Skip to content

Lingkunganku

Siang ini mentari bersinar begitu panasnya, teriknya matahari tak membuat kulit terbakar melainkan memberikan rasa panas ditubuh kalo kata orang jawa ya sumuk. Aktifitas warga Nampu sudah mulai mereda, dan mulai kembali kerumah masing-masing. Terlihat sepasang muda mudi sedang berboncengan menggunakan sepeda motor ninja, dan mereka terlihat begitu akrab layaknya pasangan yang sudah dimabuk asmara dan lupa akan lingkungan yang berada disekitarnya.

Aku pun terduduk diteras rumah sambil sedikit menikmati semilir angin yang bisa meredakan rasa panas ini. Kulihat ada seorang nenek yang sedang duduk diteras rumah dan sedang melihat-lihat apa saja yang ada disekitar nya. Aku melihat beliau begitu menikmati hidupnya saat ini, beliau bukanlah orang yang kaya ataupun selalu dalam keadaan beruntung. Melainkan dia bahagia dikarenakan sikap2 orang jawa yang nerimo serta dekat dengan orang-orang yang menyayanginya. Teringat dikepalaku akan sosok kedua orang tuaku yang jauh di sana, disebuah desa kecil yang bernama Sungai Kuning, bagaimana keadaan mereka sekarang baikkah? Atau dalam keadaab yang tidak baik, jika biasanya jam segini aku dirumah, bapak biasanya masih diladang dan ibuk baru saja selesai beres-beres rumah.

Mereka berdua merupakan partner yang menurut aku sangat klop, ini bisa dilihat dari bapak yang tekun serta ulet bekerja, serta ibu yang selalu ada dan mendukung setiap apapun yang dilakukan bapak, bahkan di beberapa kesempatan ibuk selalu menemani bapak juga bekerja. Bukanlah dalam hidup ini menemukan partner yang bisa bekerja sama dengan kita juga merupakan faktor penting, meskipun dalam menilai seseorang kita tidak harus selalu menggunakan analisa yang ribet seperti kalo orang jawa melihat bibit, bebet, serta bobotnya. Tapi kita sudah dewasa, kita bisa melihat sekilas apakah kita bisa berpartner dengan baik dengannya atau tidak.

Suasana di dusun Nampu ini begitu sepi, cocok bagi para warga perkotaan yang sedang stres dengan macetnya, kerjaan serta pola hidup mewahnya. Disini bisa belajar banyak, terutama tentang kesederhanaan dan rasa syukur. Bangunan-bangunan yang ada disini tidak begitu mewah, bahkan jalananpun masih terbuat dari batu-batu padas yang disusun sedemikian rupa, sehingga bisa digunakan untuk jalan. Masyarakatnya yang ramah menambah suasana nyaman berada disini, hanya saja, bagi orang-orang yang terbiasa dengan teknologi, akan lumayan kesulitan, terutama masalah sinyal. Disini sinyal bisa dikatakan sangat sulit, ada, tapi jika digunakan tidak bisa. Untuk sms perlu beberapa kali kirim, itupun terkadang masih pending dan lama sekali diterimanya. Telfon juga begitu, nyambung, tetapi suaranya macet-macet dan terkadang tidak ada suara sedikitpun yang terdengar. Apalagi internet, bisa dikatakan lebih parah, karena ya hilang timbul, jika dikota kota berlomba-lomba sinyal 4G, disini mendapatkan 3G saja sudah senang, dan itupun terkadang tidak bisa digunakan. Sungguh ironi.

Sudah hampir setahun yang lalu aku menghampiri desa ku yang di Sumatera, disana kondisinya ya hampir tidak jauh berbeda, yang membedakan disana kondisi ekonomi sudah mendingan dan beberapa fasilitas seperti jalan umum sudah mulai bagus. Tahun lalu ketika aku disana, sinyal operator sudah lumayan meskipun masih agak lambat menurutku. Itu jika tidak mati lampu, lain lagi jika tiba-tiba listrik dari PLN padam, seketika sinyal mulai hilang.

Jika dilihat dari kondisi lingkunganku diatas maka perlu juga diceritakan tentang lingkunganku dijogja. Ya, sudah tertebak, pasti jauh berbeda dijogja dengan daerah manapun. Bagi siapa saja yang pernah kejogja pasti kesan yang dirasakan cuma satu, nyaman. Itulah jogja, apapun ada, sarana bagus serta warganya yang ramah serta biaya hidup yang murah menjadikannya salah satu tujuan tempat tinggal yang direkomendasikan. Tapi apakah untuk bahagia kita harus memerlukan tempat seperti jogja? Bagiku tidak, karena menurut beberapa orang yang aku temui, tinggal didesa adalah sebaik-baik tempat. Desalah yang memiliki tingkat kebahagiaan paling tinggi, meskipun kondisi ekonomi yang pas-pasan tapi tetep hubungan dengan tetangga terasa dekat sekali. Berbeda dengan dikota, bahkan jogja sekalipun, keakraban itu sudah tidak seperti didesa lagi. Apalagi belakangan ini sedikit demi sedikit biaya hidup dijogja sudah mulai naik, ini bisa dilihat dari naiknya harga kos-kosan, kontrakan bahkan makanannya. Bagi yang menemukan makanan yang murah biasanya tempatnya biasa2 aja berbeda dengan yang mahal, fasilitas mulai lengkap. Ini kalo dilihat, beberapa tahun lagi sepertinya jogja akan jadi kota2 lainnya.

Pernah merasakan hidup dilingkungan yang berbeda juga merupakan kenikmatan, karena kita bisa belajar banyak hal, terutama menjadi manusia yang lebih dewasa lagi. Dari pengalaman hidup itulah yang nantinya akan menuntun kita menjadi manusia yang bisa bermanfaat. Itulah mengapa banyak orang tua menyarankan untuk merantau bagi anak-anak muda, ini agar bisa melihat dunia lebih luas, lalu nantinya kembali ke desanya dan membawa hal-hal positif yang ada dan mulai menjadikan desanya menjadi desa yang nyaman.

Ngawi, dusun Nampu, desa Bringin, kecamatan Bringin. Oleh Andriyas efendi

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.