Skip to content

Cerita Ramadhan : Malam Ke 16, Puasa Terakhir dijogja

Jogja, sebuah kota yang akan selalu memberikan sebuah kesan yang mendalam bagi siapapun yang datang kesana. Baik itu sekedar jalan-jalan atau menuntut ilmu. Berpuasa di jogja bukanlah hal yang buruk, toleransi dan keindahan jogja menjadikan kita lebih betah untuk berpuasa. Tetapi ada yang aneh dengan berpuasa di kota, yappp godaan begitu banyak. Yang terkadang membuat kita jadi serba ragu apakah puasa ini masih ada pahalanya atau tidak. Oke, seperti apa puasa terakhir pada ramadhan kali ini dijogja? Mari kita jelaskan….

Sebagai kota pelajar, jogja punya kredibilitas yang cukup mumpuni. Itu bisa dilihat dari banyaknya perguruan tinggi yang ada disini, diikuti dengan banyaknya mahasiswa yang belajar disini. Ditambah lagi dengan beragamnya mahasiswa yang ada sehingga membuat jogja menjadi semakin ramai. Hal ini banyak dikeluhkan oleh sebagian masyarakat asli jogja, karena semakin lama, mereka semakin merasakan kalau jogja ini kok udah gak nyaman lagi ya? Kenapa macet dimana-mana ya? Terus banjir lagi?

Tidak bisa dipungkiri, dengan beragamnya masyarakat yang ada terkadang memberikan efek yang buruk. Seperti yang gue tuliskan diatas, hal ini bisa memicu rasa ketidaksenangan terhadap para pendatang yang ingin menuntut ilmu di jogja. Lantas gimana biar setidaknya walaupun masalah tersebut masih tetap ada tapi jogja tetap nyaman??

Menurut pendapat saya, yang terpenting adalah kesadaran diri. Yapp kalo kita sadar diri, siapapun kita darimananapun kita ya pastinya gak akan membuat kerusakan dimanapun kita berada, termasuk dijogja. Kebanyakan para pendatang dan masyarakat asli seringkali melupakan, bahwa untuk menjaga jogja tetap nyaman harus ada rasa kerja sama yang baik antara keduanya. Bayangkan ketika kedua belah pihak sudah tidak saling menyalahkan, ataupun saling tuduh, salah dia, salah dia. Maka persatuan dan kesatuan yang selama ini dijunjung tidak akan hancur dengan begitu saja.

Modernisasi pasti terjadi, hanya saja kita bisa memberikan sikap yang lebih baik. Misalnya, kalo soal makanan, barang-barang pribadi itu semakin lama makin berkembang. Begitu juga dengan adanya bangunan-bangunan, gedung-gedung tinggi, mall, dsb. Hal ini pasti akan tetap bertambah, walaupun masyarakat protes seperti apapun bakalan tetep nambah. Yang terpenting adalah masing-masing elemen masyrakat saling menyadari tentang arti menjaga alam. Yappp, keseimbangan harus tetap dipegang teguh. Semisalnya keberadaan pohon-pohon sebagai pemasok oksigen untuk manusia bernafas harus tetap ada, begitu juga dengan saluran-saluran air sebagai jalur lewatnya air yang menggenang harus tetap diperhatikan.

Kebiasaan buruk seperti membuang sampah sembarangan sejatinya harus dibuang jauh-jauh, karena mungkin sampah yang kita buang sedikit, tetapi kalo setiap orang buang satu sampah sembarangan, bukan tidak mungkin lama-lama sampah itu akan semakin banyak kan. Oke, cukup soal jogjanya.

Lalu, puasa dijogja itu kadang ada enak dan ada enggaknya. Enaknya kalo pas mau buka puasa makanan takjil banyak, lalu dimesjid-mesjid sering ngadain acara buka bersama. Nah ini kan membuat anak kos yang biasanya bersembunyi dikos jadi rajin ke mesjid. Gak apa, karena kan kalau memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa kan bisa bikin pahala yang berpuasa itu diberikan ke yang memberi, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang diberi.

Tetapi mirisnya, event buka puasa ini dijadikan bisnis bagi para penjual takjil, mereka terkadang dengan semena-mena memasang harga yang menurut aku terlalu mahal. Gue pernah itu beli es pisang ijo, sama gorengan 4, masak bisa Rp, 19.000,00 nah ini kan kemahalan kan. Padahal kalo biasanya palingan gak sampek segitu lohh…

Nah, jadi kalo pengin berbuka puasa dengan makanan dijogja, saran gue adalah makanlah ditempat anda biasa makan, karena gak bakal ada lonjakan harga yang terlalu tinggi. Karena sehari-hari sudah berdagang kan. Kalo belinya ditempat yang cuma musiman, hati-hati anda bisa dapet harga tinggi. Serius.

Nah, itukan kalo buka puasa. Lantas kalo sahurnya gimana?? ini yang asikkk, walaupun sahur itu dipagi hari. Tetapi dijogja masih banyak yang membuka warungnya untuk para pencari makanan untuk sahur. Ya itu juga memanfaatkan event puasa juga, tetapi sekali lagi anda harus hati-hati, jangan sampai niat pengin beli makanan sahur eh malah jadi sebel karena diberikan harga yang melambung.

Nah, itu tadi kan udah cerita tentang jogja dan puasa gue terakhir disana, soalnya besoknya ane mau mudik udahan. Pasti bakal kangen, yappp. Kangen banget,,, walaupun sebenarnya bakal ambigu, karena

“benar-benar kangen jogja, atau kangen dia yang dijogja”

 

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.