Skip to content

Kebebasan

Kemana pun akan aku bawa dirimu bersama dengan semua kenangan yang pernah hinggap diantara kita yang mungkin akan terlalu indah untuk dilupakan tetapi terlalu sakit untuk dikenang. Semua itu lantaran kita, ya aku dan kamu terkadang masih memikirkan diri sendiri dan belum satu visi dan misi yang mungkin takkan selamanya kita akan selalu berada didalam sebuah pendapat yang sama. Mungkin sekali dua kali kita akan merasakan yang namanya perbedaan yang sebenarnya itu akan menjadikan kita manusia yang semakin dewasa dan akan lebih baik lagi dalam menghadapi semua lika-liku kehidupan ini.

Baik aku dan kamu mungkin belumlah menjadi satu tapi tanpa adanya kesepakatan antara kita, mungkin saja tujuan kita yang awalnya sama tidak akan pernah menjadi satu atau istilah singkatnya kita akan selalu dalam perbedaan. Tak mengapa berbeda kan ya, asalkan kita saling percaya dan saling support satu sama lain yang bikin kita bisa menjadi lebih leluasa dalam bergerak, bebas dalam artian bukan melakukan sesuatu sesuka kita, melainkan selalu memberikan sebuah alasan tersendiri untuk mencapai tujuan kita bersama.

Oke, kali ini mungkin pembahasannya lebih luas, bukan sekedar antara aku dan kamu saja. Bukannya bosen, tapi memang sepertinya akan lebih enak lagi kalo pembahasannya bukan sekedar mengenai aku dan kamu. Sekali lagi ini mungkin pola yang seharusnya diikuti sejak awal aku membuat beberapa tulisan awal. Tujuan utama dari pembuatan blog ini serta apa saja yang sebenarnya selalu mengganggu didalam fikiranku. Saatnya kita buka semua.

Kebebasan

Semua dari kita pasti menginginkan yang namanya kebebasan, mau itu dalam menjalani sebuah hubungan, maupun berbuat sesuatu. Bahkan seringkali kita merasa bahwa diri ini harus sebebas mungkin melakukan yang kita mau dan kita suka tanpa memperdulikan apakah orang lain senang atau tidak dengan kelakuan kita. Oke, sekilas nampak jika memang ego manusia itu gakkan pernah yang namanya turun, makin naik iya.

Lalu, bebas disini maknanya apa?

Untuk ngejawab pertanyaan tersebut mungkin agak sulit, karena definisi bebas menurut orang, pasti berbeda, termasuk juga aku. Semisal, dijalanan ada anak kecil yang baru bisa naik motor trus dia gak make helm, terus dia naiknya ugal2an dan membahayakan pengendara lain. Dari sini saja kita bisa ngelihat perbedaan pendapat loh, dari sisi sang anak kecil tentunya dia pengin banget bergaya seperti itu kan, karena menurut dia itu yang namanya bebas, serasa jalan miliknya sendiri. Tapi kalo menurut aku yang ternyata ribet ini, woohhhhh, itu bahaya sekali, kalo yang jatuh cuma kamu okelah dek, tapikan kalo kamu trus nabrak orang lain yang berusaha hati-hati kan bener-bener ngeselin.

Trus lagi, soal lampu lalu lintas. Sebagian orang masih belum menganggap penting bahwa mematuhi lampu lalu lintas adalah demi kelancaran dan keselamatan berkendara. Mikirnya, ah masak cuma gara-gara ngelanggar lampu bakal bahaya. Kan ntar aku gak mungkinlah ngeliat mobil didepan trus aku gasak gitu aja kan. Kan aku juga bisa mikir mana yang bahaya dan tidak. Oke, sebagian kita pasti pernah dong berfikir seperti itu, pasti pernah, apalagi kalo lampu merah itu tinggal didaerah tempat tinggal kita, seolah lampu itu kita yang ngatur, ya karena kan milik kita.

Padahal tidak mematuhi lampu lalu lintas itu bukan cuma dampak terhadap pengendara loh, pernah gak berfikir kalo kepatuhan terhadap aturan lalu lintas bisa dijadikan parameter pemimpin yang baik? Mungkin bagi kita gak peduli, n bodok amat ah dengan semua itu, tapi bagi pemimpin itu sangat penting lohhh. Coba bayangkan kalo suatu saat presiden lewat jalan situ dan tanpa barikadenya, karena niatnya cuma pengin “blusukan”, trus ngeliat kondisi jalanan yang semrawut itu. Bayangkan pemerintah daerahnya, ndak mungkin dibiarin begitu aja kan, bisa-bisa malah dipecat gitu aja kan, karena dianggap gagal.

Owh, mungkin masih berfikir kalo gak mungkin dampaknya akan sebesar itu?
Lalu, sebaiknya gimana ya dalam menyikapi kebebasan ini?
Bukankah setiap dari kita punya hak-hak yang harus dipenuhi, iya benar, tapi menurut seorang teman yang kuliah di jurusan Hukum, benar bahwa kita semua punya hak untuk berekspresi, tetapi ada tuntutannya juga, bahwa jangan sampai hak kita juga mengganggu hak orang lain. Misalnya, mungkin bagi sebagian kita memutar musik dengan keras itu Ok ok aja, tapi pernahkah terfikir kalo ada hak orang lain yang kita langgar? Hak mereka untuk hidup tenang sebenarnya sudah kita usik sedikit?

Nah, ternyata kebebasan yang kita miliki ini merupakan kebebasan yang terikat, ya terikat, selama itu akan mengganggu kepentingan orang lain, maka kebebasan yang kita miliki juga gak bisa disebut dengan bebas lagi.

Lalu gimana kalo kita udah terlanjur egois dan suka menuntut agar semua hak kita dipenuhi? Ya solusi, satu-satunya ya harus berubah, harus dari sekarang mulailah berubah. Kalo sering melanggar aturan lalu lintas, ya ada baiknya mulai sekarang berusahalah untuk sering-sering belajar aturan apa aja si dijalanan itu, lantas kalo lampu merah gimana harus di patuhinya. Jangan manja, hanya karena disekolah dahulu tidak diajarkan maka gak mau belajar, ilmu itu banyak, bahkan ketika kita bangun tidur pun kita udah ada banyak ilmu yang bisa kita ambil.

Sudah mengerti bukan kira-kira kebebasan yang saya maksud?

Ditulis di kamar kecil yang sudah diberantakin.

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.