Skip to content

Jangan tinggalkan aku

Jangan tinggalkan aku, kumohon kepadamu, tak sanggup diri ini, hidup tanpa dirimu. Mungkin sebagian dari kita pernah deh denger lagu itu, tepatnya itu lagunya siapa, jujur aja aku lupa. Lagu itu sebenernya pasti membekas di benak banyak orang kan ya. Atau mungkin jangan-jangan cuma gue aja kan ya. Oke, bukan lagunya yang sebenarnya mau dibahas, tapi lebih kepada yang kata orang-orang biasa disebut “makna” dari sebuah lagu. Bukanlah yang tertulis dengan jelasnya, tapi yang disampaikan dengan begitu banyak bahasa keindahan yang kita sendiri perlu menerka-nerka sebenarnya apa makna yang tersimpan didalamnya.

Aku seperti layaknya pepohonan yang diterpa angin, yang bergerak kesana kemari hanya karena terombang-ambing karena besarnya terpaan sang angin. Ini juga seperti layaknya bintang yang selalu bersinar terang tetapi tertutup awan, sehingga tak nampak lagi keindahannya. Aku sudah merasakan beberapa purnama bersamamu, setidaknya sudah 2 purnama, aku dan kamu menikmatinya bersama, melihat indahnya sang bulan yang memancarkan cahaya, menjadikannya begitu sempurna yang membentuk sebuah lingkaran terang yang dihiasi oleh cahaya-cahaya yang terbias dan terkena awan disekitarnya.

Seperti juga diriku, bulan purnama seolah memberikan sebuah pembelajaran yang begitu berharga, ini seperti kita sedang dinasehati dan diarahkan oleh kedua orang tua kita, yang terkadang maksud dan tujuan mereka itu masih tersirat, perlu waktu dan pemikiran tersendiri agar kita bisa merasakan dan benar-benar merasakan apa saja yang sebenarnya mereka inginkan. Aku dan kamu layaknya sepasang kekasih yang sedang benar-benar dimabuk asmara, ya kita sudah mabuk, kita seolah sudah merasa cocok satu sama lain, walaupun tak begitu mengenal, tapi entah mengapa diri dan hati ini rasanya sudah terpaut kepada dirimu.

Aku juga yakin begitu juga dengan dirimu, biasanya apa yang kita rasakan akan sama. Ini karena yang kita harapkan dan kita lakukan juga sama, sehingga ada sebuah sinyal tersendiri yang menjadikan apapun yang kita rasakan juga jadi sama. Seperti layaknya hamparan tanah kering yang begitu merindukan kemurahan sang hujan untuk menyiraminya. Aku ingin kita layaknya bumi dan hujan, yang satu sama lain saling membutuhkan dan saling memberi manfaat.

Hujan, ya hujan, apa yang teringat ketika hujan turun? Memori yang tentunya akan beterbangan ketika sang Hujan ini turun, apakah kebahagiaan, atau kesedihan yang sering muncul? Nah, kali ini entah mengapa ketika sang Hujan turun, ada rasa yang berbeda yang aku rasakan, jika hari-hari sebelumnya aku seolah takut menghadapi kenyataan yang sering muncul seiring jatuhnya tiap tetes dari Hujan yang membasahi bumi dan apa saja yang ditimpanya. Termasuk diriku, ada semacam sugesti yang menyirami diriku ketika tetesan hujan ini turun, seperti ada perasaan yang entah apa rasanya, yang gak tau itu rasa apa sebenarnya. Karena hujan selalu saja memberikan sebuah rasa Rindu. Ya rindu pada apapun yang ada dimasa lalu ketika hujan ini turun.

Hujan dan rindu seolah tak terpisahkan, karena mungkin sudah ditakdirkan seperti itu, melihat tanah-tanah yang kering dan berdebu, melihat daun-daun yang berguguran, tanaman-tanaman yang lalu, serta rasa panas yang dirasakan setiap makhluk hidup baik disiang maupun malam hari, seolah hanya satu yang paling ditunggu-tunggunya. Meskipun bagi yang kepanasan bisa saja menggunakan alat pendingin, tetapi tetap saja kehadiran hujan selalu saja diinginkan. Ini karena bukan hanya kita butuh air dalam tubuh, tetapi kita juga butuh sebuah rasa senang serta puas yang didapatkan ketika hujan telah turun. Dari tanah-tanah yang basah, tanaman yang kembali segar, serta makhluk-makhluk hidup yang selalu bergembira ketika datangnya hujan. Semoga hujan kali ini membawa berkah.

