Skip to content

Blender Posts

Dibawah langit yang sama

Perlahan matahari mulai tenggelam, pertanda akan datangnya sang malam. Ini merupakan fase dari salah satu tugas matahari yang selalu menerangi bumi dengan cahayanya yang penuh dengan berjuta manfaat. Aku masih terpaku menatap langit yang perlahan cahaya birunya mulai hilang dan perlahan digantikan oleh cahaya mega merahnya pertanda bahwa siang akan berlalu. Bagi siapa saja yang pernah memperhatikan dengan benar-benar mengenai proses kejadian alam ini, pasti sudah benar-benar mengerti tentang apa arti dari kehidupan sebenarnya.
Sejenak melihat kejadian alam menjadikan diri kita akan lebih dalam lagi dalam mengenal kehidupan ini. Seperti juga aku, yang masih begitu perlu banyak belajar lagi. Aku akan selalu berusaha menatap senja itu dan mencari-cari apa sebenarnya makna yang tersembunyi didalamnya.

Karena jika kita terbiasa melihat yang jelas didepan mata dan tak mampu melihat lebih jauh kedalam maka aku gak akan berkembang, yang ada malahan aku bakal diam ditempat. Padahal hidup ini ya harus terus move, terus gerak dan jalan.

Senja, denganmu aku bisa terpaku sejenak menatap perubahan alam ini, sejenak aku bisa meluangkan beberapa waktuku untuk mengingat kejadian-kejadian apa saja yang pernah terjadi kala waktu matahari itu mulai tenggelam. Aku tak mengerti mengenai apa arti sebenarnya dari senja, apa yang dirasakan setiap orang mengenai senja, tetapi yang aku rasakan saat menatap senja hari, yang kuingat hanya kumpulan-kumpulan penyesalan yang perlahan mulai hilang layaknya matahari yang tenggelam, tetapi esok paginya terbit lagi dan begitu terus, hilang dan muncul kembali.

Seolah diri ini sedang dipermainkan dengan permainan yang begitu halus, karena permainan ini bukanlah mainan ketika kecil dulu yang jika kita lari, kesandung dan terjatuh lantas terluka, kita tak pernah merasakan bingung ataupun tak mengerti kenapa kita terluka, ini luka yang penuh dengan ketidak jelasan. Luka itu bukanlah luka yang nampak jelas diluarnya, melainkan luka yang bisa membuatmu menjadi orang yang tegar, karena berusaha menyembunyikan segala kesedihanmu. Luka yang bisa membuatmu tersenyum pada dia dan siapa saja yang melukaimu.
Luka yang kamu teringat akan dirinya bukannya semakin sembuh, tetapi luka itu serasa semakin lebar, perasaan tidak terima, perasaan ingin balas dendam dan bahkan perasaan untuk melampiaskan kesemuanya itu. Lantas apakah selalu setiap senja hanya akan datang perasaan-perasaan kita yang dipermainkan, apakah kedatangan senja hanya selalu berkutat mengenai patah hati?

Apakah senja begitu bersalah sehingga dia layak dipersalahkan, apakah jika suatu ketika terjadi kejadian indah kala senja itu lantas engkau mengatakan “Senja, hadirmu mendatangkan sejuta kebahagiaan”, atau engkau akan mengatakan “Senja, luka yang engkau hadirkan belum juga sembuh, tetapi engkau sudah menambahnya dengan luka yang baru”.
Senja tidak bersalah, dia bukan hanya sebagai pelampiasan kesedihan banyak orang, tetapi sebenarnya senja itu ingin menunjukkan jika aku dan kamu saat ini sedang menyaksikan suatu hal yang sama, menunjukkan jika sebenarnya kita itu hidup disatu atap yang sama.

Jika memang kita dipisahkan, tentunya masih berada dilangit yang sama. Ya sama, langit kita sama, bahkan sampai kita matipun, langitnya tetep sama. Tapi apakah kita menyadari jika kita sebenarnya ada untuk bersama? Apakah jika kita dipisahkan lantas kita pasti berpisah? Begitu juga apakah jika kita dipersatukan, kita benar-benar bersatu?
Tentunya akan tetap ada yang namanya perbedaan, yang mungkin terlalu sulit untuk dimengerti dan bahkan mungkin terlalu rumit juga untuk dijelaskan. Itu mengapa terkadang luka itu muncul tanpa sebab, ataupun jika sebabnya ada, tetapi rasa yang dirasakan pastinya tak bakal bisa benar-benar menunjukkan rasa yang sebenarnya.

Karena ketika kita berada ditempat yang sama, lantas apakah kita benar-benar berada ditempat yang sama? Bukankah jeruji-jeruji yang menghalangi aku dan kamu bersatu itu tetap ada, bukankah semua yang kita lakukan juga bakal bisa jadi pemicu yang suatu saat kelak akan memisahkan kita lagi.

Setidaknya jika kita berada dilangit yang sama, maka usahakan kita memiliki visi yang sama, serta misi yang akan kita jalankan bersama juga, karena seperti kata orang-orang, melakukan hal bersama-sama itu akan menjadikan pekerjaan akan lebih ringan, tetapi disini bukan hanya mengenai membagi satu pekerjaan menjadi banyak, melainkan menentukan kerja masing-masin, sehingga akan tercipta sebuah sinergi yang akan menyatukan kita.

By Andriyas Efendi
Pekanbaru


Seperti juga bulan, aku juga bisa merindu

Mungkin tak semestinya ini semua diungkapkan, karena tak semua kalimat akan sama maknanya ketika yang membaca berbeda, tetapi tak ada kalimat yang tak bisa dimengerti. Karena kalimat merupakan salah satu cara atau gaya bahasa seseorang untuk menyampaikan sesuatu, ada yang menggunakan bahasa isyarat dan ada juga yang terang-terangan mengungkapkannya. Terkadang itu yang membuatnya menjadi mudah dimengerti. Seperti juga bulan, aku juga bisa merindu, kalimat ini buat anak-anak jaman 90an kayaknya familiar banget, kala itu masih awal-awalnya punya hape, dan beberapa lagu juga ada yang sampai sekarang masih terkenang, kalo ndak salah lagunya siti nurhaliza yang judulnya “Wulan merindu”.

Apa yang terjadi belakangan ini terhadap diriku setidaknya membuka sedikit cakrawala lagi dalam memandang hidup ini, seolah akan menunjukkan ke sebuah titik dimana tujuan hidup kita ini menjadi jelas, jadi bukan hanya sekedar mengalir bagai air begitu saja, tapi jelas tujuannya menuju ke arah yang lebih rendah. Itu jika mengambil filosofi air, tapi berlaku juga bagi para kapal, yang kemanapun dia berlayar, dia juga pasti tahu tujuan dermaga tempat dia berlabuh dan nantinya untuk berhenti dan memutuskan untuk menetap didermaga itu.

Seperti juga pesawat terbang, yang dalam satu waktu bisa berpindah-pindah tujuan, terkadang dalam perjalanan akan terjadi gejolak yang menghambat atau bisa lancar seperti apa adanya. Jadwal penerbangan yang tidak menentu juga terkadang menjadikan proses menunggu menjadi lebih lama lagi, tetapi tetap saja, akan ada kepastian berapa lama para penumpang akan menunggu.

