Skip to content

Category: Curhat

Jalan terus

Dalam setiap aktifitas tentunya akan ada dimasa kita akan merasa kalau kegiatan yang kita lakukan gitu-gitu aja, atau istilahnya karena terlalu banyak melakukan aktifitas yang sama maka akan timbul rasa jenuh. Jenuh kerap kali akan menjadi sebuah pemicu seseoarang akan malas dalam melakukan suatu hal, ini dikarenakan biasanya orang yang suka jenuh merupakan orang yang suka dengan perkembangan, dan karena merasa diri ini tidak berkembang sama sekali, maka muncullah rasa jenuh itu.

Jenuh bukan hanya melulu mengenai pekerjaan, atau aktifitas harian, bahkan dalam membina sebuah hubungan, tentunya pasti akan pernah disatu titik tertentu kok merasa kalo kita kok gini-gini aja, chatting, telfon, and dll. Itu-itu aja aktifitasnya. Nah, ini juga berbahaya, bagi yang gak tau cara ngendaliinnya ya ujung-ujungnya bakalan diam gitu aja.

Lalu apa iya diam merupakan solusi yang bakal jadi yang terbaik? Ingat disini yang kita fikirkan bukan hanya mengenai yang terbenar ya, tapi apa itu yang terbaik. Apa gak ada solusi lain? Tentunya ada, tapi mungkin akan berbeda solusi bagi setiap orang. Ini dikarenakan kan yang ngejalani juga orang yang berbeda, itu mengapa masalah yang dihadapi oleh pasangan biasanya pasangan tersebutlah yang paling mengerti apa solusi terbaiknya.

Tapi perlu digaris bawahi juga, kalo seandainya solusi akhir adalah pisah, maka itu bukan solusi sebenarnya, itu hanya sebuah pembenaran untuk lari dari masalah tersebut. Tak ada luka yang tak terobati, tetapi luka tersebut tersisa apakah masih membekas atau tidak. Terkadang rasa sakit itu sudah hilang, tetapi bekas-bekasnya masih terlihat nyata.

Jalan terus, merupakan sebuah langkah untuk selalu berusaha maju kedepan, untuk selalu menjalankan semua apa saja yang selama ini dipercayai baik awalnya, maka lanjutkanlah sehingga akan bertemu bahwa keyakinan kita akan kebaikan itu benar-benar terjadi.

Apa yang menjadi keyakinanmu diawal tentunya sudah engkau pertimbangkan baik dan buruknya, jangan hanya baiknya saja ya, tentunya sedikit demi sedikit harus memulai untuk melihat apa saja yang buruk, jadi kalo seandainya kejadian bener yang buruk ya gak begitu kecewa, karena sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan tersebut.

Menjalani lagi semua yang engkau yakini baik itu juga merupakan sebuah tanda ataupun bukti akan kesetiaan yang engkau miliki, ini bukan hanya soal cinta, tetapi dalam berbagai hal, kesetiaan merupakan sebuah parameter apakah sebenarnya hidup seseorang memiliki makna atau tidak.

Bahkan setia disini bisa menghancurkan benteng-benteng rasa gengsi yang selama ini biasanya muncul dalam diri manusia. Misalnya, pernahkah terbayang ketika seorang majikan memiliki pembantu yang meskipun digaji tidak terlalu besar tapi begitu ikhlas memberikan yang terbaik untuk sang majikan.

Oke, mungkin contoh itu terlalu viral, bagaimana dengan seorang sahabat yang selalu setia hadir untuk teman-temannya. Bukankah itu juga merupakan sebuah kesetiaan yang begitu berharga, pernahkah terfikir oleh kita bahwa menerima keadaan diri kita yang begitu banyak kekurangan ini, dan ada orang yang mau dan ikhlas bersama kita dalam situasi apapun.

Nah, apapun kejadian yang dialami seseorang tentunya akan disangkut pautkan dengan semua yang terjadi di masa lalu, begitupun mengenai kesetiaan ini. Hati-hati dalam mengelola dan menjaganya, karena kebanyakan orang ketika sekali saja dikhianati maka selamanya dia tidak akan pernah percaya lagi.

Nah, ketika sudah merasakan yang namanya menderita karena rasa setia yang dipertaruhkan, solusinya ya “Jalan Terus”. Karena sang waktulah yang akan memperbaiki semua rasa sakit itu, dan menjadikannya sebuah kebahagiaan yang jika di renungi merupakan suatu yang berharga melebihi dunia dan seisinya.

Dari sebuah untaian canda yang terselip antara aku dan kamu. AESP

Bulan separuh

Kerlip bintang dimalam minggu ditambah bulan yang bersinar hanya separuh menambah petualangan malam ini menjadi lebih syahdu. Kali ini adalah kali pertama malam mingguku berada di sini, di kota pekanbaru. Sebuah tempat yang sebenarnya bisa dikatakan merupakan daerah kota terdekat aku dibesarkan, tapi aku tak pernah sekalipun berada disini dalam waktu yang lama. Mungkin kali ini harus dikurangi ego meninggalkan budaya yang tak ku mengerti ini dan berusaha untuk sama-sama maju berkembang.

Malam itu karena perut rasanya udah melilit, meskipun hatinya lagi seneng karena abis ditelfon sama kekasih tersayang, ya tetep aja pengen makan. Mungkin kalo kata orang ketika kita bersama dengan orang yang kita sayangi, maka kita akan selalu semangat dan kondisi tubuh tiba-tiba menjadi lebih sehat, anehnya kalo soal laper ya tetep laper ya. Ini ngingetin aku ketika malam-malam minggu sebelumnya aku lewati dirumah si Ratna itu, dan biasanya di hidangnkan teh atau kopi, trus kemilannya ya itu jajanan sisa lebaran. Wkwkwkwkw .

Bagiku secangkir teh/kopi itu sudah cukup untuk menemani malamku, apalagi adanya dirimu disampingku, wuihh bikin diri ini serasa menjadi manusia yang begitu bahagia. Semuanya serasa hanya menjadi kenangan, kenangan manis yang mengalahkan pahitnya rasa kopi. Tapi aku bukanlah pengingat yang baik, terkadang aku kesulitan dalam mengingat momen2 itu, yang aku ingat hanyalah aku pernah berada disana bersamamu, tentang apa yang kita lakukan serta kita ngomongin apa ya biasanya udah bablas lupa, meskipun ada beberapa tindakan yang bakal keinget terus. Seperti kejadian aku yang hampir terjatuh karena gerogi mau megang pipi kamu. Iya jatuh, dan Alhamdulillah masih bisa bangkit lagi.

Bulan dilangit hanya tampak separuh, ya separuh yang setengahnya lagi dalam keadaan kekurangan cahaya. Gelap, satu kata itu yang bisa mewakili mudahnya dari banyak kesimpulan mengenai keadaan kekurangan cahaya itu. Karena disaat gelaplah kita semakin mengerti tentang apa saja yang sebenarnya penting bagi kita dan yang sebenarnya percuma kita lakukan. Seperti aku yang ada disini, ketika malam ini aku keluar rumah, nada tanda bahaya itu sudah terasa, melihat langit seolah tak lagi sama dengan langit-langit malam sebelumnya. Ada sebuah perasaan yang berbeda, apa iya ini karena ini malam minggu pertamaku tanpamu. Apa sebenarnya aku ini sudah tak menghiraukan lagi perubahan yang ada diatas sana.

