Skip to content

Melati aku benci kamu

Ada yang menarik pada beberapa kisah yang terjadi pada setiap orang. Begitu juga tentang dia yang mungkin dulu engkau cintai sekarang cuma jadi sebuah kenangan pahit yang pahitnya itu udah ngelebihi kopi, tu ngapa mungkin saat ini kopi bukanlah teman yang tepat untuk menemani hari-harimu. Tetapi tidak seperti bunga melati sesungguhnya yang putih bersih ataupun yang beraroma begitu wangi.

Melati, dia pergi dan meninggalkanku, sendiri disini menatap layar kosong yang disebut katanya si sindrom kertas putih, dimana ide dan isi kepala hanya terpaut padanya dan tidak menemukan satupun alasan kuat yang akan bisa membuatmu menjadi berfikir secara normal kembali. Karena seolah hidupmu yang separuh lagi udah direnggut, kembalikan semua yang telah engkau ambil dariku, kemana engkau bawa janji-janji manis itu, sekarang setelah kuingat secara jelas semuanya, engkau malah pergi begitu saja meninggalkanku.

Apa segitu tidak berartikan diriku dimatamu? Atau bagaimana sebenarnya engkau memandangku selama ini? Siapakah aku? Dimana aku? Bahkan apa sebenarnya aku ini?

Itu adalah beberapa kalimat yang keluar dari orang yang galau ya, bukan berarti representasi dari perasaan yang penulis rasakan, karena ada kala kita harus masuk kedalam sebuah kondisi dimana kita harus benar-benar merasakan apa yang orang lain rasakan sehingga kita bisa kembali menuliskan kisah tersebut secara gamblang dan jelas.

Beberapa hari ini udah disibukkan sama kerjaan yang bisa dikatakan capek dijari dan pusing dikepala. Seolah rasa mau pecah saja ni kepala, ditambah deadline yang mencekik serta pekerjaan yang tak ada todolistnya, jadi aku serasa mengawang-awang, membayangkan bayanganmu hadir didalamnya. Eh,

Tak butuh waktu lama untuk benci terhadap seseorang, apa lagi jika dia yang pernah engkau anggap sebagai teman hidupmu, tempatmu berbagi kisah, cerita serta curhat tentang masalah-masalah yang pernah engkau hadapi. Tak perlu waktu lama untuk berusaha untuk melukai diri dengan cara membuat diri ini benci kepadanya. Karena tentunya itu akan bertolak belakang dengan prinsip yang selama ini kamu pegang. Untuk tidak membenci siapapun, tetapi jika engkau tidak membencinya, lantas percaya atau tidak kamu hanya akan jadi manusia baperan yang mungkin kisah kasihmu akan jadi sebuah legenda, yaitu legenda “Ketika cintamu bertepuk sebelah tangan”.

Malam jum’at, gerimis hujan diluar sana, dan aku meringkuk kedinginan didalam kamar dikarenakan sudah 2 hari ini pulang kerja diguyur hujan. Pas ujan-ujanan rasa dingin itu gak kerasa sama sekali, karena mungkin lebih dingin sikapmu kepadaku akhir-akhir ini. Tapi sampai rumah ya tetep aja, tetes demi tetes air mata hidung itu mulai mengalir. Dan kedatangannya tak bisa diprediksi, terkadang dia hadir begitu saja, seperti perasaan ini yang kadang muncul begitu saja tanpa melihat apakah ini saat yang tepat atau tidak.

Melati, keindahan yang jangan cuma dipetik, tapi harus dicium wanginya disiram tubuhnya, sehingga semakin hari melati tersebut makin tumbuh menjadi dewasa, meskipun pada akhirnya akan layu dan bahkan potel juga dari dahannya. Itu siklus hidup melati, lalu bagaimana dengan dirimu? Yang aku anggap sebagai melatiku.

Aku tak tahu tentang melatiku, karena ketika aku menanamnya dengan hati-hati ternyata dia tidak hanya tumbuh mendewasa tetapi sesaat dia berubah menjadi mawar yang berduri, indah dan harum wanginya, tapi tubuhnya berduri dan bisa melukai.

Tak semua keindahan itu akan memberikan kebahagiaan, dan tak semua yang kelihatannya indah dan baik akan bener-bener indah. Indah sebagai kata sifat yang merepresentasikan sebuah keadaan yang membuat mata terbelalak dan sejenak tidak bisa berfikir dan hanya bisa melihatnya terpaku, terdiam dan tersenyum melihatnya tumbuh menjadi melati yang benar-benar melati.

Bencilah melati itu jika memang dia berubah menjadi mawar, karena itu sudah tidak lagi pada tempatnya, dia sudah mulai berubah menjadi sosok yang lain. Yang mungkin engkau tidak akan lagi mengenalnya, bukan karena sudah lupa tapi engkau hanya tidakk menyangka bahwa dia berubah sedemikian rupa.

Melati, aku membencimu bukan berati aku tak menyukaimu, jika memang melati itu mulai berduri maka apalah daya diriku yang hanya bisa membiarkan diri ini tertusuk oleh dirimu, karena aku tak mau hanya memetik dirimu, yang ingin kulakukan adalah merawat dan menjadikanmu melati yang sesungguhnya. Karena itu semua bukan karena betapa besar rasa sukaku padamu, tapi itu lebih kepada aku yang sudah menjadikan diri ini tempat engkau kembali untuk lebih mendewasa lagi dan merengkuh kesejatian sebagai melati yang harum mewangi.

Lalu ketika engkau ingat melati sebagai ekspresi perandaian dirimu, apa yang engkau ingat, jujur saja awalnya akan bahagia-bahagia saja, tetapi lama kelamaan akan terasa sekali kehadirannya sudah tak lagi ada disisimu, melainkan dia sudah dipindah ketempat yang lain, mungkin sekali karena tidak cocok hidup ditempat yang lama, maka dia harus pindah mengisi kekosongan energi akibat ditempatkan ditempat yang tidak seharusnya.

Hujan beberapa hari ini seolah memberikan jadwal yang teratur agar kamu bisa lagi menyesuaikan dengan keadaan disekitarmu, kamu harus merasa lebih peka lagi untuk menatap bagaimana alam ini memperlakukan isinya. Seperti melati yang harus kembali berinteraksi lagi dengan tanah yang baru, dan mungkin pot yang baru, atau bahkan merelakan dirinya untuk dipetik oleh tangan-tangan jahil. Hujan disenja hari secara tidak langsung membuat ekspresi yang merasakan air tetesannya menjadi berbeda, yang dahulu tetes demi tetes membuatku tersenyum karena teringat akan melati yang akan disiram oleh air dari langit dan yang akan menyuburkannya, tetapi kali ini air itu bukan mendatangkan kesenangan, tetapi sedikit duka yang mungkin saja menjadikannya kebal terhadap derasnya hujan diluar sana, dan tetap memandangnya sebagai berjuta-juta panah yang tak akan sampai menusuk hati, karena hatinya serasa udah kebal, bukan karena kuat, melainkan karena begitu pedih dan sakitnya luka itu sehingga sampai tak bisa lagi mengeluh untuk mengatakan sakit.

Tapi sebagai pengagum melati, mungkin engkau hanya akan diam dan sejenak memandang melati tersebut, maka cobalah tersenyum padanya, dan katakan padanya “Melati, aku benci kamu”.

By Andriyas Efendi
Pekanbaru

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.