesuatu, jika memang itu akan jadi milik kita, maka dia akan kembali kepada kita, dan jika tidak? Mungkin itu bukan milik kita, maka tunggu saja mana yang akan jadi milikmu.

Aku nulis ini dibarengi ama lagu karaokenya si “Marya Isma”, itu lo artis smule, yang suaranya unik ra ketulungan. (Hahahaha)

Ditulis di Kubang raya, pekanbaru saat hujan baru saja berhenti.
15 September 2016
Oleh Andriyas Efendi

Meski kau terus sakiti aku

Hari gini ngomongin patah hati? Klise banget kan ya,, kayaknya udah basi banget gitu, dijaman yang serba modern kayak gini kok masih juga ada bahasan tentang sakit hati. Sebenernya ini niat nulis atau pengen bergalau ria aja? Nah pertanyaan itu yang seringkali hinggap dikepalaku, seolah mengaung-ngaung untuk segera diungkapkan. Entah mengapa kalo sudah berbicara soal sakit hati tentunya kita tiba-tiba akan merasa menjadi orang yang paling tersakiti. Bukan cuma sekelas patah hati loh, tapi bahkan bisa dikategorikan kedalam sebuah patah hati yang begitu dalam, bahkan menjadi patah hati yang terdalam.

Seperti juga sumur, tentunya pasti memiliki dasar. Begitu juga diri ini, sedalam apapun yang kita rasakan pasti suatu saat akan muncul sebuah titik dimana kita sudah tak merasakan lagi apa itu patah hati atau bagaimana rasanya tersakiti. Karena dia yang sudah terbiasa patah hati, maka sakit itu sudah tak dirasakan. Begitu juga tangisan, mereka yang sudah terbiasa menangis, lama-kelamaan yo pasti bakal jadi lebih strong. Itu lah mengapa jika engkau masih merasakan semua perasaan itu, bersyukurlah, itu artinya engkau masih memiliki perasaan dan rasa sakit.

Rintik-rintik hujan jatuh kebumi, dengan alunan suara yang begitu merdu untuk didengarkan, begitu indah untuk dikenangkan dan begitu sakit untuk dirasakan. Ada berjuta manfaat serta keuntungan yang didapat ketika hujan turun, seperti ketika saatnya pulang kerja dan ternyata hujan, pasti yo beruntung kamu masih dikantor jadi ya gak kehujanan kan.

Lalu apa hubungannya dengan lagu yang ada liriknya “Meski kau terus sakiti aku”, nah sebenarnya apa iya kalo cuma kita yang tersakiti? Atau jangan-jangan malahan dia yang menyakiti bahkan merasakan rasa sakit yang lebih dalam. Tetapi, seperti drama kebanyakan serta kejadian yang telah terjadi disekitar kita, tentunya biasanya yang bersalah adalah orang yang begitu egois dan bener-bener gak mikirin maunya orang lain gimana.

Itulah kenapa Tipe-X dalam sebuah lirik lagunya menyebutkan, “Caci aku, maki aku, sakiti aku, tapi jangan diam”. Bentuk rasa sakit dari yang paling sakit adalah “didiamkan”, pernah ngerasain? Tentu lebih sering lah ya, iya dia yang didiamkan akan benar-benar tersakiti, karena akan dibiarkan didalam ketidakjelasan yang bener-bener tidak jelas. Itulah mengapa sampek ada muncul lagi film sekuel “AADC”, ini mau nunjukin kalo sebenarnya cowok itu ya tukang PHP (didalam film).

Kalo dikehidupan nyata? Wooohh berani bilang begitu mungkin belum ketemu saya kali ya, (sombong). Bukan gitu, tapi tak semua laki-laki seperti itu, bahkan para mbak-mbak ni bakal lebih sensi ketika sang cowok tiba-tiba menghilang ataupun tiba-tiba kok jarang ngehubungi. N bakalan disangkut pautin tu sama filmnya.

Bukannya ini melakukan pembelaan, tapi tidak semua laki-laki, bersalah padamu. Contohnya akuuuu, (nyanyi). Kalo itu tadi lagunya Meggi Z ya. Intinya adalah, selektif lah dalam menilai seseorang, jangan hanya karena kegagalan yang diakibatkan seseorang eh malah kita jadi salah menilai. Bisa jadi, orang lain akan berbeda kan ya.

