Skip to content

Cerita Ramadhan : Malam Keenam, Saling menyayangi dan mengasihi

 

Pada setiap diri manusia pasti pernah merasakan disayangi dan dicintai. Rasa itu akan selalu ada dikarenakan manusia lebih suka bersama-sama dengan orang lain dibandingkan dengan menjalani hidupnya sendirian. Terkadang rasa yang timbul tersebut tanpa kita sadari akan selalu hadir karena sudah jadi sifat manusia yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk orang lain. Bahkan, bagi sebagian orang, rasa itu diungkapkan dengan cara yang tidak wajar, seperti rela melakukan apapun untuk orang lain, sampai lupa bahwa didalam dirinya ada kebutuhan yang harus dipenuhi.

Kenapa sesama manusia harus saling menyayangi? Itu pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab, karena semua pasti sudah tau. Ya, agar dunia ini lebih damai. Dengan kasih sayang tidak ada problem yang tidak bisa diselesaikan, dengan kasih sayang juga persaudaraan antar manusia bisa terjalin dengan erat.

Ada kalanya kita sejenak melupakan semua perbedaan-perbedaan yang ada didalam diri manusia. Kita mencari sebuah kecocokan untuk melakukan sesuatu dan berusaha menjaganya menjadi sebuah investasi untuk saling sayang. Kebanyakan dari kita banyak salah mengartikan rasa sayang, ada yang berfikir jika sayang itu hanya untuk pacar, ataupun seseorang yang berarti dalam dirinya. Padahal itu kan lebih luas, bisa saja terhadap anak-anak kecil yang sedang lewat, kepada orang yang lebih tua, dan bahkan kepada orang yang belm kita kenal sekalipun bisa kita menunjukkan rasa sayang tersebut. Misalnya, dengan senyum, saling sapa, atau jika lebih berani mengajak berkenalan dan saling bercerita.

Tetapi, terkadang terasa aneh jika tiba-tiba mencoba akrab dengan orang yang baru dikenal, nantinya pasti disangka tukang hipnotis ataupun mau niat aneh-aneh. Please deh, mulai sekarang hilangkan fikiran negatif dan mulai berprasangka baik terhadap orang lain, jangan sampai prasangka kita yang buruk nantinya akan merugikan banyak orang.

Ada kalanya juga bagi kita untuk berusaha melihat situasi disekitar kita untuk melakukan sesuatu, misal jika ada seseorang yang terlihat bingung tidak ada salahnya kita tanyakan apa yang terjadi. Mungkin terkesan sok baik, daripada cuek kan?? Karena sebenernya kalo keinginan membantu sudah ada, itu bukan sok baik namanya. Sok baik itu, kalo cuma pengin caper dan iseng aja sih sebenernya.

Perlu diketahui, saya kuliah di STMIK Amikom Yogyakarta, salah satu perguruan tinggi di yogyakarta. Banyak kisah duka-dukanya. Suatu saat ada seorang laki-laki dari (maaf) Indonesia bagian timur, beliau memakai pakaian seperti pemain basket gitu, dan terlihat kebingungan di depan gedung 4 kampus saya, saat itu saya langsung tegur, dan tanya apa yang dibutuhkannya dan ternyata beliau ingin mencari bagian Pendaftaran Mahasiswa baru, sontak langsung saya tunjukkan tempatnya dengan diiringi doa “Semoga lain kali lebih bisa berpakaian lebih baik”.

Saya menulis ini bukan untuk rasis, karena saya juga termasuk orang yang tidak begitu percaya dengan tampilan luar belaka, itu kenapa saya selalu terlihat lusuh. (Terusss???). Saya menulis ini agar kita semua lebih mencoba membaca situasi, dimana kita harus berpakaian seperti apa, sehingga orang lain tidak akan melihat kita dengan sinis.

Tapi memang sih, daripada rapi tapi tukang tipu, mending biasa aja kan tapi jujur. Syukur-syukur rapi dan jujur.

Ok kembali ketopik utama, “kasih sayang”. Percaya atau tidak saat ini anak-anak indonesia dijejeli dengan tontonan yang menurut saya sangat tidak mendidik, entah itu hanya ingin mengejar rating doank atau apa. Tapi bisa dilihat dari tayangan-tayangan yang aneh-aneh. Talkshow yang menampilkan aib orang lain, tertawa diatas kekurangan orang lain, saling ejek, saling hina, banyak deh. Secara tidak langsung tayangan tersebut akan berpengaruh terhadap anak-anak.

Udah gitu ditambah dengan tayangan sinetron “cinta-cintaan” yang gak jelas itu, disekolah ditampilkan hanyalah saat berantemnya, saat santai-santainya, bahkan saat-saat mengumbar cintanya, rayu-rayu, goda-goda, sehingga yang menonton berfikir bahwa sekolah cuma buat itu. Itulah kenapa, ketika didunia nyata dihadapkan oleh realita pendidikan seperti tugas menumpuk, materi susah, guru yang galak, buku yang salah, tiba-tiba semua orang menyalahkan sistem pendidikannya, padahal mental anak-anak yang dibuat tidak siap menghadapi dunia nyata oleh tayangan-tayangan seperti itu tidak diprotes.

Teknologi memang semakin bagus, tetapi jika seseorang tidak punya filter (saringan), maka akan kebablasan. Itulah mengapa peran orang tua sangat dibutuhkan, sehingga ketika menonton televisi, anak-anak bisa diarahkan ketontonan yang sesuai umurnya mungkin, seperti film kartun. Atau daripada nonton televisi, mending bermain bersama orang tuanya, belajar bersama, sehingga minat belajar anak akan semakin meningkat karena ada dorongan dari orang tuanya.

Intinya dari tulisan ini adalah :

Ayo, saling berkasih sayang, dan lupakan sejenak perbedaan yang ada.

Ok, selamat berpuasa ya… :*

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.