Skip to content

Category: Puisi

Tersendiri

Tersendiri

Rintik hujan membasahi bumi
Bunyi tik tik tik mengiringi hadirmu
Disertai dengan gemuruh angin kencang
Serta suara deru yang menderu langit-langit bumi

Aku terhadir sendiri didalam perenungan kamarku
Menatap cukup sayu layar-layar yang menyala-nyala
Menulis berbaris-baris kata
Demi menampilkan apa yang dirasa dalam jiwa

Jurang pemisah antara diriku dan dirimu hanyalah rindu
Rindu, 5 huruf yang tak terasa selalu muncul dalam kalbu
Menatapmu dalam-dalam di setiap kesendirianku
Seterang rembulan yang menghiasi malam-malamku

Aku tergugu sendiri menatap indahnya langit malam hari
Berjuta bintang menghiasi kertas langit
Titik demi titik terlihat melalui bayang-bayang cahaya
Membentuk garis lingkaran yang hampir muncul separuhnya

Tetiba terasa ada rasa yang telah lama tak terasa
Seperti keringnya tanah-tanah yang mulai berdebu
Membasahi tiap kekeringan didalam diri
Menanti tiap detik akhir penantiannya

AESP


Dalam rindu, aku cemburu

Kata telah terucap
Keputusan telah diambil
Aturan telah berlaku
Kisah juga telah sirna

Tapi percikan rindu itu
Masih tetap ada
Muncul ketika ku duduk
Terdiam, menatap bayang2 kosong

Semut-semut itu perlahan merayap didinding
Mencari sesuatu yang bisa dijadikannya alat penyambung hidup
Tak pernah mengingat kemana dia akan pulang
Yang dilakukannya hanya berusaha

Secercah nama selalu terngiang dikepala
Seolah memanggil-manggil dia sang pemilik nama
Aku merasa gagal, cemburu, kenapa nama yang seharusnya aku ingat
Sama sekali tak terngiang dikepala

Seolah diri ini lupa darimana berasal
Serta untuk apa dijadikannya diriku ini
Yang terngiang hanya kenangan
Yang teringat hanya lembaran masa lalu

Dan yang selalu terindukan
Hanyalah Dirimu….

9 Januari 2017