Apa selama ini aku terlalu terlena dengan semua kesendirian itu, sehingga ketika tak kurasakan lagi hadirnya dirimu didekatku, aku merasa bahwa malam ini berbeda. Bukankah sebenarnya ini adalah malam yang sama dengan malam-malam yang sebelumnya. Lalu apakah yang menjadikan dia begitu berbeda?

Kondisi bulan itu seolah menunjukkan dua buah sisi kehidupan manusia, yang terkadang kita cermati akan ada cahaya yang menerangi kegelapan dan selalu saja ada kegelapan yang tidak di pancari oleh sinar sang cahaya.

Seperti aku yang serasa gelap tanpamu, lalu apakah engkau sudah menjadi cahaya bagiku? Apakah benar jika aku dan dirimu itu layaknya gelap dan terang, ibarang yin dan yang, ataukah kita ini sebenarnya layaknya seperti air dan api? Itu bukanlah sebuah pertanyaan yang rumit jika antara kita ada sebuah jembatan yang saling menghubungkan tentang apa dan bagaimana sebenarnya yang kita mau.

Lalu apakah kita ini harus menjadi seperti bulan dan matahari, ada yang memberi dan yang diberi akan memancarkannya dan memberikan keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan cahaya dari sang matahari mampu menutupi semua jelek ataupun kekurangan dari sang bulan.

Bulan separuh seolah menampilkan serta menunjukkan semua yang dirasakan bagi setiap siapa saja yang sedang merindukan sosok yang sangat dicintainya.

Apapun itu, bulan separuh itu seperti menunjukkan jika kita harus selalu waspada, jangan terlena dengan semua kesenangan ini yang bukanlah kebutuhan, tetapi hanya kesenangan semata.

Efek, naik motor gak konsen n malah liatin langit, jadinya hampir nabrak kucing. Dasar kucing kota, gak liat-liat jalan dulu kalo mau nyebrang. Alhamdulillah, mungkin takdirmu bukan terkena ban sepeda motorku.

Lalu apakah jika malam minggu pasti akan serasa berbeda? Seperti bulan yang mungkin saja minggu depan akan lebih banyak cahaya dibandingkan kegelapan, ataukah harus seperti ini terus?

Apapun itu, sebenarnya lika-liku semua ini layaknya kita, yang berproses, dari yang dahulu seperti tidak kenal, lalu sedikit-sedikit mulai dekat. Dan sekarang sudah dekat lagi. Proses ini menunjukkan dan akan membuktikan seberapa serius kita membinanya, dan akan kelihatan semua hasil yang telah kita rawat selama ini. Dan semoga kelak hasil yang kita dapatkan sesuai dengan keinginan yang telah kita tanamkan sejak pertama kali kita sepakat untuk menjalani ini semua bersama-sama.

Ditulis dalam kerinduan yang tiada tara. AESP

Aku tak seperti yang aku persangkakan

Terkadang kita begitu egois dengan berusaha menilai diri sendiri, tak menggunakan analisa serta pendapat dari orang lain. Kita hanya berusaha memikirkan seperti apa diri kita dan tak pernah peduli apakah diri kita ini sebenarnya memang sesuai persangkaan kita terhadap orang lain. Ini merupakan evaluasi diri yang mungkin sedikit banyaknya yang aku, kamu dan mereka rasakan.

Untuk lebih menjelaskan sebenarnya tentang diri kita, mungkin kita butuh pendapat dari orang lain, ini sudah pasti, karena kan yang menilai adalah orang lain, dan bukan diri kita, akan sangat egois sekali bukan, jika kita memaksa orang lain untuk menerima semua yang kita miliki, yang ternyata kita juga jika diberikan pilihan untuk menerima manusia seperti diri kita sendiri pun bakalan ogah kan.

Ada beberapa pertanyaan yang mungkin perlu kita jawab agar kita makin tahu seperti apa diri kita sebenarnya.

Apakah aku baik?

Sudah merasa baikkah diri kita? Sudah berapa banyak hal-hal positif yang kita lakukan, apakah kita udah sering membantu orang lain, atau ternyata kita sibuk memuaskan keinginan sendiri. Lalu apa iya yang kita lakukan itu memang benar-benar baik, atau ternyata semuanya itu hanya terselubung saja. Hanya kita dan Allah yang tahu apa yang tersimpan dalam hati. Yang kita lakukan itu ikhlas karena berbuat baik atau ternyata kita hanya ingin dipuji saja oleh orang lain?

Jujurkah kita?

Jujur, ya kata 5 huruf yang mirip dengan “C.I.N.T.A”, entah mengapa beberapa kata yang tersusun dari 5 huruf itu kebanyakan maknanya begitu berat, dan bahkan bisa jadi suatu kata yang sulit untuk dimengerti, ada jujur, sabar, dan termasuk cinta. Ya cinta selalu jadi bahasan yang jadi topik utama. Bahkan cinta juga sering kali di rekayasa (kayak lagu dangdut ya). Lantas, seberapa jujurkah kita? Pas kita ditanya sama kasir di minimarket “Ada uang kecil gak kak?”, apa cobak yang kita jawab? Ketika kita berada dirumah teman trus ditawari makan apa jawaban kita? Ketika kita ditanya kabar dari keluarga, apa jawaban kita? Apakah jawaban kita sudah benar-benar merupakan ekspresi yang kita rasakan, atau ternyata hanya untuk basa-basi saja. Memang susah jujur itu.

Adilkah kita?

Selain jujur, ada kata “Adil”, kata ini selalu menjadi pasangan dari kata “jujur”. Bahkan menggunakan kalimat “Jujur dan Adil”, menggunakan kata hubung “dan” bukan “atau”. Kalau yang pernah faham logika, pasti mengerti bahwa ketika menggunakan kata “dan” itu artinya kedua-duanya harus dipenuhi baru bernilai “true”, semisal “aku dan kamu”, ya harus 22nya, gak bisa cuma “aku” aja atau “kamu aja. Nah setelah jujur tentunya adil, adil bukanlah memberikan suatu yang sama terhadap suatu hal atau masalah. Tetapi adil lebih ke “Menempatkan sesuatu pada tempatnya”.

Itu baru 3 pertanyaan loh? Tentunya akan banyak pertanyaan lain yang mungkin, kalo kita tuliskan sendiri bakal muncul satu kesimpulan,

Ternyata aku tak seperti apa yang aku persangkakan.

Ditulis menggunakan jari-jariku yang katanya “manis”.