Halah, ngomong apa ini. Ada kala saat-saat terburuk bagi seseorang untuk memutuskan menyendiri, karena tidak selamanya sendiri itu akan memberikan efek yang baik, ada kalanya menyendiri akan menjadikanmu menjadi lebih terpuruk lagi.
Apalagi jika yang ada didalam benakmu hanyalah hal-hal yang menyakitkan dirimu untuk diingat, apalagi dikenangkan. Tidak semua yang kita ingat adalah hal-hal yang bahagia, pastinya ada kala sesuatu yang berusaha keras kita lupakan, dia akan hadir begitu saja. Seperti angin yang terkadang hadirnya memberikan kesejukan, tetapi jika terlalu kencang juga bakalan bikin ribet.

Kata menjadi tak berarti lagi ketika sudah tak ada lagi rasa dalam hati, karena sedikit banyaknya kata merupakan hasil dari olahan fikiran dan yang dirasakan dengan hati. Apa yang dirasakan tentunya juga akan sedikit banyak mempengaruhi apa yang akan diucapkan dan yang akan tertuliskan.

Seperti juga rindu, ada kalanya yang dirindukan adalah dia yang selama ini sudah engkau yakinkan dan engkau pilih melalui beberapa proses pendekatan, atau yang dirindukan adalah masa-masa bersamanya. Atau bahkan hal-hal yang kamu benci sekalipun akan bisa memberikan efek rindu yang bisa jadi tidak terbendung.

Lalu salahkah rindu jika kehadirannya hanya mendatangkan luka baru? Karena ada beberapa luka yang bisa sembuh tapi dengan resiko masih meninggalkan begitu banyak bekas. Itu mengapa bagi para pecinta, sudah menjadi resiko akan banyaknya bekas-bekas luka hati yang dideritanya.

Dan luka yang paling menyakitkan adalah melihatnya mengabaikan diri kita, seolah bidadari yang sudah dicuri selendangnya tapi sang pencuri tak mengembalikannya sehingga dia hanya bisa menatap bulan karena tak bisa lagi mencapainya.
Atau seperti layaknya para pecinta itu yang masih juga bisa sabar ketika dirinya begitu sering dilukai, begitu sering diabaikan, karena mereka meyakini, jika cinta memang takkan selancar jalan tol, ataupun semulus lembaran kertas, ada kalanya cinta layaknya pedang, yang akan menikam dan melukai kita jika kita tidak pandai dalam merawatnya.

Lalu bagaimana caranya agar rindu yang hadir itu takkan berefek pada diri kita, setidaknya ada beberapa hal yang sering dilakukan para korban-korban patah itu, dan mungkin juga ini akan dilakukan mereka yang berusaha menjada diri agar tidak lagi gagal dalam menjalin sebuah hubungan dan kecewa berlebihan.

Menangis.
Ya, pertama kali bagi para korban itu biasanya menangis, menangislah, sesalilah semuanya, bahkan jika perlu salahkan dirimu dan salahkan dirinya dengan kesalahan yang benar salah, ini akan memberikanmu dorongan untuk menjadi lebih sedih lagi dan nantinya kamu bakal lebih lega, jika perlu menangislah sampai engkau bisa minum dengan air matamu sendiri. (by Wira)

Menatap masa depan dengan lebih optimis.
Ada yang lagi dipersiapkan untukmu, ada yang sedang menunggumu dengan setia, dan ada yang sedang memperjuangkanmu. Katakan kalimat-kalimat itu yang akan sedikit memberikan dorongan bahwa kesedihan harusnya berlalu, tukang ojek saja yang begitu lelah menunggu dan terkadang tak mendapatkan penumpangpun esok harinya masih tetap berangkat mangkal untuk mencari penumpang lagi. So, mulailah mencari-cari apa saja yang hilang selama ini karena terlalu sibuk dengannya, perbanyak belajar apa saja yang menurutmu perlu, dan jangan lupa untuk lebih banyaklah senyum, tapi perlu diingat, senyumlah untuk semua orang, tapi hatimu jangan. (JANGAN)

Mencari makna dibalik kegagalan.
Nah, akhirnya langkah terakhir ya coba diselami lagi dalamnya samudera kegagalan itu, dan akan sampai mana dasarnya. Coba engkau cek dalam dirimu, apa yang kurang yang ada padamu, karena mungkin bisa jadi momen ini adalah saat yang tepat buatmu untuk memperbaiki diri. Tentunya akan banyak hal yang bisa engkau koreksi, entah itu karena terlalu terlena, terlalu cuek atau bahkan karena engkau merasa dialah sang pemilik hatimu maka engkau lebih sering merasakan luka daripada kelukaan itu sendiri.

Setelah ketika hal itu kamu lakukan, maka mulailah tetapkan tujuan hidupmu kembali, bergaullah dengan siapa saja yang menurutmu akan membantumu, hubungi sahabat-sahabat yang peduli padamu, mereka yang memandangmu bukan karena engkau berkulit putih, anak baik atau bahkan anak dari orang kaya, tapi mereka yang memandangmu apa adanya dirimu, karena mereka adalah teman-teman terbaik yang akan selalu mendukungmu meskipun saat itu engkau sedang tak butuh mereka sekalipun. Dan tentunya cobalah untuk saling berbagi pengalaman, mencari cari apa saja yang pernah dilakukan, ceritakan dan semoga engkau sedikit banyak rindu yang tadinya itu sangat membuatmu terpuruk, hanya akan jadi bahan candaan yang tidak lucu dan tentunya tidak melukai juga.

Kesimpulannya, merindulah jika rindu itu memang benar-benar hadir dalam hadirmu, karena tidak semua yang kita lawan lantas kita akan menang, berdamailah dengannya, karena bisa jadi itu akan membuatmu menjadi lebih bahagia.

Ditulis ketika mentari bersinar terang, seolah mengatakan, aku tetap bersinar meskipun beberapa hari yang lalu aku ditutupi oleh awan-awan itu.

By Andriyas Efendi


Harus Ikhlas

Saat kita mengalami suatu peristiwa tentunya bakal bermacam-macam rasa yang bisa kita rasakan. Kadang senang, kadang sedih, dan mungkin lebih seringnya sedih. Tapi mentari harus bersinar, detik jam-pun harus terus berdetak. Hidup ini tidak bisa berhenti begitu saja. Ketika kita memikirkan sebuah kemungkinan yang akan pernah terjadi, mungkin akan ada sebuah analisa singkat tentang kemungkinan terburuk yang sebenarnya juga belum terjadi.

Tapi itulah hidup, terkadang bayang-bayang yang semu itu akan selalu hadir dalam angan serta bayangan manusia. Tak bisa kita tolak dan sekalipun kita coba tuk menghentikannya meski hanya sejenak. Dia akan selalu berjalan dan mengalir menuju muaranya kelak akan berlabuh.

Ikhlas bukan suatu kata yang mudah, tapi tidak ada jalan lain, semuanya pasti akan terjadi, dan tak mungkin kita yang lemah ini akan bisa melawannya. Karena kita takkan bisa hidup dengan penuh kebencian, dan jika kita memilih untuk hidup dengan membenci, apa lantas itu akan berguna, tentunya selain buang-buang waktu, itu juga akan membuatmu rugi.