Teringat kisahku ketika sang hujan itu turun dan aku sedang dalam keadaan tak merindukannya, kala itu aku masih duduk di bangku SMK, aku yang masih kecil dan masih terbiasa terombang ambing dengan yang dinamakan arus kehidupan itu, pernah sesekali merasa sebal dan benci terhadap hadirnya sang hujan. Kala itu aku tak mampu membaca apa sebenarnya yang terjadi dari setiap tetesan yang turun dari langit itu. Atau aku yang saat itu belum bisa merasa lebih peka dengan keadaan sekitarku. Waktu itu seperti biasa hari minggu sore aku berangkat dari desaku menuju sebuah kota tempatku sekolah, setelah ashar aku bersiap dan berangkat menggunakan sepeda motor kesayanganku. Ditengah perjalanan, awan menunjukkan kegelapannya, dan aku merasa harus secepatnya sampai tujuan, sehingga kucoba memacu sepeda motor itu dengan lebih cepat, tetapi mungkin karena ini takdir, ditengah jalan hujan itu turun juga, aku sedikit menggerutu, kenapa ketika aku dijalan kok malah ujan? Kenapa gak ketika udah sampai atau ketika aku dirumah tadi ujannya sih? Semua kalimat menggerutu itu keluar dari dalam diriku, lalu kuputuskan untuk sejenak berhenti, banyak tempat yang sudah pernah jadi tempat persinggahanku ketika hujan turun, di SD f5, di tempat cucian mobil di Logas, di mesjid logas dekat simpang f6.

Dalam hatiku saat itu ketika aku berteduh, aku berusaha memantapkan diri bahwa ini adalah perjuanganku, ini adalah saat dimana aku akan tersenyum kelak ketika aku mengenang bagaimana hidupku ini diawali. Tak ada tujuan lain ketika aku berusaha selalu menerjang hujan itu, bahkan beberapa kali aku nekat dengan beraninya menerjang hujan yang begitu derasnya, dan disepanjang perjalanan yang kuingat adalah Aku harus sabar menghadapi semua ini, ini adalah proses yang kelak akan membawaku kedalam sebuah titik dimana aku merasa bahagia.

Bukan hanya ketika aku SMK ketika aku kuliah juga seringkali kejadian itu terus terulang, dan bahkan ada kebiasaan menarik yang aku lakukan, jika itu aku berangkat kesebuah tempat dan hujan biasanya aku bakal minggir berteduh atau memakai mantel, tapi jika itu adalah perjalanan pulang, biasanya aku tak pernah mau menggunakan mantel, ataupun berhenti sejenak untuk berteduh. Entah mengapa kala kuliah itu setiap tetesan dari sang Hujan begitu berharga untuk dilewatkan, bahkan ketika awan-awan mulai mendung dan rintik-rintik hujan mulai turun, aku malah selalu mencari alasan untuk keluar dari kos. Keluarnya bukan dengan tujuan yang jelas, melainkan tanpa tujuan dan akhirnya cuman naik motor muter-muter jogja dan nikmatin tiap tetes ujan itu.
Begitu juga ketika aku mengenal dirimu, beberapa kali tetesan hujan itu membuatku merasakan kehidupan yang begitu indah, waktu itu aku menjemputmu dari tempat kerja, entah kamu merasakan atau tidak, pernah sekali pas kita sampai di simpang lima, rintik-rintik hujan mulai turun, dan akupun bukannya mempercepat laju kendaraanku, melainkan kupelankan gas motorku, dan kututup mata sejenak dan menikmati tiap tetes yang kurasakan ditubuhku. Owh betapa indahnya dan bahagianya jika diri ini selalu menjadi seorang yang bisa menikmati tiap tetes hujan itu.
Seperti layaknya hujan yang deras sekalipun pasti bakal reda, akan berhenti dan bisa jadi dalam waktu yang lama takkan kembali lagi. Jika itu kita lihat mungkin kejam, tetapi ternyata tidak seperti itu, itulah cara hujan agar selalu dirindukan, karena meskipun sudah reda, air-air yang turun itu tetap memberikan begitu banyak manfaat kepada yang dibasahinya.

Aku ingin sekali menjadi seperti itu, aku tak bisa mengatakan bahwa aku akan selalu ada disampingmu, karena ini diluar batas kemampuanku, yang bisa aku inginkan adalah, aku ingin selalu menjadi hujan yang kau rindukan, dan kehadiranku akan memberikan berjuta manfaat dan kebahagiaan kepadamu.

Ditulis ketika Hujan begitu dirindukan di desaku, desa tercinta Sungai kuning.

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.