Kebebasan

Kemana pun akan aku bawa dirimu bersama dengan semua kenangan yang pernah hinggap diantara kita yang mungkin akan terlalu indah untuk dilupakan tetapi terlalu sakit untuk dikenang. Semua itu lantaran kita, ya aku dan kamu terkadang masih memikirkan diri sendiri dan belum satu visi dan misi yang mungkin takkan selamanya kita akan selalu berada didalam sebuah pendapat yang sama. Mungkin sekali dua kali kita akan merasakan yang namanya perbedaan yang sebenarnya itu akan menjadikan kita manusia yang semakin dewasa dan akan lebih baik lagi dalam menghadapi semua lika-liku kehidupan ini.

Baik aku dan kamu mungkin belumlah menjadi satu tapi tanpa adanya kesepakatan antara kita, mungkin saja tujuan kita yang awalnya sama tidak akan pernah menjadi satu atau istilah singkatnya kita akan selalu dalam perbedaan. Tak mengapa berbeda kan ya, asalkan kita saling percaya dan saling support satu sama lain yang bikin kita bisa menjadi lebih leluasa dalam bergerak, bebas dalam artian bukan melakukan sesuatu sesuka kita, melainkan selalu memberikan sebuah alasan tersendiri untuk mencapai tujuan kita bersama.

Oke, kali ini mungkin pembahasannya lebih luas, bukan sekedar antara aku dan kamu saja. Bukannya bosen, tapi memang sepertinya akan lebih enak lagi kalo pembahasannya bukan sekedar mengenai aku dan kamu. Sekali lagi ini mungkin pola yang seharusnya diikuti sejak awal aku membuat beberapa tulisan awal. Tujuan utama dari pembuatan blog ini serta apa saja yang sebenarnya selalu mengganggu didalam fikiranku. Saatnya kita buka semua.

Kebebasan

Semua dari kita pasti menginginkan yang namanya kebebasan, mau itu dalam menjalani sebuah hubungan, maupun berbuat sesuatu. Bahkan seringkali kita merasa bahwa diri ini harus sebebas mungkin melakukan yang kita mau dan kita suka tanpa memperdulikan apakah orang lain senang atau tidak dengan kelakuan kita. Oke, sekilas nampak jika memang ego manusia itu gakkan pernah yang namanya turun, makin naik iya.

Lalu, bebas disini maknanya apa?

Untuk ngejawab pertanyaan tersebut mungkin agak sulit, karena definisi bebas menurut orang, pasti berbeda, termasuk juga aku. Semisal, dijalanan ada anak kecil yang baru bisa naik motor trus dia gak make helm, terus dia naiknya ugal2an dan membahayakan pengendara lain. Dari sini saja kita bisa ngelihat perbedaan pendapat loh, dari sisi sang anak kecil tentunya dia pengin banget bergaya seperti itu kan, karena menurut dia itu yang namanya bebas, serasa jalan miliknya sendiri. Tapi kalo menurut aku yang ternyata ribet ini, woohhhhh, itu bahaya sekali, kalo yang jatuh cuma kamu okelah dek, tapikan kalo kamu trus nabrak orang lain yang berusaha hati-hati kan bener-bener ngeselin.

Trus lagi, soal lampu lalu lintas. Sebagian orang masih belum menganggap penting bahwa mematuhi lampu lalu lintas adalah demi kelancaran dan keselamatan berkendara. Mikirnya, ah masak cuma gara-gara ngelanggar lampu bakal bahaya. Kan ntar aku gak mungkinlah ngeliat mobil didepan trus aku gasak gitu aja kan. Kan aku juga bisa mikir mana yang bahaya dan tidak. Oke, sebagian kita pasti pernah dong berfikir seperti itu, pasti pernah, apalagi kalo lampu merah itu tinggal didaerah tempat tinggal kita, seolah lampu itu kita yang ngatur, ya karena kan milik kita.

Padahal tidak mematuhi lampu lalu lintas itu bukan cuma dampak terhadap pengendara loh, pernah gak berfikir kalo kepatuhan terhadap aturan lalu lintas bisa dijadikan parameter pemimpin yang baik? Mungkin bagi kita gak peduli, n bodok amat ah dengan semua itu, tapi bagi pemimpin itu sangat penting lohhh. Coba bayangkan kalo suatu saat presiden lewat jalan situ dan tanpa barikadenya, karena niatnya cuma pengin “blusukan”, trus ngeliat kondisi jalanan yang semrawut itu. Bayangkan pemerintah daerahnya, ndak mungkin dibiarin begitu aja kan, bisa-bisa malah dipecat gitu aja kan, karena dianggap gagal.

Owh, mungkin masih berfikir kalo gak mungkin dampaknya akan sebesar itu?
Lalu, sebaiknya gimana ya dalam menyikapi kebebasan ini?
Bukankah setiap dari kita punya hak-hak yang harus dipenuhi, iya benar, tapi menurut seorang teman yang kuliah di jurusan Hukum, benar bahwa kita semua punya hak untuk berekspresi, tetapi ada tuntutannya juga, bahwa jangan sampai hak kita juga mengganggu hak orang lain. Misalnya, mungkin bagi sebagian kita memutar musik dengan keras itu Ok ok aja, tapi pernahkah terfikir kalo ada hak orang lain yang kita langgar? Hak mereka untuk hidup tenang sebenarnya sudah kita usik sedikit?

Nah, ternyata kebebasan yang kita miliki ini merupakan kebebasan yang terikat, ya terikat, selama itu akan mengganggu kepentingan orang lain, maka kebebasan yang kita miliki juga gak bisa disebut dengan bebas lagi.

Lalu gimana kalo kita udah terlanjur egois dan suka menuntut agar semua hak kita dipenuhi? Ya solusi, satu-satunya ya harus berubah, harus dari sekarang mulailah berubah. Kalo sering melanggar aturan lalu lintas, ya ada baiknya mulai sekarang berusahalah untuk sering-sering belajar aturan apa aja si dijalanan itu, lantas kalo lampu merah gimana harus di patuhinya. Jangan manja, hanya karena disekolah dahulu tidak diajarkan maka gak mau belajar, ilmu itu banyak, bahkan ketika kita bangun tidur pun kita udah ada banyak ilmu yang bisa kita ambil.

Sudah mengerti bukan kira-kira kebebasan yang saya maksud?

Ditulis di kamar kecil yang sudah diberantakin.

Ini pekanbaru, bukan Jogja

31 Juli 2016 sekitar jam setengah 8 pagi pelan-pelan kumulai perjalananku kali ini menuju kota pekanbaru. Diawali dengan tangisan sang ibundaku yang sebenarnya berat melepasku pergi kepekanbaru, tetapi beliau menginginkan aku untuk menggunakan semua pendidikanku selama ini untuk menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kehidupanku kelak. Pagi itu aku pergi sendiri, dan sepertinya sepanjang perjalanan ya bakalan sendiri, berat rasanya kali ini meninggalkan rumah untuk kembali merantau. Terkadang terfikir dibenakku, sampai kapan kira-kira aku akan terus seperti ini, apa iya aku bakalan selalu hidup jauh dari rumah, padahal kan sebenarnya aku pengin banget dekat dengan rumah sehingga gak begitu banyak menahan rindu terhadap orang-orang tersayang.