Benci bisa membuatmu berhenti berkembang, berhenti optimis menatap masa depan, dan bahkan membuatmu stack dan berhenti ditempat. Padahal akan begitu banyak hal yang bisa engkau lakukan jika engkau setidaknya mencoba untuk menerima semua yang terjadi, dan membiarkannya mengalir begitu saja, dan cobalah apa saja yang telah engkau dapatkan ketika mencoba untuk ikhlas.

Tenang, ya ketenangan, tak semua dari kita bisa merasakan hal tersebut, bahkan terkadang akupun juga tidak bisa, tetapi, ketenangan bukanlah sebuah hal yang datang begitu saja, tetapi merupakan hasil sebab akibat dari peristiwa yang terjadi. Akan ada resiko dalam setiap hal, bahkan untuk mencinta pun kita harus siap untuk tersakiti, ini terjadi karena kita memaksakan diri kita untuk bahagia, padahal yang membuat bahagia itu bukanlah dia yang kamu cinta, tapi kamulah sendiri yang cinta padanya yang akan membuatmu benar-benar bahagia.

Ketika dirimu mencintai, maka engkau melupakan begitu banyak logika, begitu banyak luka yang akan engkau rasakan, tapi cinta tidak menyakiti, sebenarnya dia memberikan rasa bahagia, hanya karena rasa benci yang muncul yang akan menjadikan luka tersebut makin membesar dan mungkin akan membuat serta menjatuhkanmu.

Bahagia juga bukan cara, tapi dia adalah akibat, akibat dari sebuah proses yang panjang yang mungkin kamu harus luka berdarah-darah untuk bisa merasakan bahagia. Tetapi apakah bahagia itu sebuah tujuan, ataukah kita merasa tidak bahagia lantas hidup kita tidak bermakna. Please deh yas, cobalah memandang hidup bukan dari apa yang kamu rasakan. Tapi, coba lihatlah disekitarmu, mereka yang hidupnya tak sebaik dirimu, yang mungkin saja tidak seberuntung dirimu, atau mungkin jangan-jangan mereka ingin sekali hidup seperti dirimu.

Terus mengeluh dan membuat diri ini semakin lemah gak akan bisa buat kamu bahagia, karena sekali lagi bukan bahagia tujuanmu, karena yang memberi bahagia itu bukan kamu. Dan bahagia juga bukan soal yang kamu rasakan tapi cobalah menerka apa yang mererka rasakan, apakah selama ini kamu sudah membuat begitu banyak kebahagiaan? Ataukah kehadiranmu hanyalah menghadirkan luka semata?

Saat kita menerima sesuatu dengan ikhlas, maka bahagia pasti yang dirasakan. Pasti.

Apapun itu, kita hanya bisa berusaha, hasilnya tentu akan sejalan dengan yang kita usahakan. Rasa sakit yang dirasakan orang berbeda-beda, bahkan tak mungkin sama. Ya ini soal rasa ya, bukan standar-standar yang biasa dipake buat menyetarakan status sebuah keadaan. Ini soal yang dirasakan bukan yang ditetapkan. Jadi apakah kamu merasa bahagia?
Pertanyaan itu pasti ndak bisa dijawab, karena sekali lagi selama kita memikirkan apa kita bahagia atau tidak, sebenarnya kita itu sedang tidak bahagia, orang yang bahagia itu tidak perlu diungkapkan, hanya perlu dirasakan.

Sayang, terima kasih untuk semua,,,

Ya ini ungkapan rasa terima kasih untukmu, aku menyadari diri ini tak sempurna, aku sadar bahwa diri ini bukanlah apa-apa, dan siapa-siapa.
Yang jelas, denganmu aku bisa berfikir maju kedepan, aku semakin tahu kemana arah hidup ini akan aku usahakan.
Aku tak bisa mengerti semua hal, aku juga tak bisa untuk memaksa diriku mengerti semua hal, karena akan ada selalu ada titik dimana kamu harus menetapkan bahwa kamu harus berhenti untuk memaksa diri.

Akan ada masa, kamu harus merasakan, bukan lagi memaksakan, jika yang kamu rasakan bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin bisa diragukan bahwa itu semua merupakan rasa yang kamu miliki.

Jika diri ini sangat jauh dari cahaya, maka apakah masih begitu penting pendapat naluri? Karena jangan-jangan fikiran jahat itulah yang membuat dan akan menghancurkan kita.

Ketika dahulu kuliah, sang prof ganteng itu selalu memberikan nasehat untuk selalu melihat suatu hal dari sisi positifnya, karena percuma juga kalo yang dilihat negatif, gak bakal menimbulkan efek apa-apa loh. Harus positif.

Semua ini seolah memberikan sebuah garis titik temu, yang bukan sejajar, tetapi harus bersilangan agar tercapai sebuah titik yang nantinya kita juga akan dipertemukan kembali.

Lalu apakah titik temu itu akan memberikan kebahagiaan? Please jangan tanya itu,

Harus ikhlas, ketika kita melepaskan sesuatu, jika memang itu akan jadi milik kita, maka dia akan kembali kepada kita, dan jika tidak? Mungkin itu bukan milik kita, maka tunggu saja mana yang akan jadi milikmu.

Aku nulis ini dibarengi ama lagu karaokenya si “Marya Isma”, itu lo artis smule, yang suaranya unik ra ketulungan. (Hahahaha)

Ditulis di Kubang raya, pekanbaru saat hujan baru saja berhenti.
15 September 2016
Oleh Andriyas Efendi


Meski kau terus sakiti aku

Hari gini ngomongin patah hati? Klise banget kan ya,, kayaknya udah basi banget gitu, dijaman yang serba modern kayak gini kok masih juga ada bahasan tentang sakit hati. Sebenernya ini niat nulis atau pengen bergalau ria aja? Nah pertanyaan itu yang seringkali hinggap dikepalaku, seolah mengaung-ngaung untuk segera diungkapkan. Entah mengapa kalo sudah berbicara soal sakit hati tentunya kita tiba-tiba akan merasa menjadi orang yang paling tersakiti. Bukan cuma sekelas patah hati loh, tapi bahkan bisa dikategorikan kedalam sebuah patah hati yang begitu dalam, bahkan menjadi patah hati yang terdalam.

Seperti juga sumur, tentunya pasti memiliki dasar. Begitu juga diri ini, sedalam apapun yang kita rasakan pasti suatu saat akan muncul sebuah titik dimana kita sudah tak merasakan lagi apa itu patah hati atau bagaimana rasanya tersakiti. Karena dia yang sudah terbiasa patah hati, maka sakit itu sudah tak dirasakan. Begitu juga tangisan, mereka yang sudah terbiasa menangis, lama-kelamaan yo pasti bakal jadi lebih strong. Itu lah mengapa jika engkau masih merasakan semua perasaan itu, bersyukurlah, itu artinya engkau masih memiliki perasaan dan rasa sakit.

Rintik-rintik hujan jatuh kebumi, dengan alunan suara yang begitu merdu untuk didengarkan, begitu indah untuk dikenangkan dan begitu sakit untuk dirasakan. Ada berjuta manfaat serta keuntungan yang didapat ketika hujan turun, seperti ketika saatnya pulang kerja dan ternyata hujan, pasti yo beruntung kamu masih dikantor jadi ya gak kehujanan kan.