Lalu terkadang ada rasa sakit yang mengharuskan kita untuk bertahan, “Kucoba tuk bertahan, dalam kisah ini”, lagu lagi yaa, iya bertahan, ini seperti sebuah karang yang berusaha berdiri tegak karena diterpa ombak yang begitu keras, ataupun seperti tiang bendera yang berusaha tetap berdiri meskipun terhuyun kesana kemari dikarenakan angin yang begitu kencangnya. Bertahan bukanlah yang mudah, akan ada begitu banyak perjuangan serta yang akan dikorbankan. Eh mungkin belum kefikiran apa yang kamu perjuangkan dan kamu korbankan? Sekilas memang tak kasat mata, tetapi jika kita lebih teliti lagi, pasti ya bakalan jelas ketahuan itu apa yang sebenarnya sedang menimpa kita dan sebenarnya akan bagaimana yang akan terjadi pada kita.

Seperti yang sering aku sampaikan, bahwa tidak ada kerugian bagi orang yang sabar, ini sebenarnya bukan nasehat buat orang sih, tapi lebih kepada buat diri aku sendiri, lha gimana, aku ini lo bukan tipe orang yang sabar, aku kalo ada yang jahat sama aku ya tak pencak-pencak. Apalagi kalo dia itu semena-mena, jangan sampai aku terbakar cemburu (eh). Karena pasti gak enak, baik di aku dan kamunya (bukan curhat), tu makanya kamu jangan lagi buat aku tersakiti (lagi-lagi bukan curhat). Jangan bikin aku diabaikan seolah engkau tak menganggap diriku lagi, karena aku bisa saja tak menganggap dirimu juga (bukan curhat lohh).

Hujan masih saja menerpa sore ini, di pekanbaru dikota tempat aku kembali menjauhkan diri dari desa tercintaku, desa tempat aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang, dan setelah pergi darinya yang terjadi malahan aku seperti hanya objek yang dengan pantasnya akan dijadikan korban dalam setiap kejadian yang begitu menguras perasaan.

Hujan ini turun memberikan jutaan berkah bagi banyak orang, dimulai dari dinginnya udara yang biasanya panas tentunya memberikan kesan sejuk bagi siapa saja. Dan airnya yang insyaAllah bersih akan memberikan kebasahan serta energi baru bagi kehidupan dimuka bumi ini. Meskipun anak-anak lain pada sibuk ngerjain entah apa itu, karena internetnya mati ya aku diam saja dan nulis dikit-dikit. Ya cuman bisa dikit karena mungkin kalo banyak ya bakalan galau lagi yang kejadian kan.

 

AESP

 

Tersadar

Pernahkah dikau dikecewakan? Atau bahkan kita menjadi salah satu faktor pembuat kecewa itu, seringkali kita dihadapkan pada situasi yang sesungguhnya benar-benar kita rasakan bahwa efek untuk diri kita kedepannya tidak jelas akan baik atau tidaknya. Ini bukanlah curhatan diri, tapi ini adalah sebuah refleksi diri yang mengalami begitu banyaknya gonjang-ganjing kehidupan yang bisa dikatakan sudah entah harus kemana lagi kaki ini berpijak. Tak tahu akan kemana arah yang kita tuju, dan seolah semuanya serasa menjadikan kita manusia yang semakin lama semakin jauh dengan kuasa yang pencipta.

Bulan tak lagi bersinar terang, begitu juga gemerlap bintang yang biasanya begitu indah terlihat, tetapi entah mengapa kali ini semuanya terlihat suram. Hanya gelap yang didefinisikan sebuah keadaan kekurangan cahaya. Apa ini juga refleksi dari diri ini? Apakah memang suasana diri ini sedang dalam keadaan gelap gulita? Apakah aku butuh cahaya?

Ya, sepertinya aku memang membutuhkannya. Lalu cahaya seperti apa yang aku butuhkan? Mungkin sedikit merenungi semua kejadian dan apa saja yang telah dialami bisa membuatku menemukan sebenarnya apa yang sedang aku cari saat ini. Sebagian dari kita mungkin begitu mudah dan sudah mendapatkan cahaya yang dia inginkan, tapi entah mengapa, tidak dengan diriku, entah mengapa seolah sedikit demi sedikit semuanya itu menjadi semakin suram dan bahkan hilang sama sekali.

Apa iya keinginan untuk tidak terlihat menonjol itu malah sebenarnya tombak yang menghujam kepada diri ini? Apa iya jika aku hanya menginginkan menjadi orang yang bersorak saja dan tidak menjadi pahlawan itu merupakan sebuah hal yang salah. Entah mengapa saat ini aku merasa kok sepertinya diri ini tiada berharga sama sekali. Semua yang telah aku capai bukan apa-apa, dan bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang telah didapatkan orang lain.

Lagi-lagi sepertinya alam ingin menunjukkan langkah yang tepat yang seharusnya aku tempuh sebelum mengambil sebuah keputusan.

Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu salah dan kita tetap melakukannya, lantas disebut apa diri kita ini?