Pagi itu kumulai perjalanan dengan berpasrah, atau bertawakkal kepada Allah, apapun yang terjadi sepanjang perjalanan dan akan jadi seperti apa kelak aku di pekanbaru, sepenuhnya aku pasrahkan ke Allah. Dan sepertinya tidak ada tempat lain deh. Sinar mentari terasa sedikit terik kali ini, ini karena mungkin biasanya kalo kepekan aku seringnya subuh-subuh, dan itu pasti perginya sama bapak, tapi kali ini sendiri, ya aku yang menginginkan sendiri itu. (Salah sendiri)

Sepanjang perjalanan yang kufikirkan dan kuingat-ingat adalah orang rumah, ya orang-orang yang kutinggalkan disana, termasuk si Gadis tersayang itu, yang dulunya Judes itu, tapi sekarang udah manja banget. Beberapa rencana sudah disiapkan demi kelancaran hidup dipekanbaru ini, semuanya agar aku nanti sesampai ditempat tidak seperti kehilangan arah lagi. Seperti dahulu, yang pergi tanpa tujuan dan tanpa arah, sehingga jadinya bukannya mencapai cita-cita, melainkan menikmati hidup saja.

Sudah beberapa kali aku datang kekota pekanbaru, hanya untuk singgah, dan itu tidak untuk waktu yang lama, paling lama berada disini cuman sehari semalam saja. Dahulu pernah ketika baru lulus dari SMK, aku disini menginap hampir seminggu karena ikut ujian SNMPTN ya itu namanya dulu, kalo sekarang mungkin sudah berubah, karena tentu udah pada tau, hampir setiap ganti mentri yang diubah ya nama ujiannya kan yaa.

Kedatanganku serasa disambut dengan beberapa hal yang gak akuk sukai, tapi karena niatnya adalah untuk mengenal maka sedikit demi sedikit aku harus bisa menerimanya dan beradaptasi dengannya. Tidak ada yang ingin kutaklukkan, ataupun ingin menaklukkan kota ini, karena yang aku inginkan adalah mari kita berkemkin tibang bersama, baik itu aku, kamu, dia dan mereka semua yang sama-sama menginginkan yang terbaik untuk kota ini.

Rumah yang ada dipekanbaru ini sudah cukup bagus sebenarnya, dan udah layak banget untuk ditinggali apalagi buat manten anyar, wihhh, cocok banget ni tempat. Kalo tinggal disini sama pasangan ya bakal serasa berdua terus sih, meskipun mungkin agak ngebosenin karena disini koneksi internetnya agak ceket, tapi ya gak papa sih, daripada gak ada kan ya.

Hari pertama disini dipake buat bersih-bersih dan nyiapin apa aja yang kira-kira bakal dibutuhin nantinya ketika tinggal disini, ya tentu saja bakalan belanja beberapa kebutuhan pokok utama biar setidaknya enggak bakalan kaliren, atau kelaparan.

Salah satu hal yang aku bener-bener tekankan ketika aku memutuskan tinggal disini adalah “Ini pekanbaru, bukan Jogja”. Ya ini harus bener-bener ditekankan, karena penting banget, sangat penting malahan. Membandingkan kota ini dengan jogja tentu tidak tepat dan bahkan mungkin gak akan pernah menemukan mana yang bakalan bisa dibandingin. Karena sudah jelas sekali bahwa nama besar jogja bukan hanya soal pariwisatanya, atau julukannya sebagai kota pendidikan, tetapi lebih dari itu jogja sudah jadi tempat rekomendasi untuk melakukan apa saja. Ya hampir apa saja, seperti mau sekolah disana cocok, mau kerja juga cocok atau mungkin mau cari jodoh, sangat cocok sekali. Karena ternyata disana itu banyak anak mudanya dan serunya adalah mereka pada jomblo, Hahahahaha. (Ratna ngomel ni kalo baca, hihihihi)

Tapi benar, kalo kita jauhan pas lagi seneng-senengnya itu bener-bener gak enak si, tapi gimana lagi lo. Harus gini, karena kalo gak aku ntar bakalan nyaman dengan suasana disana loh, kan malah jadi percuma ilmu yang aku punya ni kan ya. Tapi sekali lagi ya itu, kita harus ikhlas dan tawakkal. Biar apa yang jadi mauku dan maumu juga pasti akan kesampaian. Yakan??

Kalo jauh-jauhan gini ni sebenarnya pada nyadar diri si, ternyata pentingnya si dia itu. Penting banget ternyata ya, buat ngebangkitin semangat lagi kan yaa.

Ditulis di Kubang Raya pekanbaru, sambil nonton One Piece.

Tabir surya

Mentari pagi tak jenuh-jenuhnya memancarkan sinarnya, kali ini disambut dengan datangnya bulan Ramadhan, bulan penuh berkah yang ditunggu-tunggu bagi setiap orang yang ingin memperbaiki diri serta ingin dosa-dosanya yang ada selama 11 bulan yang lalu dihapuskan. Yapp ini adalah sebuah bulan berkah yaitu bulan Ramadhan. Bulan dimana yang jauh akan mendekat dan yang dekat akan semakin dekat. Itulah sedikit ilustrasi bagiku yang Ramadhan kali ini Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga tercinta.

Tak terasa sudah 3 hari Ramadhan ini berlalu, dan aku belum menulis satupun mengenai kesan serta pesan yang dirasakan selama beberapa hari ini. Begitu banyak hal yang terjadi, sehingga mungkin kata-kata ini takkan banyak menceritakannya hanya mengambil bagian-bagian penting yang bisa dijadikan sebuah kisah dan nantinya akan bisa diambil beberapa manfaatnya.

Diiringin suara Cak Nun yang menggema mencoba mencari kata yang tepat untuk mengunggapkan semua yang aku rasakan kini. Kala itu Selasa 31 Mei 2016, hari yang nantinya akan jadi hari bersejarah buatku, karena waktu itulah aku benar-benar meninggalkan jogja untuk mungkin waktu yang lama, bukan selamanya karena mungkin saja masih diberikan kesempatan untuk mengunjungi kembali tempat itu kan. Selasa itu pagi hari jam 5 pagi dimulai mempersiapkan beberapa barang yang sehari sebelumnya sudah aku packing dengan rapi dan nantinya akan aku bawa pulang kerumah. Berat rasa hati meninggalkan kamar 3x4m ini, tempat selama hampir 5 tahun aku ditempa dijogja untuk dijadikan manusia yang semoga menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Sepinya subuh hari ditambah sedikit rintik embun sisa hujan semalam menjadikan suasana menjadi lebih sunyi dari biasanya, atau karena mungkin ini adalah perjalanan subuh terakhir kali aku dijogja. Ya, dahulunya sering kali aku subuh hari sudah siap dan pergi kemanapun yang aku suka, kebetulan ya dahulu ada pengajian yang terletak di Mesjid UGM, Mesjid itu menurut aku menjadi satu-satunya mesjid yang kalau lagi bener-bener galau gak kaluan kujadikan tempat berlabuh. Disana tak bertemu dengan siapapun, hanya sekilas menikmati suasanan mesjid ini dengan seksama.
Bandara Adisujipto, satu-satunya bandara dijogjakarta yang menjadi saksi nyata bagi pertemuan serta perpisahan orang-orang dengan kota jogja, kota yang istimewa yang ngangenin. Kayak kamuuuu,, ehhhhh.

