Skip to content

Ini pekanbaru, bukan Jogja

31 Juli 2016 sekitar jam setengah 8 pagi pelan-pelan kumulai perjalananku kali ini menuju kota pekanbaru. Diawali dengan tangisan sang ibundaku yang sebenarnya berat melepasku pergi kepekanbaru, tetapi beliau menginginkan aku untuk menggunakan semua pendidikanku selama ini untuk menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kehidupanku kelak. Pagi itu aku pergi sendiri, dan sepertinya sepanjang perjalanan ya bakalan sendiri, berat rasanya kali ini meninggalkan rumah untuk kembali merantau. Terkadang terfikir dibenakku, sampai kapan kira-kira aku akan terus seperti ini, apa iya aku bakalan selalu hidup jauh dari rumah, padahal kan sebenarnya aku pengin banget dekat dengan rumah sehingga gak begitu banyak menahan rindu terhadap orang-orang tersayang.

Pagi itu kumulai perjalanan dengan berpasrah, atau bertawakkal kepada Allah, apapun yang terjadi sepanjang perjalanan dan akan jadi seperti apa kelak aku di pekanbaru, sepenuhnya aku pasrahkan ke Allah. Dan sepertinya tidak ada tempat lain deh. Sinar mentari terasa sedikit terik kali ini, ini karena mungkin biasanya kalo kepekan aku seringnya subuh-subuh, dan itu pasti perginya sama bapak, tapi kali ini sendiri, ya aku yang menginginkan sendiri itu. (Salah sendiri)

Sepanjang perjalanan yang kufikirkan dan kuingat-ingat adalah orang rumah, ya orang-orang yang kutinggalkan disana, termasuk si Gadis tersayang itu, yang dulunya Judes itu, tapi sekarang udah manja banget. Beberapa rencana sudah disiapkan demi kelancaran hidup dipekanbaru ini, semuanya agar aku nanti sesampai ditempat tidak seperti kehilangan arah lagi. Seperti dahulu, yang pergi tanpa tujuan dan tanpa arah, sehingga jadinya bukannya mencapai cita-cita, melainkan menikmati hidup saja.

Sudah beberapa kali aku datang kekota pekanbaru, hanya untuk singgah, dan itu tidak untuk waktu yang lama, paling lama berada disini cuman sehari semalam saja. Dahulu pernah ketika baru lulus dari SMK, aku disini menginap hampir seminggu karena ikut ujian SNMPTN ya itu namanya dulu, kalo sekarang mungkin sudah berubah, karena tentu udah pada tau, hampir setiap ganti mentri yang diubah ya nama ujiannya kan yaa.

Kedatanganku serasa disambut dengan beberapa hal yang gak akuk sukai, tapi karena niatnya adalah untuk mengenal maka sedikit demi sedikit aku harus bisa menerimanya dan beradaptasi dengannya. Tidak ada yang ingin kutaklukkan, ataupun ingin menaklukkan kota ini, karena yang aku inginkan adalah mari kita berkemkin tibang bersama, baik itu aku, kamu, dia dan mereka semua yang sama-sama menginginkan yang terbaik untuk kota ini.

Rumah yang ada dipekanbaru ini sudah cukup bagus sebenarnya, dan udah layak banget untuk ditinggali apalagi buat manten anyar, wihhh, cocok banget ni tempat. Kalo tinggal disini sama pasangan ya bakal serasa berdua terus sih, meskipun mungkin agak ngebosenin karena disini koneksi internetnya agak ceket, tapi ya gak papa sih, daripada gak ada kan ya.

Hari pertama disini dipake buat bersih-bersih dan nyiapin apa aja yang kira-kira bakal dibutuhin nantinya ketika tinggal disini, ya tentu saja bakalan belanja beberapa kebutuhan pokok utama biar setidaknya enggak bakalan kaliren, atau kelaparan.

Salah satu hal yang aku bener-bener tekankan ketika aku memutuskan tinggal disini adalah “Ini pekanbaru, bukan Jogja”. Ya ini harus bener-bener ditekankan, karena penting banget, sangat penting malahan. Membandingkan kota ini dengan jogja tentu tidak tepat dan bahkan mungkin gak akan pernah menemukan mana yang bakalan bisa dibandingin. Karena sudah jelas sekali bahwa nama besar jogja bukan hanya soal pariwisatanya, atau julukannya sebagai kota pendidikan, tetapi lebih dari itu jogja sudah jadi tempat rekomendasi untuk melakukan apa saja. Ya hampir apa saja, seperti mau sekolah disana cocok, mau kerja juga cocok atau mungkin mau cari jodoh, sangat cocok sekali. Karena ternyata disana itu banyak anak mudanya dan serunya adalah mereka pada jomblo, Hahahahaha. (Ratna ngomel ni kalo baca, hihihihi)

Tapi benar, kalo kita jauhan pas lagi seneng-senengnya itu bener-bener gak enak si, tapi gimana lagi lo. Harus gini, karena kalo gak aku ntar bakalan nyaman dengan suasana disana loh, kan malah jadi percuma ilmu yang aku punya ni kan ya. Tapi sekali lagi ya itu, kita harus ikhlas dan tawakkal. Biar apa yang jadi mauku dan maumu juga pasti akan kesampaian. Yakan??

Kalo jauh-jauhan gini ni sebenarnya pada nyadar diri si, ternyata pentingnya si dia itu. Penting banget ternyata ya, buat ngebangkitin semangat lagi kan yaa.

Ditulis di Kubang Raya pekanbaru, sambil nonton One Piece.

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.