Pernahkah kita merasa kecewa dengan diri kita sendiri atas apa saja yang pernah dilakukannya. Sepertinya memang sudah saatnya kita menata diri kembali, mengembalikan apa yang sudah terbiasa dilakukan. Menjadikannya sebuah teguran singkat yang kelaknya akan menjadikan kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.

AESP

Jangan tinggalkan aku

Jangan tinggalkan aku, kumohon kepadamu, tak sanggup diri ini, hidup tanpa dirimu. Mungkin sebagian dari kita pernah deh denger lagu itu, tepatnya itu lagunya siapa, jujur aja aku lupa. Lagu itu sebenernya pasti membekas di benak banyak orang kan ya. Atau mungkin jangan-jangan cuma gue aja kan ya. Oke, bukan lagunya yang sebenarnya mau dibahas, tapi lebih kepada yang kata orang-orang biasa disebut “makna” dari sebuah lagu. Bukanlah yang tertulis dengan jelasnya, tapi yang disampaikan dengan begitu banyak bahasa keindahan yang kita sendiri perlu menerka-nerka sebenarnya apa makna yang tersimpan didalamnya.

Aku seperti layaknya pepohonan yang diterpa angin, yang bergerak kesana kemari hanya karena terombang-ambing karena besarnya terpaan sang angin. Ini juga seperti layaknya bintang yang selalu bersinar terang tetapi tertutup awan, sehingga tak nampak lagi keindahannya. Aku sudah merasakan beberapa purnama bersamamu, setidaknya sudah 2 purnama, aku dan kamu menikmatinya bersama, melihat indahnya sang bulan yang memancarkan cahaya, menjadikannya begitu sempurna yang membentuk sebuah lingkaran terang yang dihiasi oleh cahaya-cahaya yang terbias dan terkena awan disekitarnya.

Seperti juga diriku, bulan purnama seolah memberikan sebuah pembelajaran yang begitu berharga, ini seperti kita sedang dinasehati dan diarahkan oleh kedua orang tua kita, yang terkadang maksud dan tujuan mereka itu masih tersirat, perlu waktu dan pemikiran tersendiri agar kita bisa merasakan dan benar-benar merasakan apa saja yang sebenarnya mereka inginkan. Aku dan kamu layaknya sepasang kekasih yang sedang benar-benar dimabuk asmara, ya kita sudah mabuk, kita seolah sudah merasa cocok satu sama lain, walaupun tak begitu mengenal, tapi entah mengapa diri dan hati ini rasanya sudah terpaut kepada dirimu.

Aku juga yakin begitu juga dengan dirimu, biasanya apa yang kita rasakan akan sama. Ini karena yang kita harapkan dan kita lakukan juga sama, sehingga ada sebuah sinyal tersendiri yang menjadikan apapun yang kita rasakan juga jadi sama. Seperti layaknya hamparan tanah kering yang begitu merindukan kemurahan sang hujan untuk menyiraminya. Aku ingin kita layaknya bumi dan hujan, yang satu sama lain saling membutuhkan dan saling memberi manfaat.

Hujan, ya hujan, apa yang teringat ketika hujan turun? Memori yang tentunya akan beterbangan ketika sang Hujan ini turun, apakah kebahagiaan, atau kesedihan yang sering muncul? Nah, kali ini entah mengapa ketika sang Hujan turun, ada rasa yang berbeda yang aku rasakan, jika hari-hari sebelumnya aku seolah takut menghadapi kenyataan yang sering muncul seiring jatuhnya tiap tetes dari Hujan yang membasahi bumi dan apa saja yang ditimpanya. Termasuk diriku, ada semacam sugesti yang menyirami diriku ketika tetesan hujan ini turun, seperti ada perasaan yang entah apa rasanya, yang gak tau itu rasa apa sebenarnya. Karena hujan selalu saja memberikan sebuah rasa Rindu. Ya rindu pada apapun yang ada dimasa lalu ketika hujan ini turun.

Hujan dan rindu seolah tak terpisahkan, karena mungkin sudah ditakdirkan seperti itu, melihat tanah-tanah yang kering dan berdebu, melihat daun-daun yang berguguran, tanaman-tanaman yang lalu, serta rasa panas yang dirasakan setiap makhluk hidup baik disiang maupun malam hari, seolah hanya satu yang paling ditunggu-tunggunya. Meskipun bagi yang kepanasan bisa saja menggunakan alat pendingin, tetapi tetap saja kehadiran hujan selalu saja diinginkan. Ini karena bukan hanya kita butuh air dalam tubuh, tetapi kita juga butuh sebuah rasa senang serta puas yang didapatkan ketika hujan telah turun. Dari tanah-tanah yang basah, tanaman yang kembali segar, serta makhluk-makhluk hidup yang selalu bergembira ketika datangnya hujan. Semoga hujan kali ini membawa berkah.