Pesawatku terbang jam 07.00 dan waktu sudah menunjukkan waktu jam 06.30 tetapi belum ada tanda-tanda jika pesawat sudah boleh dimasuki, entah mengapa hati gelisah untuk pertama kalinya ketika naik pesawat, mungkin terlalu banyak kenangan yang akan ditinggalkan, atau mungkin karena ini pertama kali setelah sekian lama aku gak naik pesawat yang transit ya. Waktu hampir menunjuk ke pukul 07.00 dan penumpang pun di minta untuk masuk kedalam pesawat, wah untung delay gak begitu lama kali ini ya. Bismillah, semoga perjalanan lancar sampai tujuan, aku bertawakkal kepadamu ya Allah.

2 jam perjalanan tak terasa sudah sampai di Batam, bandara yang aku enggak tahu seperti apa yang jelas kesan pertama yang aku rasakan adalah capek jalan kaki, iya dari ketika pesawat turun dan penumpang diturunkan melalui bawah, lalu jalan naik kelantai 2 dan kembali lagi turun ke lintasan pesawat karena tidak ada pintu langsung yang menuju ke pesawat, alhasil jangankan untuk merasakan gimana kota Batam itu, menghirup udara segarnya pun tak sempat, ya inilah nasib transit yang cuma sebentar ya. Kurang lebih 50 menit perjalanan ke Pekanbaru dan ini lah perjalanan terakhir untuk rute kali ini.

Ada yang sebenarnya dari pagi itu aku rasakan tapi ndak sempat juga terlampiaskan, yappp laperr, aku cuma sarapan roti doang dan gak bawa minum apapun, jadinya ya gitu kaliren bener-bener laper dahhh. Dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki akupun mencari barang-barang yang aku bawa dan secepatnya menuju tempat yang jual roti, kali ini pilihan ke Roti O, yaa roti yang bau kopinya itu bener-bener menggoda, beli 2 sekaligus, untuk minumnya ambil air jeruk dan harganya 2 kali lipat,, waaawwww. Okelah, daripada kaliren kamu yass.

2 Roti habis dilahap, ada anak kecil yang ngeliatin, mungkin pengen tapi karena aku laper bodok amat ahhhhh, mungkin dalam hati si anak kecil itu, itu si om kok gak bagi-bagi ya. Bodok amat, ada emaknya aja kok, biar minta emaknya aja. Jemputan kali ini selalu tertuju ke mas topik, langganan kalo jemput ya beliau, cuman kali ini nunggunya lebih lama dari biasanya, sampek jenuh dan bener-bener mumet efek jetlag juga kan. Turun di bandara sekitar jam sebelas, dan beliau baru datang ngejemput jam setengah satu, okelah yang jelas udah gak begitu laper. Perjalanan belum berakhir, karena inilah saat-saat yang melelahkan dimulai, 3 jam perjalanan menggunakan mobil dari pekanbaru menuju desa tercintaku Sungai Kuning.

Kali ini alhamdulillah perut masih bisa diajak untuk bersahabat sehingga tidak terjadi mual dan sebagainya, sesampainya dirumah ya langsung aja itu deh minta makan sama emak, yapp pertama kali langsung nanya mak masak apa? Apa aja yang ada di meja makan itu di embat aja deh, yang penting ndak kelaperan lagi dehhh.
Tak banyak yang berubah dari rumah ini, hanya lokasi kamarku yang lagi-lagi berpindah, dari awalnya di belakang pindah kekamar paling depan, ya sesuai permintaan aku juga sih.

***

Sabtu itu tanggal 4 Juni 2016 merupakan hari persiapan untuk memasuki Ramadhan, meskipun senin baru akan dimulai puasa, tetapi di lingkunganku ini terutama yang satu RT, sudah mulai menetapkan yang dikatakan “mapak tanggal” atau bahasa sederhananya ya menjemput datangnya bulan Ramadhan, biasanya dimulai dengan membaca beberapa dzikir lalu dilengkapi dengan bancaan. Ya ini diniatkan sebagai acara kumpul-kumpul saja, karena sebenarnya tidak ada kewajiban mengenai hal ini. Karena tradisi saja, mungkin diniatkan untuk memberikan pengajaran kepada generasi muda jika bulan yang berkah disambutlah dengan cara yang berkah juga.

Ramadhan kali ini dari sejak awal aku sudah dirumah, dan mungkin ini yang pertama kalinya, setelah beberapa tahun, tepatnya sejak aku kuliah dijogja, keseringan pulang setelah beberapa hari puasa. Karena kan dulu masih ngikut jadwal dari kampus, tapi kali ini serasa kan sudah bebas ya kan karena sudah lulus.

Ramadhan pertama pun disambut dengan suka cita, kali ini hari pertama puasa jatuh pada hari senin, ya ini seperti mau awal pertama kali memulai aktifitas jadinya. Puasa pertama Alhamdulillah dijalani dengan lancar, karena ya kan masih awal, aktifitas belum begitu banyak, jadinya ya gak begitu terasa, sore harinya baru mulai panas, karena ngambil barang yang aku kirimkan melalui bus kan. Dan itu dilogas, dan cuaca lagi panas-panasnya, ini baru namanya cobaan kan. Kalau puasa cuma menahan lapar dan haus saja tentunya ndak akan greget, semakin banyak godaan dan cobaan semoga menjadikan puasa ini menjadi lebih berkah dan bermanfaat.

Hari kedua puasa pun aku jadikan moment untuk mengurus yang namanya surat-surat kendaraanku, ya biar cepat selesai jadi ya secepatnya diurus ini semuanya. Perjalanan dari rumah ketaluk kuantan tak terasa melelahkan ketika berangkat, ini karena hari belum begitu panas, jadi ya sampai di taluk pun masih semangat 45. Ngurus ini itu dan akhirnya semua urusan mengenai kendaraan kelar deh, tinggal belikan titipan emak aja. Setiap ketaluk ni emak pastinya mesen sesuatu, ya kan karena kebutuhan keluarga kan, ya sebenarnya di Sungai Kuning juga ada, tapi karena kebiasaan belanja di taluk ya emak penginnya ditaluk.

Pulang dari taluk ini kok rasanya ada yang beda, ya sekilas kenangan masa lalu itu timbul, kenangan ketika aku sekolah dahulu, ketika kalo siang hari mudik kerumah, ataupun ketika aku lari-lari sore yang rutenya dari SMKN1 lewat jalan atas kearah kantor bupati, jalan ini tidak banyak berubah tetapi dalam bayangan terlintas dulu kok aku bisa lari sampai persimpangan TK ya, padahal kalo sekarang mungkin?? belum tau juga, karena ndak pernah nyoba juga kan.

