Skip to content

Harus Ikhlas

Saat kita mengalami suatu peristiwa tentunya bakal bermacam-macam rasa yang bisa kita rasakan. Kadang senang, kadang sedih, dan mungkin lebih seringnya sedih. Tapi mentari harus bersinar, detik jam-pun harus terus berdetak. Hidup ini tidak bisa berhenti begitu saja. Ketika kita memikirkan sebuah kemungkinan yang akan pernah terjadi, mungkin akan ada sebuah analisa singkat tentang kemungkinan terburuk yang sebenarnya juga belum terjadi.

Tapi itulah hidup, terkadang bayang-bayang yang semu itu akan selalu hadir dalam angan serta bayangan manusia. Tak bisa kita tolak dan sekalipun kita coba tuk menghentikannya meski hanya sejenak. Dia akan selalu berjalan dan mengalir menuju muaranya kelak akan berlabuh.

Ikhlas bukan suatu kata yang mudah, tapi tidak ada jalan lain, semuanya pasti akan terjadi, dan tak mungkin kita yang lemah ini akan bisa melawannya. Karena kita takkan bisa hidup dengan penuh kebencian, dan jika kita memilih untuk hidup dengan membenci, apa lantas itu akan berguna, tentunya selain buang-buang waktu, itu juga akan membuatmu rugi.

Benci bisa membuatmu berhenti berkembang, berhenti optimis menatap masa depan, dan bahkan membuatmu stack dan berhenti ditempat. Padahal akan begitu banyak hal yang bisa engkau lakukan jika engkau setidaknya mencoba untuk menerima semua yang terjadi, dan membiarkannya mengalir begitu saja, dan cobalah apa saja yang telah engkau dapatkan ketika mencoba untuk ikhlas.

Tenang, ya ketenangan, tak semua dari kita bisa merasakan hal tersebut, bahkan terkadang akupun juga tidak bisa, tetapi, ketenangan bukanlah sebuah hal yang datang begitu saja, tetapi merupakan hasil sebab akibat dari peristiwa yang terjadi. Akan ada resiko dalam setiap hal, bahkan untuk mencinta pun kita harus siap untuk tersakiti, ini terjadi karena kita memaksakan diri kita untuk bahagia, padahal yang membuat bahagia itu bukanlah dia yang kamu cinta, tapi kamulah sendiri yang cinta padanya yang akan membuatmu benar-benar bahagia.

Ketika dirimu mencintai, maka engkau melupakan begitu banyak logika, begitu banyak luka yang akan engkau rasakan, tapi cinta tidak menyakiti, sebenarnya dia memberikan rasa bahagia, hanya karena rasa benci yang muncul yang akan menjadikan luka tersebut makin membesar dan mungkin akan membuat serta menjatuhkanmu.

Bahagia juga bukan cara, tapi dia adalah akibat, akibat dari sebuah proses yang panjang yang mungkin kamu harus luka berdarah-darah untuk bisa merasakan bahagia. Tetapi apakah bahagia itu sebuah tujuan, ataukah kita merasa tidak bahagia lantas hidup kita tidak bermakna. Please deh yas, cobalah memandang hidup bukan dari apa yang kamu rasakan. Tapi, coba lihatlah disekitarmu, mereka yang hidupnya tak sebaik dirimu, yang mungkin saja tidak seberuntung dirimu, atau mungkin jangan-jangan mereka ingin sekali hidup seperti dirimu.

Terus mengeluh dan membuat diri ini semakin lemah gak akan bisa buat kamu bahagia, karena sekali lagi bukan bahagia tujuanmu, karena yang memberi bahagia itu bukan kamu. Dan bahagia juga bukan soal yang kamu rasakan tapi cobalah menerka apa yang mererka rasakan, apakah selama ini kamu sudah membuat begitu banyak kebahagiaan? Ataukah kehadiranmu hanyalah menghadirkan luka semata?

Saat kita menerima sesuatu dengan ikhlas, maka bahagia pasti yang dirasakan. Pasti.

Apapun itu, kita hanya bisa berusaha, hasilnya tentu akan sejalan dengan yang kita usahakan. Rasa sakit yang dirasakan orang berbeda-beda, bahkan tak mungkin sama. Ya ini soal rasa ya, bukan standar-standar yang biasa dipake buat menyetarakan status sebuah keadaan. Ini soal yang dirasakan bukan yang ditetapkan. Jadi apakah kamu merasa bahagia?
Pertanyaan itu pasti ndak bisa dijawab, karena sekali lagi selama kita memikirkan apa kita bahagia atau tidak, sebenarnya kita itu sedang tidak bahagia, orang yang bahagia itu tidak perlu diungkapkan, hanya perlu dirasakan.

Sayang, terima kasih untuk semua,,,

Ya ini ungkapan rasa terima kasih untukmu, aku menyadari diri ini tak sempurna, aku sadar bahwa diri ini bukanlah apa-apa, dan siapa-siapa.
Yang jelas, denganmu aku bisa berfikir maju kedepan, aku semakin tahu kemana arah hidup ini akan aku usahakan.
Aku tak bisa mengerti semua hal, aku juga tak bisa untuk memaksa diriku mengerti semua hal, karena akan ada selalu ada titik dimana kamu harus menetapkan bahwa kamu harus berhenti untuk memaksa diri.

Akan ada masa, kamu harus merasakan, bukan lagi memaksakan, jika yang kamu rasakan bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin bisa diragukan bahwa itu semua merupakan rasa yang kamu miliki.

Jika diri ini sangat jauh dari cahaya, maka apakah masih begitu penting pendapat naluri? Karena jangan-jangan fikiran jahat itulah yang membuat dan akan menghancurkan kita.

Ketika dahulu kuliah, sang prof ganteng itu selalu memberikan nasehat untuk selalu melihat suatu hal dari sisi positifnya, karena percuma juga kalo yang dilihat negatif, gak bakal menimbulkan efek apa-apa loh. Harus positif.

Semua ini seolah memberikan sebuah garis titik temu, yang bukan sejajar, tetapi harus bersilangan agar tercapai sebuah titik yang nantinya kita juga akan dipertemukan kembali.

Lalu apakah titik temu itu akan memberikan kebahagiaan? Please jangan tanya itu,

Harus ikhlas, ketika kita melepaskan sesuatu, jika memang itu akan jadi milik kita, maka dia akan kembali kepada kita, dan jika tidak? Mungkin itu bukan milik kita, maka tunggu saja mana yang akan jadi milikmu.

Aku nulis ini dibarengi ama lagu karaokenya si “Marya Isma”, itu lo artis smule, yang suaranya unik ra ketulungan. (Hahahaha)

Ditulis di Kubang raya, pekanbaru saat hujan baru saja berhenti.
15 September 2016
Oleh Andriyas Efendi

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.