Teringat kisahku ketika sang hujan itu turun dan aku sedang dalam keadaan tak merindukannya, kala itu aku masih duduk di bangku SMK, aku yang masih kecil dan masih terbiasa terombang ambing dengan yang dinamakan arus kehidupan itu, pernah sesekali merasa sebal dan benci terhadap hadirnya sang hujan. Kala itu aku tak mampu membaca apa sebenarnya yang terjadi dari setiap tetesan yang turun dari langit itu. Atau aku yang saat itu belum bisa merasa lebih peka dengan keadaan sekitarku. Waktu itu seperti biasa hari minggu sore aku berangkat dari desaku menuju sebuah kota tempatku sekolah, setelah ashar aku bersiap dan berangkat menggunakan sepeda motor kesayanganku. Ditengah perjalanan, awan menunjukkan kegelapannya, dan aku merasa harus secepatnya sampai tujuan, sehingga kucoba memacu sepeda motor itu dengan lebih cepat, tetapi mungkin karena ini takdir, ditengah jalan hujan itu turun juga, aku sedikit menggerutu, kenapa ketika aku dijalan kok malah ujan? Kenapa gak ketika udah sampai atau ketika aku dirumah tadi ujannya sih? Semua kalimat menggerutu itu keluar dari dalam diriku, lalu kuputuskan untuk sejenak berhenti, banyak tempat yang sudah pernah jadi tempat persinggahanku ketika hujan turun, di SD f5, di tempat cucian mobil di Logas, di mesjid logas dekat simpang f6.

Dalam hatiku saat itu ketika aku berteduh, aku berusaha memantapkan diri bahwa ini adalah perjuanganku, ini adalah saat dimana aku akan tersenyum kelak ketika aku mengenang bagaimana hidupku ini diawali. Tak ada tujuan lain ketika aku berusaha selalu menerjang hujan itu, bahkan beberapa kali aku nekat dengan beraninya menerjang hujan yang begitu derasnya, dan disepanjang perjalanan yang kuingat adalah Aku harus sabar menghadapi semua ini, ini adalah proses yang kelak akan membawaku kedalam sebuah titik dimana aku merasa bahagia.

Bukan hanya ketika aku SMK ketika aku kuliah juga seringkali kejadian itu terus terulang, dan bahkan ada kebiasaan menarik yang aku lakukan, jika itu aku berangkat kesebuah tempat dan hujan biasanya aku bakal minggir berteduh atau memakai mantel, tapi jika itu adalah perjalanan pulang, biasanya aku tak pernah mau menggunakan mantel, ataupun berhenti sejenak untuk berteduh. Entah mengapa kala kuliah itu setiap tetesan dari sang Hujan begitu berharga untuk dilewatkan, bahkan ketika awan-awan mulai mendung dan rintik-rintik hujan mulai turun, aku malah selalu mencari alasan untuk keluar dari kos. Keluarnya bukan dengan tujuan yang jelas, melainkan tanpa tujuan dan akhirnya cuman naik motor muter-muter jogja dan nikmatin tiap tetes ujan itu.
Begitu juga ketika aku mengenal dirimu, beberapa kali tetesan hujan itu membuatku merasakan kehidupan yang begitu indah, waktu itu aku menjemputmu dari tempat kerja, entah kamu merasakan atau tidak, pernah sekali pas kita sampai di simpang lima, rintik-rintik hujan mulai turun, dan akupun bukannya mempercepat laju kendaraanku, melainkan kupelankan gas motorku, dan kututup mata sejenak dan menikmati tiap tetes yang kurasakan ditubuhku. Owh betapa indahnya dan bahagianya jika diri ini selalu menjadi seorang yang bisa menikmati tiap tetes hujan itu.
Seperti layaknya hujan yang deras sekalipun pasti bakal reda, akan berhenti dan bisa jadi dalam waktu yang lama takkan kembali lagi. Jika itu kita lihat mungkin kejam, tetapi ternyata tidak seperti itu, itulah cara hujan agar selalu dirindukan, karena meskipun sudah reda, air-air yang turun itu tetap memberikan begitu banyak manfaat kepada yang dibasahinya.

Aku ingin sekali menjadi seperti itu, aku tak bisa mengatakan bahwa aku akan selalu ada disampingmu, karena ini diluar batas kemampuanku, yang bisa aku inginkan adalah, aku ingin selalu menjadi hujan yang kau rindukan, dan kehadiranku akan memberikan berjuta manfaat dan kebahagiaan kepadamu.

Ditulis ketika Hujan begitu dirindukan di desaku, desa tercinta Sungai kuning.