Setelah semua aktifitas yang melelahkan itu setiba dirumah ya cuma bisa tidur saja sampai sore hari, ya itung-itung biar ndak terlalu capek sehingga malam harinya bisa semangat beribadah lagi kan.

Diselesaikan di Sungai Kuning oleh Andriyas Efendi, dan dibaca dimana saja.

Seharian cuma mimpiin mantan

Beberapa hari yang lalu aku pergi ke malang, yappp lagi-lagi ada agenda iring-iring manten dan seperti biasa cuma bisa ngiringi karena belum diiring. Perjalanan yang lumayan jauh ditempuh dengan menggunakan satu buat bus besar dan satu buah mobil travel. Dimulai dengan berkumpulnya para peserta iring-iring serta para manten yang sudah siap dengan dandanannya, pagi itu masih gelap, mataharipun belum menunjukkan sinarnya, tetapi masyarakat sudah berkumpul, dikarenakan sesuai undangan bahwa bus akan berangkat dipagi hari.

Keberangkatan dimulai dengan di nyalakannya mesin mobil, dari nampu menuju malang, prediksi beberapa orang, perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 6 jam, ya jam 12 lah kira-kira bakal sampainya. Pertama kali aku naik bus itu rasanya asing, karena ndak biasa naik bus, dalam hati sudah ada perasaan was-was, gimana nanti jika aku mabuk ya?? Ya dimuntahkan lahhhh..

Selama perjalanan karena pagi kan jadinya dingin cocok banget untuk tidur, jadi ya hampir sepanjang perjalanan ya tidur aja isinya karena kalo gak gitu kepala makin pusing dan ujung-ujungnya bakal hueeeekkkkkk.

Yang unik dari keberangkatan ini orang-orang belum pada sarapan yo podo kaliren gitu, lantas berhenti di POM Bensin gitu, jadi kayak orang ilang gitu duduk dipinggir jalan itu lantas makan bareng-bareng disana, bener-bener piknik nek iki. Selain numpang kamar mandi tentunya orang-orang pada gak tahan untuk ngerokok kan soalnya di bus kan dilarang, karena AC, tapi anehnya diPOM Bensin itu mereka berani-beraninya merokok, padahal kan kalo di bus yang rusak paling ya cuman AC sedangkan kalo di POM ini kan bisa meledak ta, bahkan bisa membunuh sang perokok, tapi kok malah takut AC rusak tapi ndak takut kalo POM tersebut meledak. Itulah kalo udah kecanduan rokok, logikanya mati.

Sesampainya di malang disambut oleh keluarga besar dari mempelai laki-laki, acara dimulai dari basa-basi gitu, ya semacam sambutan yang sebenarnya ane gak ngerti, maklum nganggo boso jowo alus, lha aku ki kan pemula yo gak dongg. Tapi yo berusaha untuk mengerti sedikit-sedikit.
Salah satu hal yang menarik adalah ketika mempelai pria ditanya tentang alasan menikahi sang perempuan, dengan lantangnya dia menjawab “Yo mergo ayune lan patuh mareng agomone” artinya kurang lebih “Karena cantiknya dan patuh terhadap agamanya”, ini alasan seng jossshhh menurut aku.

Menurut aku, alasan itu ya alasan utama sih sebenarnya, selain dikarenakan keinginan memiliki istri yang shalehah tentunya yo seng ayu to. Tetatpi ayu bukanlah satu-satunya parameter ukuran, melainkan ada tambahannya yaitu agamanya. Karena sebaik-baik perempuan adalah yang agamanya baik, karena ketika agamanya baik maka biasanya yang lain-lain juga baik kok. Lagi mau belajar memahami gimana sebaiknya alasan yang baik itu, apakah mau dibilang kalo “Aku menikahimu tanpa alasan” nek iki yo malah bubrah, setidaknya pasti ada tujuan serta alasan khusus mengapa aku memilihmu.

Setelah melalui rangkai acara ya saatnya untuk kembali lagi ke kota Ngawi, padahal yo belum hilang rasa capek serta mual-mual ini ya tetep balik, soalnya ya memang gitu kan rencananya. Akhirnya perjalanan pulang dimulai, tentunya ketika bepergian akan berbeda ketika kita berangkat maupun pulang, ketika berangkat tidak ada yang kita tinggalkan karena kita akan kembali, tetapi ini tentunya akan menjadi perpisahan terhadap kota Malang ini, karena ini pertama dan mungkin saja jadi yang terakhir bagiku kekota ini. Ya karena arep ngopo juga rono ta.

Sampai di Ngawi hampir mencapai waktu jam 10 malam, ya karena perjalanannya santai, ya ini faktor yang bikin aku ndak mabuk juga kan, kalo ngebut dan seperti bus lainnya mungkin udah tepar aku dibuat jadinya. Malam-malam tiba di ngawi, suasana sudah sangat sepi ya karena biasanya kalo jam segini ya pada udah tidur, jadi ya berangkat pada belum bangun eh pulangnya pada udah tidur dehh. Pulang deh kerumah masing-masing para peserta iring-iring, begitupun aku yang dititipi beberapa barang, berupa snack juga. Ini kan lumayan buat kletikan malam-malam.

Sesampainya dirumah rasa penat udah ndak tertahankan lagi, jadi ya langsung mengistirahatkan diri saja jadinya. Soalnya kan perut dalam keadaan kenyang, ditambah lagi kepala yang terasa muter-muter gitu ya jadi tidur aja deh. Pagi setelah shubuh rasanya badan kok gak enak gitu, keluar sebentar ngantar dek irfan sekolah trus liat-liat pemandangan sebentar, trus balik lagi kerumah dan tidur.

Nah, tidur yang kedua ini yang rada-rada gak enak, mimpinya itu lo kok aneh-aneh, seng pertama ngipi ketemu karo si kae karo si kae, kan rodok gak penak, mimpine yo mbuh opo sebenere. Trus tersadar kan, bangun dan nginget-nginget lagi apa yang sebenarnya terjadi, trus lanjut tidur lagi berharap mimpinya ganti, eh malah mimpi ketemu si itu lagi. Kan ini sebenarnya kenapa ya? Difikir-fikir kok gak ketemu kenapa-kenapanya.

Apakah masih ada tersisa rasa didalam diri ini, opo yo aku ki ugong ikhlas melepas mereka semua ya, Nek seandainya gong ikhlas yo arep kepiye? Wes podo nduwe masalahe, ya tetep sabar aja yas. Apalagi bentar lagi kamu pulang, semoga ya ndak malah langsung dapet undangan gitu. Takutnya ngko aku bertindak bodoh pulak kan, koyok neng facebook kae.