Lalu apa hubungannya dengan lagu yang ada liriknya “Meski kau terus sakiti aku”, nah sebenarnya apa iya kalo cuma kita yang tersakiti? Atau jangan-jangan malahan dia yang menyakiti bahkan merasakan rasa sakit yang lebih dalam. Tetapi, seperti drama kebanyakan serta kejadian yang telah terjadi disekitar kita, tentunya biasanya yang bersalah adalah orang yang begitu egois dan bener-bener gak mikirin maunya orang lain gimana.

Itulah kenapa Tipe-X dalam sebuah lirik lagunya menyebutkan, “Caci aku, maki aku, sakiti aku, tapi jangan diam”. Bentuk rasa sakit dari yang paling sakit adalah “didiamkan”, pernah ngerasain? Tentu lebih sering lah ya, iya dia yang didiamkan akan benar-benar tersakiti, karena akan dibiarkan didalam ketidakjelasan yang bener-bener tidak jelas. Itulah mengapa sampek ada muncul lagi film sekuel “AADC”, ini mau nunjukin kalo sebenarnya cowok itu ya tukang PHP (didalam film).

Kalo dikehidupan nyata? Wooohh berani bilang begitu mungkin belum ketemu saya kali ya, (sombong). Bukan gitu, tapi tak semua laki-laki seperti itu, bahkan para mbak-mbak ni bakal lebih sensi ketika sang cowok tiba-tiba menghilang ataupun tiba-tiba kok jarang ngehubungi. N bakalan disangkut pautin tu sama filmnya.

Bukannya ini melakukan pembelaan, tapi tidak semua laki-laki, bersalah padamu. Contohnya akuuuu, (nyanyi). Kalo itu tadi lagunya Meggi Z ya. Intinya adalah, selektif lah dalam menilai seseorang, jangan hanya karena kegagalan yang diakibatkan seseorang eh malah kita jadi salah menilai. Bisa jadi, orang lain akan berbeda kan ya.

Lalu terkadang ada rasa sakit yang mengharuskan kita untuk bertahan, “Kucoba tuk bertahan, dalam kisah ini”, lagu lagi yaa, iya bertahan, ini seperti sebuah karang yang berusaha berdiri tegak karena diterpa ombak yang begitu keras, ataupun seperti tiang bendera yang berusaha tetap berdiri meskipun terhuyun kesana kemari dikarenakan angin yang begitu kencangnya. Bertahan bukanlah yang mudah, akan ada begitu banyak perjuangan serta yang akan dikorbankan. Eh mungkin belum kefikiran apa yang kamu perjuangkan dan kamu korbankan? Sekilas memang tak kasat mata, tetapi jika kita lebih teliti lagi, pasti ya bakalan jelas ketahuan itu apa yang sebenarnya sedang menimpa kita dan sebenarnya akan bagaimana yang akan terjadi pada kita.

Seperti yang sering aku sampaikan, bahwa tidak ada kerugian bagi orang yang sabar, ini sebenarnya bukan nasehat buat orang sih, tapi lebih kepada buat diri aku sendiri, lha gimana, aku ini lo bukan tipe orang yang sabar, aku kalo ada yang jahat sama aku ya tak pencak-pencak. Apalagi kalo dia itu semena-mena, jangan sampai aku terbakar cemburu (eh). Karena pasti gak enak, baik di aku dan kamunya (bukan curhat), tu makanya kamu jangan lagi buat aku tersakiti (lagi-lagi bukan curhat). Jangan bikin aku diabaikan seolah engkau tak menganggap diriku lagi, karena aku bisa saja tak menganggap dirimu juga (bukan curhat lohh).

Hujan masih saja menerpa sore ini, di pekanbaru dikota tempat aku kembali menjauhkan diri dari desa tercintaku, desa tempat aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang, dan setelah pergi darinya yang terjadi malahan aku seperti hanya objek yang dengan pantasnya akan dijadikan korban dalam setiap kejadian yang begitu menguras perasaan.

Hujan ini turun memberikan jutaan berkah bagi banyak orang, dimulai dari dinginnya udara yang biasanya panas tentunya memberikan kesan sejuk bagi siapa saja. Dan airnya yang insyaAllah bersih akan memberikan kebasahan serta energi baru bagi kehidupan dimuka bumi ini. Meskipun anak-anak lain pada sibuk ngerjain entah apa itu, karena internetnya mati ya aku diam saja dan nulis dikit-dikit. Ya cuman bisa dikit karena mungkin kalo banyak ya bakalan galau lagi yang kejadian kan.

 

AESP

 


Tersadar

Pernahkah dikau dikecewakan? Atau bahkan kita menjadi salah satu faktor pembuat kecewa itu, seringkali kita dihadapkan pada situasi yang sesungguhnya benar-benar kita rasakan bahwa efek untuk diri kita kedepannya tidak jelas akan baik atau tidaknya. Ini bukanlah curhatan diri, tapi ini adalah sebuah refleksi diri yang mengalami begitu banyaknya gonjang-ganjing kehidupan yang bisa dikatakan sudah entah harus kemana lagi kaki ini berpijak. Tak tahu akan kemana arah yang kita tuju, dan seolah semuanya serasa menjadikan kita manusia yang semakin lama semakin jauh dengan kuasa yang pencipta.

Bulan tak lagi bersinar terang, begitu juga gemerlap bintang yang biasanya begitu indah terlihat, tetapi entah mengapa kali ini semuanya terlihat suram. Hanya gelap yang didefinisikan sebuah keadaan kekurangan cahaya. Apa ini juga refleksi dari diri ini? Apakah memang suasana diri ini sedang dalam keadaan gelap gulita? Apakah aku butuh cahaya?

Ya, sepertinya aku memang membutuhkannya. Lalu cahaya seperti apa yang aku butuhkan? Mungkin sedikit merenungi semua kejadian dan apa saja yang telah dialami bisa membuatku menemukan sebenarnya apa yang sedang aku cari saat ini. Sebagian dari kita mungkin begitu mudah dan sudah mendapatkan cahaya yang dia inginkan, tapi entah mengapa, tidak dengan diriku, entah mengapa seolah sedikit demi sedikit semuanya itu menjadi semakin suram dan bahkan hilang sama sekali.

Apa iya keinginan untuk tidak terlihat menonjol itu malah sebenarnya tombak yang menghujam kepada diri ini? Apa iya jika aku hanya menginginkan menjadi orang yang bersorak saja dan tidak menjadi pahlawan itu merupakan sebuah hal yang salah. Entah mengapa saat ini aku merasa kok sepertinya diri ini tiada berharga sama sekali. Semua yang telah aku capai bukan apa-apa, dan bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang telah didapatkan orang lain.

Lagi-lagi sepertinya alam ingin menunjukkan langkah yang tepat yang seharusnya aku tempuh sebelum mengambil sebuah keputusan.

Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu salah dan kita tetap melakukannya, lantas disebut apa diri kita ini?

Pernahkah kita merasa kecewa dengan diri kita sendiri atas apa saja yang pernah dilakukannya. Sepertinya memang sudah saatnya kita menata diri kembali, mengembalikan apa yang sudah terbiasa dilakukan. Menjadikannya sebuah teguran singkat yang kelaknya akan menjadikan kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.

