Skip to content

Cerita Ramadhan : Malam Ke 18, Jadi Petani

Sebagai anak seorang petani, pastilah selalu dididik dan diajarkan cara bertani juga. Kebetulan kedua orang tua saya backgroundnya adalah dari petani. Dilahirkan dari keluarga petani, dan ketika merantau menjadi petani juga. Walaupun kalo disini yang ditanam adalah pohon sawit, tapi jabatannya tetap saja disebut sebagai petani.

Petani kebun sawit yang sekarang di tahun 2015, berbeda dengan tahun waktu awal-awal dahulu, sekitar tahun 2000 kebawah. Sekarang sudah lebih modern. Apa saja yang berubah? Banyak,

  1. Dodos jadi Egrek, Dodos adalah nama sebuah alat yang digunakan untuk memanen buah sawit yang pohonnya masih kecil. Sehingga ketika sudah besar akan digantikan dengan egrek. Nahh, egrek ini terlihat lebih sedikit mengerikan, karena biasanya sawit yang dipanen pohonnya lebih tinggi lagi. Egrek ini memiliki panjang yang bisa disesuaikan dengan tinggi dari pohon sawit, sehingga tidak menyulitkan ketika ada pohon yang tinggi banget dan ada yang sedang-sedang saja.
  2. Angkong jadi Obrok, Nah ini bagian yang menarik, kalo dahulu biasanya orang memakai Angkong, sekarang berubah menjadi obrok. Yappp, keranjang yang dipasang di sepeda motor, sehingga lebih memudahkan ketika akan membawa buah sawit melewati jalan-jalan yang rumit dan tidak akan terlalu capek.

Perubahan tersebut menjadikan petani sawit menjadi lebih produktif lagi, karena yang biasanya sehari hanya bisa memanen satu buah kapling, sekarang sudah bisa berkapling-kapling. Jadi ya gitu, kerjaan yang berat, lama-kelamaan akan menjadi lebih ringan.

Jadi petani bukanlah suatu hal yang buruk, karena ya itu tadi, hasil yang didapatkan menjadi lebih berkah karena berasal dari tetes keringat sendiri. Semoga para Petani tetap diberikan kesehatan sehingga hasil taninya bisa dimanfaatkan untuk kelangsungan kehidupan bangsa.

Jika di Riau banyak pohon sawit, berbeda dengan di pulau Jawa, yang mayoritas masih banyak yang bercocok tanam, menanam padi, sayuran, tembakau dan sebagainya. Tetapi jika dilihat lahan pertanian di pulau jawa semakin lama bisa semakin tergerus arus modern. Karena bisa dikatakan bahwa kesejahteraan petani di Jawa masih jauh dari kata mencukupi. Hal ini sebaiknya mulai dicarikan solusi bersama agar kedepannya petani-petani itu tetap bertani dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Karena bagaimanapun merekalah yang memberikan makanan kepada kita, sehingga ada baiknya kita sebagai generasi muda, jika ingin jadi petani gak usah malu, justru berbanggalah karena hasil tani kita akan menjadi pasokan makanan untuk seluruh bangsa.

Petani?? Mengapa tidak??

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.