Cuman yang perlu jadi catatanku adalah, kamu mau ikhlas atau tidak mereka yo tetep bakal ninggalke awakmu yas, kepiye maneh kann, arepo awakmu ki ra trimo karo takdir yo ujung2e bakal dirabi wong liyo to. Nah sekarang mendingan kamu merangkai jalan takdir dirimu sendiri, banyak hal yang perlu kamu lakukan biar ndak cuma mikirin mereka, fikirin diri kamu dulu deh biar ntar kalo memang sudah waktunya semuanya bakal indah, meskipun tidak seindah yang diharapkan, tapi itu pasti yang terbaik untukmu.

Selesai ditulis di Dusun Nampu, Bringin, Ngawi, sebuah desa kecil diatas bukit dengan sinyal yang minim. Tetapi disinilah tempat aku dilahirkan dahulu. Bagaimanapun disini adalah salah satu tempat ternyaman untukku.

19 Mei 2016 19:39 oleh Andriyas Efendi

Lingkunganku

Siang ini mentari bersinar begitu panasnya, teriknya matahari tak membuat kulit terbakar melainkan memberikan rasa panas ditubuh kalo kata orang jawa ya sumuk. Aktifitas warga Nampu sudah mulai mereda, dan mulai kembali kerumah masing-masing. Terlihat sepasang muda mudi sedang berboncengan menggunakan sepeda motor ninja, dan mereka terlihat begitu akrab layaknya pasangan yang sudah dimabuk asmara dan lupa akan lingkungan yang berada disekitarnya.

Aku pun terduduk diteras rumah sambil sedikit menikmati semilir angin yang bisa meredakan rasa panas ini. Kulihat ada seorang nenek yang sedang duduk diteras rumah dan sedang melihat-lihat apa saja yang ada disekitar nya. Aku melihat beliau begitu menikmati hidupnya saat ini, beliau bukanlah orang yang kaya ataupun selalu dalam keadaan beruntung. Melainkan dia bahagia dikarenakan sikap2 orang jawa yang nerimo serta dekat dengan orang-orang yang menyayanginya. Teringat dikepalaku akan sosok kedua orang tuaku yang jauh di sana, disebuah desa kecil yang bernama Sungai Kuning, bagaimana keadaan mereka sekarang baikkah? Atau dalam keadaab yang tidak baik, jika biasanya jam segini aku dirumah, bapak biasanya masih diladang dan ibuk baru saja selesai beres-beres rumah.

Mereka berdua merupakan partner yang menurut aku sangat klop, ini bisa dilihat dari bapak yang tekun serta ulet bekerja, serta ibu yang selalu ada dan mendukung setiap apapun yang dilakukan bapak, bahkan di beberapa kesempatan ibuk selalu menemani bapak juga bekerja. Bukanlah dalam hidup ini menemukan partner yang bisa bekerja sama dengan kita juga merupakan faktor penting, meskipun dalam menilai seseorang kita tidak harus selalu menggunakan analisa yang ribet seperti kalo orang jawa melihat bibit, bebet, serta bobotnya. Tapi kita sudah dewasa, kita bisa melihat sekilas apakah kita bisa berpartner dengan baik dengannya atau tidak.

Suasana di dusun Nampu ini begitu sepi, cocok bagi para warga perkotaan yang sedang stres dengan macetnya, kerjaan serta pola hidup mewahnya. Disini bisa belajar banyak, terutama tentang kesederhanaan dan rasa syukur. Bangunan-bangunan yang ada disini tidak begitu mewah, bahkan jalananpun masih terbuat dari batu-batu padas yang disusun sedemikian rupa, sehingga bisa digunakan untuk jalan. Masyarakatnya yang ramah menambah suasana nyaman berada disini, hanya saja, bagi orang-orang yang terbiasa dengan teknologi, akan lumayan kesulitan, terutama masalah sinyal. Disini sinyal bisa dikatakan sangat sulit, ada, tapi jika digunakan tidak bisa. Untuk sms perlu beberapa kali kirim, itupun terkadang masih pending dan lama sekali diterimanya. Telfon juga begitu, nyambung, tetapi suaranya macet-macet dan terkadang tidak ada suara sedikitpun yang terdengar. Apalagi internet, bisa dikatakan lebih parah, karena ya hilang timbul, jika dikota kota berlomba-lomba sinyal 4G, disini mendapatkan 3G saja sudah senang, dan itupun terkadang tidak bisa digunakan. Sungguh ironi.

Sudah hampir setahun yang lalu aku menghampiri desa ku yang di Sumatera, disana kondisinya ya hampir tidak jauh berbeda, yang membedakan disana kondisi ekonomi sudah mendingan dan beberapa fasilitas seperti jalan umum sudah mulai bagus. Tahun lalu ketika aku disana, sinyal operator sudah lumayan meskipun masih agak lambat menurutku. Itu jika tidak mati lampu, lain lagi jika tiba-tiba listrik dari PLN padam, seketika sinyal mulai hilang.

Jika dilihat dari kondisi lingkunganku diatas maka perlu juga diceritakan tentang lingkunganku dijogja. Ya, sudah tertebak, pasti jauh berbeda dijogja dengan daerah manapun. Bagi siapa saja yang pernah kejogja pasti kesan yang dirasakan cuma satu, nyaman. Itulah jogja, apapun ada, sarana bagus serta warganya yang ramah serta biaya hidup yang murah menjadikannya salah satu tujuan tempat tinggal yang direkomendasikan. Tapi apakah untuk bahagia kita harus memerlukan tempat seperti jogja? Bagiku tidak, karena menurut beberapa orang yang aku temui, tinggal didesa adalah sebaik-baik tempat. Desalah yang memiliki tingkat kebahagiaan paling tinggi, meskipun kondisi ekonomi yang pas-pasan tapi tetep hubungan dengan tetangga terasa dekat sekali. Berbeda dengan dikota, bahkan jogja sekalipun, keakraban itu sudah tidak seperti didesa lagi. Apalagi belakangan ini sedikit demi sedikit biaya hidup dijogja sudah mulai naik, ini bisa dilihat dari naiknya harga kos-kosan, kontrakan bahkan makanannya. Bagi yang menemukan makanan yang murah biasanya tempatnya biasa2 aja berbeda dengan yang mahal, fasilitas mulai lengkap. Ini kalo dilihat, beberapa tahun lagi sepertinya jogja akan jadi kota2 lainnya.

Pernah merasakan hidup dilingkungan yang berbeda juga merupakan kenikmatan, karena kita bisa belajar banyak hal, terutama menjadi manusia yang lebih dewasa lagi. Dari pengalaman hidup itulah yang nantinya akan menuntun kita menjadi manusia yang bisa bermanfaat. Itulah mengapa banyak orang tua menyarankan untuk merantau bagi anak-anak muda, ini agar bisa melihat dunia lebih luas, lalu nantinya kembali ke desanya dan membawa hal-hal positif yang ada dan mulai menjadikan desanya menjadi desa yang nyaman.