AESP


Jangan tinggalkan aku

Jangan tinggalkan aku, kumohon kepadamu, tak sanggup diri ini, hidup tanpa dirimu. Mungkin sebagian dari kita pernah deh denger lagu itu, tepatnya itu lagunya siapa, jujur aja aku lupa. Lagu itu sebenernya pasti membekas di benak banyak orang kan ya. Atau mungkin jangan-jangan cuma gue aja kan ya. Oke, bukan lagunya yang sebenarnya mau dibahas, tapi lebih kepada yang kata orang-orang biasa disebut “makna” dari sebuah lagu. Bukanlah yang tertulis dengan jelasnya, tapi yang disampaikan dengan begitu banyak bahasa keindahan yang kita sendiri perlu menerka-nerka sebenarnya apa makna yang tersimpan didalamnya.

Aku seperti layaknya pepohonan yang diterpa angin, yang bergerak kesana kemari hanya karena terombang-ambing karena besarnya terpaan sang angin. Ini juga seperti layaknya bintang yang selalu bersinar terang tetapi tertutup awan, sehingga tak nampak lagi keindahannya. Aku sudah merasakan beberapa purnama bersamamu, setidaknya sudah 2 purnama, aku dan kamu menikmatinya bersama, melihat indahnya sang bulan yang memancarkan cahaya, menjadikannya begitu sempurna yang membentuk sebuah lingkaran terang yang dihiasi oleh cahaya-cahaya yang terbias dan terkena awan disekitarnya.

Seperti juga diriku, bulan purnama seolah memberikan sebuah pembelajaran yang begitu berharga, ini seperti kita sedang dinasehati dan diarahkan oleh kedua orang tua kita, yang terkadang maksud dan tujuan mereka itu masih tersirat, perlu waktu dan pemikiran tersendiri agar kita bisa merasakan dan benar-benar merasakan apa saja yang sebenarnya mereka inginkan. Aku dan kamu layaknya sepasang kekasih yang sedang benar-benar dimabuk asmara, ya kita sudah mabuk, kita seolah sudah merasa cocok satu sama lain, walaupun tak begitu mengenal, tapi entah mengapa diri dan hati ini rasanya sudah terpaut kepada dirimu.

Aku juga yakin begitu juga dengan dirimu, biasanya apa yang kita rasakan akan sama. Ini karena yang kita harapkan dan kita lakukan juga sama, sehingga ada sebuah sinyal tersendiri yang menjadikan apapun yang kita rasakan juga jadi sama. Seperti layaknya hamparan tanah kering yang begitu merindukan kemurahan sang hujan untuk menyiraminya. Aku ingin kita layaknya bumi dan hujan, yang satu sama lain saling membutuhkan dan saling memberi manfaat.

Hujan, ya hujan, apa yang teringat ketika hujan turun? Memori yang tentunya akan beterbangan ketika sang Hujan ini turun, apakah kebahagiaan, atau kesedihan yang sering muncul? Nah, kali ini entah mengapa ketika sang Hujan turun, ada rasa yang berbeda yang aku rasakan, jika hari-hari sebelumnya aku seolah takut menghadapi kenyataan yang sering muncul seiring jatuhnya tiap tetes dari Hujan yang membasahi bumi dan apa saja yang ditimpanya. Termasuk diriku, ada semacam sugesti yang menyirami diriku ketika tetesan hujan ini turun, seperti ada perasaan yang entah apa rasanya, yang gak tau itu rasa apa sebenarnya. Karena hujan selalu saja memberikan sebuah rasa Rindu. Ya rindu pada apapun yang ada dimasa lalu ketika hujan ini turun.

Hujan dan rindu seolah tak terpisahkan, karena mungkin sudah ditakdirkan seperti itu, melihat tanah-tanah yang kering dan berdebu, melihat daun-daun yang berguguran, tanaman-tanaman yang lalu, serta rasa panas yang dirasakan setiap makhluk hidup baik disiang maupun malam hari, seolah hanya satu yang paling ditunggu-tunggunya. Meskipun bagi yang kepanasan bisa saja menggunakan alat pendingin, tetapi tetap saja kehadiran hujan selalu saja diinginkan. Ini karena bukan hanya kita butuh air dalam tubuh, tetapi kita juga butuh sebuah rasa senang serta puas yang didapatkan ketika hujan telah turun. Dari tanah-tanah yang basah, tanaman yang kembali segar, serta makhluk-makhluk hidup yang selalu bergembira ketika datangnya hujan. Semoga hujan kali ini membawa berkah.

Teringat kisahku ketika sang hujan itu turun dan aku sedang dalam keadaan tak merindukannya, kala itu aku masih duduk di bangku SMK, aku yang masih kecil dan masih terbiasa terombang ambing dengan yang dinamakan arus kehidupan itu, pernah sesekali merasa sebal dan benci terhadap hadirnya sang hujan. Kala itu aku tak mampu membaca apa sebenarnya yang terjadi dari setiap tetesan yang turun dari langit itu. Atau aku yang saat itu belum bisa merasa lebih peka dengan keadaan sekitarku. Waktu itu seperti biasa hari minggu sore aku berangkat dari desaku menuju sebuah kota tempatku sekolah, setelah ashar aku bersiap dan berangkat menggunakan sepeda motor kesayanganku. Ditengah perjalanan, awan menunjukkan kegelapannya, dan aku merasa harus secepatnya sampai tujuan, sehingga kucoba memacu sepeda motor itu dengan lebih cepat, tetapi mungkin karena ini takdir, ditengah jalan hujan itu turun juga, aku sedikit menggerutu, kenapa ketika aku dijalan kok malah ujan? Kenapa gak ketika udah sampai atau ketika aku dirumah tadi ujannya sih? Semua kalimat menggerutu itu keluar dari dalam diriku, lalu kuputuskan untuk sejenak berhenti, banyak tempat yang sudah pernah jadi tempat persinggahanku ketika hujan turun, di SD f5, di tempat cucian mobil di Logas, di mesjid logas dekat simpang f6.

Dalam hatiku saat itu ketika aku berteduh, aku berusaha memantapkan diri bahwa ini adalah perjuanganku, ini adalah saat dimana aku akan tersenyum kelak ketika aku mengenang bagaimana hidupku ini diawali. Tak ada tujuan lain ketika aku berusaha selalu menerjang hujan itu, bahkan beberapa kali aku nekat dengan beraninya menerjang hujan yang begitu derasnya, dan disepanjang perjalanan yang kuingat adalah Aku harus sabar menghadapi semua ini, ini adalah proses yang kelak akan membawaku kedalam sebuah titik dimana aku merasa bahagia.

Bukan hanya ketika aku SMK ketika aku kuliah juga seringkali kejadian itu terus terulang, dan bahkan ada kebiasaan menarik yang aku lakukan, jika itu aku berangkat kesebuah tempat dan hujan biasanya aku bakal minggir berteduh atau memakai mantel, tapi jika itu adalah perjalanan pulang, biasanya aku tak pernah mau menggunakan mantel, ataupun berhenti sejenak untuk berteduh. Entah mengapa kala kuliah itu setiap tetesan dari sang Hujan begitu berharga untuk dilewatkan, bahkan ketika awan-awan mulai mendung dan rintik-rintik hujan mulai turun, aku malah selalu mencari alasan untuk keluar dari kos. Keluarnya bukan dengan tujuan yang jelas, melainkan tanpa tujuan dan akhirnya cuman naik motor muter-muter jogja dan nikmatin tiap tetes ujan itu.
Begitu juga ketika aku mengenal dirimu, beberapa kali tetesan hujan itu membuatku merasakan kehidupan yang begitu indah, waktu itu aku menjemputmu dari tempat kerja, entah kamu merasakan atau tidak, pernah sekali pas kita sampai di simpang lima, rintik-rintik hujan mulai turun, dan akupun bukannya mempercepat laju kendaraanku, melainkan kupelankan gas motorku, dan kututup mata sejenak dan menikmati tiap tetes yang kurasakan ditubuhku. Owh betapa indahnya dan bahagianya jika diri ini selalu menjadi seorang yang bisa menikmati tiap tetes hujan itu.
Seperti layaknya hujan yang deras sekalipun pasti bakal reda, akan berhenti dan bisa jadi dalam waktu yang lama takkan kembali lagi. Jika itu kita lihat mungkin kejam, tetapi ternyata tidak seperti itu, itulah cara hujan agar selalu dirindukan, karena meskipun sudah reda, air-air yang turun itu tetap memberikan begitu banyak manfaat kepada yang dibasahinya.

Aku ingin sekali menjadi seperti itu, aku tak bisa mengatakan bahwa aku akan selalu ada disampingmu, karena ini diluar batas kemampuanku, yang bisa aku inginkan adalah, aku ingin selalu menjadi hujan yang kau rindukan, dan kehadiranku akan memberikan berjuta manfaat dan kebahagiaan kepadamu.

Ditulis ketika Hujan begitu dirindukan di desaku, desa tercinta Sungai kuning.


Jalan terus

Dalam setiap aktifitas tentunya akan ada dimasa kita akan merasa kalau kegiatan yang kita lakukan gitu-gitu aja, atau istilahnya karena terlalu banyak melakukan aktifitas yang sama maka akan timbul rasa jenuh. Jenuh kerap kali akan menjadi sebuah pemicu seseoarang akan malas dalam melakukan suatu hal, ini dikarenakan biasanya orang yang suka jenuh merupakan orang yang suka dengan perkembangan, dan karena merasa diri ini tidak berkembang sama sekali, maka muncullah rasa jenuh itu.

Jenuh bukan hanya melulu mengenai pekerjaan, atau aktifitas harian, bahkan dalam membina sebuah hubungan, tentunya pasti akan pernah disatu titik tertentu kok merasa kalo kita kok gini-gini aja, chatting, telfon, and dll. Itu-itu aja aktifitasnya. Nah, ini juga berbahaya, bagi yang gak tau cara ngendaliinnya ya ujung-ujungnya bakalan diam gitu aja.

Lalu apa iya diam merupakan solusi yang bakal jadi yang terbaik? Ingat disini yang kita fikirkan bukan hanya mengenai yang terbenar ya, tapi apa itu yang terbaik. Apa gak ada solusi lain? Tentunya ada, tapi mungkin akan berbeda solusi bagi setiap orang. Ini dikarenakan kan yang ngejalani juga orang yang berbeda, itu mengapa masalah yang dihadapi oleh pasangan biasanya pasangan tersebutlah yang paling mengerti apa solusi terbaiknya.

Tapi perlu digaris bawahi juga, kalo seandainya solusi akhir adalah pisah, maka itu bukan solusi sebenarnya, itu hanya sebuah pembenaran untuk lari dari masalah tersebut. Tak ada luka yang tak terobati, tetapi luka tersebut tersisa apakah masih membekas atau tidak. Terkadang rasa sakit itu sudah hilang, tetapi bekas-bekasnya masih terlihat nyata.

Jalan terus, merupakan sebuah langkah untuk selalu berusaha maju kedepan, untuk selalu menjalankan semua apa saja yang selama ini dipercayai baik awalnya, maka lanjutkanlah sehingga akan bertemu bahwa keyakinan kita akan kebaikan itu benar-benar terjadi.

Apa yang menjadi keyakinanmu diawal tentunya sudah engkau pertimbangkan baik dan buruknya, jangan hanya baiknya saja ya, tentunya sedikit demi sedikit harus memulai untuk melihat apa saja yang buruk, jadi kalo seandainya kejadian bener yang buruk ya gak begitu kecewa, karena sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan tersebut.

Menjalani lagi semua yang engkau yakini baik itu juga merupakan sebuah tanda ataupun bukti akan kesetiaan yang engkau miliki, ini bukan hanya soal cinta, tetapi dalam berbagai hal, kesetiaan merupakan sebuah parameter apakah sebenarnya hidup seseorang memiliki makna atau tidak.

Bahkan setia disini bisa menghancurkan benteng-benteng rasa gengsi yang selama ini biasanya muncul dalam diri manusia. Misalnya, pernahkah terbayang ketika seorang majikan memiliki pembantu yang meskipun digaji tidak terlalu besar tapi begitu ikhlas memberikan yang terbaik untuk sang majikan.

Oke, mungkin contoh itu terlalu viral, bagaimana dengan seorang sahabat yang selalu setia hadir untuk teman-temannya. Bukankah itu juga merupakan sebuah kesetiaan yang begitu berharga, pernahkah terfikir oleh kita bahwa menerima keadaan diri kita yang begitu banyak kekurangan ini, dan ada orang yang mau dan ikhlas bersama kita dalam situasi apapun.

Nah, apapun kejadian yang dialami seseorang tentunya akan disangkut pautkan dengan semua yang terjadi di masa lalu, begitupun mengenai kesetiaan ini. Hati-hati dalam mengelola dan menjaganya, karena kebanyakan orang ketika sekali saja dikhianati maka selamanya dia tidak akan pernah percaya lagi.

Nah, ketika sudah merasakan yang namanya menderita karena rasa setia yang dipertaruhkan, solusinya ya “Jalan Terus”. Karena sang waktulah yang akan memperbaiki semua rasa sakit itu, dan menjadikannya sebuah kebahagiaan yang jika di renungi merupakan suatu yang berharga melebihi dunia dan seisinya.

Dari sebuah untaian canda yang terselip antara aku dan kamu. AESP


Bulan separuh

Kerlip bintang dimalam minggu ditambah bulan yang bersinar hanya separuh menambah petualangan malam ini menjadi lebih syahdu. Kali ini adalah kali pertama malam mingguku berada di sini, di kota pekanbaru. Sebuah tempat yang sebenarnya bisa dikatakan merupakan daerah kota terdekat aku dibesarkan, tapi aku tak pernah sekalipun berada disini dalam waktu yang lama. Mungkin kali ini harus dikurangi ego meninggalkan budaya yang tak ku mengerti ini dan berusaha untuk sama-sama maju berkembang.

Malam itu karena perut rasanya udah melilit, meskipun hatinya lagi seneng karena abis ditelfon sama kekasih tersayang, ya tetep aja pengen makan. Mungkin kalo kata orang ketika kita bersama dengan orang yang kita sayangi, maka kita akan selalu semangat dan kondisi tubuh tiba-tiba menjadi lebih sehat, anehnya kalo soal laper ya tetep laper ya. Ini ngingetin aku ketika malam-malam minggu sebelumnya aku lewati dirumah si Ratna itu, dan biasanya di hidangnkan teh atau kopi, trus kemilannya ya itu jajanan sisa lebaran. Wkwkwkwkw .