Ngawi, dusun Nampu, desa Bringin, kecamatan Bringin. Oleh Andriyas efendi

Urip ke golek dalan, dalan seng lurus

Pagi hari di desa nampu tercinta, ada segelumit kisah yg menarik. Ini cerita dari para orang2 tua dari masa2 dahulu bahkan penduduk awal yg ada didesa nampu tersebut. Yapp sejak 1970,, sungguh sudah lama sekali itu. Baik, sedikit demi sedikit akan kucoba tuk menceritakannya.

Pagi itu ku terbangun di pagi hari, dan seketika aroma segar khas pedesaan muncul, kuputuskan untuk jalan2 ke arah waduk, ya kalo singkatnya sih pengin liat sunrise, ben koyo wong kuto. Kali ini aku ditemani irfan, sepupu ku yang paling kecil. Memang biasanya dialah yg nemani aku jalan2 ke waduk ini kalo aku kengawi.

Seperti biasa, kalo pagi2 gini ya enak buat liat yg ijo2 sama sekalian ya foto2 dikit lahh,, itung itung testing kamera hape sama ya buat koleksi pribadi. Abis merasakan nikmatnya udara segar ini, sekalian mampir ke tempat mbah aku, bukan mbah kandung sih tapi lebh tepat ya mbah yg ngurus ibu dari kecil dahulu. Selain karena ngurus ibu,, ternyata mbah ini merupakan mantan calon mertua dari bapak, Hahahahahaha,, ya anaknya dahulu calon istri bapak, tetapi takdir berkata lain, sang calon istri dipanggil terlebih dahulu oleh sang kuasa. So, jadinya ya sama ibuk aku deh. Memang takdir berkata lain.

Baik, seperti biasa kalo aku mampir kesini ya udah disiapin kopi hitam sama biasanya ya sarapan. Lumayanlah, adem2 ngombe kopi, josssss.
Bukan hanya kopi tapi ya ditambahin sarapan, sarapan khas pedesaan,, gak spesial2 amat cuma nasi, sambel teri, sama ya ditambahin telur dadar. Mantapp,, yg bikin enak adalah suasana pedesaan yang nyaman banget trus kesederhanaan yang mantap bener dehh.

Abis sarapan pada njagong didepan rumah, ya pada cerita2 gitu,, datanglah seorang tua yg aku juga lupa namanya tetapi ya namanya didesa yg penting hidup rukun dan tidak saling membenci ya ndak masalah tidak memanggil nama.

Cerita ngalor ngidul dari yg ngebahas soal2 ekonomi didesa sampai ke masa lalu. Diceritakan juga mengenai asal usul dari jalan yg ada dinampu ini,, awalnya ya karena ada orang2 nekat yg memaksa agar orang membuat jalan,, uniknya adalah daripada sibuk sengketa tanah, si mbah tersebut langsung ngambil cangkul dan membuka jalan, dulu orang2 pada kesel sama beliau, tetapi lihat sekarang, anak cucunya bisa menikmati jalan tersebut. Dan beliau berpesan,

urip ki ya gor golek dalan to  dalan seng lurus.

Dari obrolan tersebut, sampailah pada sebuah cerita tentang seorang yang dulunya dianggap dukun sakti “Mbah Nang Sembung”, aku ndak tau kenapa kok beliau dianggap sakti karena katanya beliau itu bisa menyelesaikan banyak masalah, termasuk bagi mereka yg kesulitan memiliki anak, katanya dikasih saran2 trus bakalan punya anak. Kalo aku mah ya ndak percaya, karena kita sebaiknya menyadari kalo anak juga merupakan rezeki, ini bukan cuma soal penyakit ataupun kondisi emosi pasangan, tetapi ini tentang apakah kita cukup dipercaya untuk bisa mendidik seorang anak. Bahkan seorang Nabi pun ada yg diberi anak dalam usia yg sangat tua, jadi jika yakin Allah memberikan yg terbaik buat kita, tentunya akan lebih banyak bersyukur daripada mengeluh sana sini, apalagi sampek datang ke dukun kan.

Nah, ada yg lucu ternyata, kalo katanya orang dulu kalo ada yg ndak tidur berbulan-bulan maka dianggap orang sekti, tapi aku baru tau ternyata ini permainan logika semata. Ternyata fakta yg terjadi adalah dia tidur, tetapi dalam keadaan duduk, nah sejatinya orang tidur itu kan berbaring, jadi jika ada yg tidur dalam keadaan duduk maka dianggap tidak tidur. Kadang selucu itu,

Nah omong2 soal jalan, aku jadi kangen sama jalan depan rumahku itu, jalan kecil tapi syahdu, Hahahahahaha. Karena bisa tiap sore aku liat jalan itu, ya sekedar liatin orang lewat. Belum aspal jalannya, tapi ya ndak jelek lah kalo buat ukuran jalan desa.

So, sekali lagi, yang namanya jalan ya kadang ada yang bagus ada yg jelek, tapi tetep manfaat jalan pasti lebh besar kan. Jadi,

Hidup ini sebisa mungkin bisa bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Biar kelak ada pendorong ataupun bantuan ketika kita di tagih terhadap apa saja yg kita lakukan di hidup ini.

Rumangsamu opo penak dek

Bahagia yg terlihat diluar, sejatinya merupakan hasil dari sakit-sakit yg begitu banyak, itulah realita yg sering terjadi. Karena ya itu merupakan perjuangan untuk bisa bahagia kan. Dimanapun itu atau apapun pekerjaan yg tujuannya ingin bahagia, pasti tetep ada sakitnya.

Itu kenapa sejak kecil sama orang tua ndak pernah yg namanya dikatakan ataupun diajari untuk hidup sante dan ndak bersusah payah,, bisa dikatakan sejak kecil sudah di didik biar jadi orang yg mengerti mengenai susahnya hidup. Mungkin belm banyak yang tahu dan sebenarnya mungkin akan dikatakan pamer, tapi ya maksud aku cerita bukan buat itu kan.

Sejak kecil ama bapak ma ibuk aku dilatih kerja, itu kelihatan karena bapak ama emak kan petani,, seperti anak petani kebanyakan ya kalo pagi udah diajak keladang, kebetulan ladangnya rawa belakang rumah, n dulu sungainya itu airnya masih deras dan bersih. Kalo sekarang sudah wassalam.

Masa-masa kecilku sebenernya lebih banyak diladang, karena kalo pas bapak kerja aku diajak bareng, ya ikut nimbrung ataupun dijak keliling. Ya memang aku tidak secara langsung kerja, karena waktu itu bapak cuma ingin nunjukin kalo ini lo nak kerjane bapak, sekolah seng bener yo. Kalimat singkat itu yg kuinget2 sampek sekarang, nek orang tua itu ndak pernah main2 merencanakan masa depan buat anaknya. Tu ngapa, sampek sekarang aku bisa gini ya karena sebisa mungkin aku serius belajar, karena aku gak bisa kasih banyak kemereka, cuma jadi anak yg nurut dan ndak neko2 aja.

Lalu apa hubungannya dengan judulnya, sebenernya yo ndak ada, karena cuma ingin sekedar mengingatkan kalo hidup ya memang seperti ini, ada masa sulitnya karena itu yg bikin kita sedikit mengerti tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup ini.