Bagiku secangkir teh/kopi itu sudah cukup untuk menemani malamku, apalagi adanya dirimu disampingku, wuihh bikin diri ini serasa menjadi manusia yang begitu bahagia. Semuanya serasa hanya menjadi kenangan, kenangan manis yang mengalahkan pahitnya rasa kopi. Tapi aku bukanlah pengingat yang baik, terkadang aku kesulitan dalam mengingat momen2 itu, yang aku ingat hanyalah aku pernah berada disana bersamamu, tentang apa yang kita lakukan serta kita ngomongin apa ya biasanya udah bablas lupa, meskipun ada beberapa tindakan yang bakal keinget terus. Seperti kejadian aku yang hampir terjatuh karena gerogi mau megang pipi kamu. Iya jatuh, dan Alhamdulillah masih bisa bangkit lagi.

Bulan dilangit hanya tampak separuh, ya separuh yang setengahnya lagi dalam keadaan kekurangan cahaya. Gelap, satu kata itu yang bisa mewakili mudahnya dari banyak kesimpulan mengenai keadaan kekurangan cahaya itu. Karena disaat gelaplah kita semakin mengerti tentang apa saja yang sebenarnya penting bagi kita dan yang sebenarnya percuma kita lakukan. Seperti aku yang ada disini, ketika malam ini aku keluar rumah, nada tanda bahaya itu sudah terasa, melihat langit seolah tak lagi sama dengan langit-langit malam sebelumnya. Ada sebuah perasaan yang berbeda, apa iya ini karena ini malam minggu pertamaku tanpamu. Apa sebenarnya aku ini sudah tak menghiraukan lagi perubahan yang ada diatas sana.

Apa selama ini aku terlalu terlena dengan semua kesendirian itu, sehingga ketika tak kurasakan lagi hadirnya dirimu didekatku, aku merasa bahwa malam ini berbeda. Bukankah sebenarnya ini adalah malam yang sama dengan malam-malam yang sebelumnya. Lalu apakah yang menjadikan dia begitu berbeda?

Kondisi bulan itu seolah menunjukkan dua buah sisi kehidupan manusia, yang terkadang kita cermati akan ada cahaya yang menerangi kegelapan dan selalu saja ada kegelapan yang tidak di pancari oleh sinar sang cahaya.

Seperti aku yang serasa gelap tanpamu, lalu apakah engkau sudah menjadi cahaya bagiku? Apakah benar jika aku dan dirimu itu layaknya gelap dan terang, ibarang yin dan yang, ataukah kita ini sebenarnya layaknya seperti air dan api? Itu bukanlah sebuah pertanyaan yang rumit jika antara kita ada sebuah jembatan yang saling menghubungkan tentang apa dan bagaimana sebenarnya yang kita mau.

Lalu apakah kita ini harus menjadi seperti bulan dan matahari, ada yang memberi dan yang diberi akan memancarkannya dan memberikan keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan cahaya dari sang matahari mampu menutupi semua jelek ataupun kekurangan dari sang bulan.

Bulan separuh seolah menampilkan serta menunjukkan semua yang dirasakan bagi setiap siapa saja yang sedang merindukan sosok yang sangat dicintainya.

Apapun itu, bulan separuh itu seperti menunjukkan jika kita harus selalu waspada, jangan terlena dengan semua kesenangan ini yang bukanlah kebutuhan, tetapi hanya kesenangan semata.

Efek, naik motor gak konsen n malah liatin langit, jadinya hampir nabrak kucing. Dasar kucing kota, gak liat-liat jalan dulu kalo mau nyebrang. Alhamdulillah, mungkin takdirmu bukan terkena ban sepeda motorku.

Lalu apakah jika malam minggu pasti akan serasa berbeda? Seperti bulan yang mungkin saja minggu depan akan lebih banyak cahaya dibandingkan kegelapan, ataukah harus seperti ini terus?

Apapun itu, sebenarnya lika-liku semua ini layaknya kita, yang berproses, dari yang dahulu seperti tidak kenal, lalu sedikit-sedikit mulai dekat. Dan sekarang sudah dekat lagi. Proses ini menunjukkan dan akan membuktikan seberapa serius kita membinanya, dan akan kelihatan semua hasil yang telah kita rawat selama ini. Dan semoga kelak hasil yang kita dapatkan sesuai dengan keinginan yang telah kita tanamkan sejak pertama kali kita sepakat untuk menjalani ini semua bersama-sama.

Ditulis dalam kerinduan yang tiada tara. AESP


Aku tak seperti yang aku persangkakan

Terkadang kita begitu egois dengan berusaha menilai diri sendiri, tak menggunakan analisa serta pendapat dari orang lain. Kita hanya berusaha memikirkan seperti apa diri kita dan tak pernah peduli apakah diri kita ini sebenarnya memang sesuai persangkaan kita terhadap orang lain. Ini merupakan evaluasi diri yang mungkin sedikit banyaknya yang aku, kamu dan mereka rasakan.

Untuk lebih menjelaskan sebenarnya tentang diri kita, mungkin kita butuh pendapat dari orang lain, ini sudah pasti, karena kan yang menilai adalah orang lain, dan bukan diri kita, akan sangat egois sekali bukan, jika kita memaksa orang lain untuk menerima semua yang kita miliki, yang ternyata kita juga jika diberikan pilihan untuk menerima manusia seperti diri kita sendiri pun bakalan ogah kan.

Ada beberapa pertanyaan yang mungkin perlu kita jawab agar kita makin tahu seperti apa diri kita sebenarnya.

Apakah aku baik?

Sudah merasa baikkah diri kita? Sudah berapa banyak hal-hal positif yang kita lakukan, apakah kita udah sering membantu orang lain, atau ternyata kita sibuk memuaskan keinginan sendiri. Lalu apa iya yang kita lakukan itu memang benar-benar baik, atau ternyata semuanya itu hanya terselubung saja. Hanya kita dan Allah yang tahu apa yang tersimpan dalam hati. Yang kita lakukan itu ikhlas karena berbuat baik atau ternyata kita hanya ingin dipuji saja oleh orang lain?

Jujurkah kita?

Jujur, ya kata 5 huruf yang mirip dengan “C.I.N.T.A”, entah mengapa beberapa kata yang tersusun dari 5 huruf itu kebanyakan maknanya begitu berat, dan bahkan bisa jadi suatu kata yang sulit untuk dimengerti, ada jujur, sabar, dan termasuk cinta. Ya cinta selalu jadi bahasan yang jadi topik utama. Bahkan cinta juga sering kali di rekayasa (kayak lagu dangdut ya). Lantas, seberapa jujurkah kita? Pas kita ditanya sama kasir di minimarket “Ada uang kecil gak kak?”, apa cobak yang kita jawab? Ketika kita berada dirumah teman trus ditawari makan apa jawaban kita? Ketika kita ditanya kabar dari keluarga, apa jawaban kita? Apakah jawaban kita sudah benar-benar merupakan ekspresi yang kita rasakan, atau ternyata hanya untuk basa-basi saja. Memang susah jujur itu.

Adilkah kita?

Selain jujur, ada kata “Adil”, kata ini selalu menjadi pasangan dari kata “jujur”. Bahkan menggunakan kalimat “Jujur dan Adil”, menggunakan kata hubung “dan” bukan “atau”. Kalau yang pernah faham logika, pasti mengerti bahwa ketika menggunakan kata “dan” itu artinya kedua-duanya harus dipenuhi baru bernilai “true”, semisal “aku dan kamu”, ya harus 22nya, gak bisa cuma “aku” aja atau “kamu aja. Nah setelah jujur tentunya adil, adil bukanlah memberikan suatu yang sama terhadap suatu hal atau masalah. Tetapi adil lebih ke “Menempatkan sesuatu pada tempatnya”.

Itu baru 3 pertanyaan loh? Tentunya akan banyak pertanyaan lain yang mungkin, kalo kita tuliskan sendiri bakal muncul satu kesimpulan,

Ternyata aku tak seperti apa yang aku persangkakan.

Ditulis menggunakan jari-jariku yang katanya “manis”.


Kebebasan

Kemana pun akan aku bawa dirimu bersama dengan semua kenangan yang pernah hinggap diantara kita yang mungkin akan terlalu indah untuk dilupakan tetapi terlalu sakit untuk dikenang. Semua itu lantaran kita, ya aku dan kamu terkadang masih memikirkan diri sendiri dan belum satu visi dan misi yang mungkin takkan selamanya kita akan selalu berada didalam sebuah pendapat yang sama. Mungkin sekali dua kali kita akan merasakan yang namanya perbedaan yang sebenarnya itu akan menjadikan kita manusia yang semakin dewasa dan akan lebih baik lagi dalam menghadapi semua lika-liku kehidupan ini.

Baik aku dan kamu mungkin belumlah menjadi satu tapi tanpa adanya kesepakatan antara kita, mungkin saja tujuan kita yang awalnya sama tidak akan pernah menjadi satu atau istilah singkatnya kita akan selalu dalam perbedaan. Tak mengapa berbeda kan ya, asalkan kita saling percaya dan saling support satu sama lain yang bikin kita bisa menjadi lebih leluasa dalam bergerak, bebas dalam artian bukan melakukan sesuatu sesuka kita, melainkan selalu memberikan sebuah alasan tersendiri untuk mencapai tujuan kita bersama.

Oke, kali ini mungkin pembahasannya lebih luas, bukan sekedar antara aku dan kamu saja. Bukannya bosen, tapi memang sepertinya akan lebih enak lagi kalo pembahasannya bukan sekedar mengenai aku dan kamu. Sekali lagi ini mungkin pola yang seharusnya diikuti sejak awal aku membuat beberapa tulisan awal. Tujuan utama dari pembuatan blog ini serta apa saja yang sebenarnya selalu mengganggu didalam fikiranku. Saatnya kita buka semua.

Kebebasan

Semua dari kita pasti menginginkan yang namanya kebebasan, mau itu dalam menjalani sebuah hubungan, maupun berbuat sesuatu. Bahkan seringkali kita merasa bahwa diri ini harus sebebas mungkin melakukan yang kita mau dan kita suka tanpa memperdulikan apakah orang lain senang atau tidak dengan kelakuan kita. Oke, sekilas nampak jika memang ego manusia itu gakkan pernah yang namanya turun, makin naik iya.

Lalu, bebas disini maknanya apa?

Untuk ngejawab pertanyaan tersebut mungkin agak sulit, karena definisi bebas menurut orang, pasti berbeda, termasuk juga aku. Semisal, dijalanan ada anak kecil yang baru bisa naik motor trus dia gak make helm, terus dia naiknya ugal2an dan membahayakan pengendara lain. Dari sini saja kita bisa ngelihat perbedaan pendapat loh, dari sisi sang anak kecil tentunya dia pengin banget bergaya seperti itu kan, karena menurut dia itu yang namanya bebas, serasa jalan miliknya sendiri. Tapi kalo menurut aku yang ternyata ribet ini, woohhhhh, itu bahaya sekali, kalo yang jatuh cuma kamu okelah dek, tapikan kalo kamu trus nabrak orang lain yang berusaha hati-hati kan bener-bener ngeselin.

Trus lagi, soal lampu lalu lintas. Sebagian orang masih belum menganggap penting bahwa mematuhi lampu lalu lintas adalah demi kelancaran dan keselamatan berkendara. Mikirnya, ah masak cuma gara-gara ngelanggar lampu bakal bahaya. Kan ntar aku gak mungkinlah ngeliat mobil didepan trus aku gasak gitu aja kan. Kan aku juga bisa mikir mana yang bahaya dan tidak. Oke, sebagian kita pasti pernah dong berfikir seperti itu, pasti pernah, apalagi kalo lampu merah itu tinggal didaerah tempat tinggal kita, seolah lampu itu kita yang ngatur, ya karena kan milik kita.

Padahal tidak mematuhi lampu lalu lintas itu bukan cuma dampak terhadap pengendara loh, pernah gak berfikir kalo kepatuhan terhadap aturan lalu lintas bisa dijadikan parameter pemimpin yang baik? Mungkin bagi kita gak peduli, n bodok amat ah dengan semua itu, tapi bagi pemimpin itu sangat penting lohhh. Coba bayangkan kalo suatu saat presiden lewat jalan situ dan tanpa barikadenya, karena niatnya cuma pengin “blusukan”, trus ngeliat kondisi jalanan yang semrawut itu. Bayangkan pemerintah daerahnya, ndak mungkin dibiarin begitu aja kan, bisa-bisa malah dipecat gitu aja kan, karena dianggap gagal.

Owh, mungkin masih berfikir kalo gak mungkin dampaknya akan sebesar itu?
Lalu, sebaiknya gimana ya dalam menyikapi kebebasan ini?
Bukankah setiap dari kita punya hak-hak yang harus dipenuhi, iya benar, tapi menurut seorang teman yang kuliah di jurusan Hukum, benar bahwa kita semua punya hak untuk berekspresi, tetapi ada tuntutannya juga, bahwa jangan sampai hak kita juga mengganggu hak orang lain. Misalnya, mungkin bagi sebagian kita memutar musik dengan keras itu Ok ok aja, tapi pernahkah terfikir kalo ada hak orang lain yang kita langgar? Hak mereka untuk hidup tenang sebenarnya sudah kita usik sedikit?

Nah, ternyata kebebasan yang kita miliki ini merupakan kebebasan yang terikat, ya terikat, selama itu akan mengganggu kepentingan orang lain, maka kebebasan yang kita miliki juga gak bisa disebut dengan bebas lagi.

Lalu gimana kalo kita udah terlanjur egois dan suka menuntut agar semua hak kita dipenuhi? Ya solusi, satu-satunya ya harus berubah, harus dari sekarang mulailah berubah. Kalo sering melanggar aturan lalu lintas, ya ada baiknya mulai sekarang berusahalah untuk sering-sering belajar aturan apa aja si dijalanan itu, lantas kalo lampu merah gimana harus di patuhinya. Jangan manja, hanya karena disekolah dahulu tidak diajarkan maka gak mau belajar, ilmu itu banyak, bahkan ketika kita bangun tidur pun kita udah ada banyak ilmu yang bisa kita ambil.

Sudah mengerti bukan kira-kira kebebasan yang saya maksud?

Ditulis di kamar kecil yang sudah diberantakin.