Skip to content

Blender Posts

Tabir surya

Mentari pagi tak jenuh-jenuhnya memancarkan sinarnya, kali ini disambut dengan datangnya bulan Ramadhan, bulan penuh berkah yang ditunggu-tunggu bagi setiap orang yang ingin memperbaiki diri serta ingin dosa-dosanya yang ada selama 11 bulan yang lalu dihapuskan. Yapp ini adalah sebuah bulan berkah yaitu bulan Ramadhan. Bulan dimana yang jauh akan mendekat dan yang dekat akan semakin dekat. Itulah sedikit ilustrasi bagiku yang Ramadhan kali ini Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga tercinta.

Tak terasa sudah 3 hari Ramadhan ini berlalu, dan aku belum menulis satupun mengenai kesan serta pesan yang dirasakan selama beberapa hari ini. Begitu banyak hal yang terjadi, sehingga mungkin kata-kata ini takkan banyak menceritakannya hanya mengambil bagian-bagian penting yang bisa dijadikan sebuah kisah dan nantinya akan bisa diambil beberapa manfaatnya.

Diiringin suara Cak Nun yang menggema mencoba mencari kata yang tepat untuk mengunggapkan semua yang aku rasakan kini. Kala itu Selasa 31 Mei 2016, hari yang nantinya akan jadi hari bersejarah buatku, karena waktu itulah aku benar-benar meninggalkan jogja untuk mungkin waktu yang lama, bukan selamanya karena mungkin saja masih diberikan kesempatan untuk mengunjungi kembali tempat itu kan. Selasa itu pagi hari jam 5 pagi dimulai mempersiapkan beberapa barang yang sehari sebelumnya sudah aku packing dengan rapi dan nantinya akan aku bawa pulang kerumah. Berat rasa hati meninggalkan kamar 3x4m ini, tempat selama hampir 5 tahun aku ditempa dijogja untuk dijadikan manusia yang semoga menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Sepinya subuh hari ditambah sedikit rintik embun sisa hujan semalam menjadikan suasana menjadi lebih sunyi dari biasanya, atau karena mungkin ini adalah perjalanan subuh terakhir kali aku dijogja. Ya, dahulunya sering kali aku subuh hari sudah siap dan pergi kemanapun yang aku suka, kebetulan ya dahulu ada pengajian yang terletak di Mesjid UGM, Mesjid itu menurut aku menjadi satu-satunya mesjid yang kalau lagi bener-bener galau gak kaluan kujadikan tempat berlabuh. Disana tak bertemu dengan siapapun, hanya sekilas menikmati suasanan mesjid ini dengan seksama.
Bandara Adisujipto, satu-satunya bandara dijogjakarta yang menjadi saksi nyata bagi pertemuan serta perpisahan orang-orang dengan kota jogja, kota yang istimewa yang ngangenin. Kayak kamuuuu,, ehhhhh.

Pesawatku terbang jam 07.00 dan waktu sudah menunjukkan waktu jam 06.30 tetapi belum ada tanda-tanda jika pesawat sudah boleh dimasuki, entah mengapa hati gelisah untuk pertama kalinya ketika naik pesawat, mungkin terlalu banyak kenangan yang akan ditinggalkan, atau mungkin karena ini pertama kali setelah sekian lama aku gak naik pesawat yang transit ya. Waktu hampir menunjuk ke pukul 07.00 dan penumpang pun di minta untuk masuk kedalam pesawat, wah untung delay gak begitu lama kali ini ya. Bismillah, semoga perjalanan lancar sampai tujuan, aku bertawakkal kepadamu ya Allah.

2 jam perjalanan tak terasa sudah sampai di Batam, bandara yang aku enggak tahu seperti apa yang jelas kesan pertama yang aku rasakan adalah capek jalan kaki, iya dari ketika pesawat turun dan penumpang diturunkan melalui bawah, lalu jalan naik kelantai 2 dan kembali lagi turun ke lintasan pesawat karena tidak ada pintu langsung yang menuju ke pesawat, alhasil jangankan untuk merasakan gimana kota Batam itu, menghirup udara segarnya pun tak sempat, ya inilah nasib transit yang cuma sebentar ya. Kurang lebih 50 menit perjalanan ke Pekanbaru dan ini lah perjalanan terakhir untuk rute kali ini.

Ada yang sebenarnya dari pagi itu aku rasakan tapi ndak sempat juga terlampiaskan, yappp laperr, aku cuma sarapan roti doang dan gak bawa minum apapun, jadinya ya gitu kaliren bener-bener laper dahhh. Dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki akupun mencari barang-barang yang aku bawa dan secepatnya menuju tempat yang jual roti, kali ini pilihan ke Roti O, yaa roti yang bau kopinya itu bener-bener menggoda, beli 2 sekaligus, untuk minumnya ambil air jeruk dan harganya 2 kali lipat,, waaawwww. Okelah, daripada kaliren kamu yass.

2 Roti habis dilahap, ada anak kecil yang ngeliatin, mungkin pengen tapi karena aku laper bodok amat ahhhhh, mungkin dalam hati si anak kecil itu, itu si om kok gak bagi-bagi ya. Bodok amat, ada emaknya aja kok, biar minta emaknya aja. Jemputan kali ini selalu tertuju ke mas topik, langganan kalo jemput ya beliau, cuman kali ini nunggunya lebih lama dari biasanya, sampek jenuh dan bener-bener mumet efek jetlag juga kan. Turun di bandara sekitar jam sebelas, dan beliau baru datang ngejemput jam setengah satu, okelah yang jelas udah gak begitu laper. Perjalanan belum berakhir, karena inilah saat-saat yang melelahkan dimulai, 3 jam perjalanan menggunakan mobil dari pekanbaru menuju desa tercintaku Sungai Kuning.

Kali ini alhamdulillah perut masih bisa diajak untuk bersahabat sehingga tidak terjadi mual dan sebagainya, sesampainya dirumah ya langsung aja itu deh minta makan sama emak, yapp pertama kali langsung nanya mak masak apa? Apa aja yang ada di meja makan itu di embat aja deh, yang penting ndak kelaperan lagi dehhh.
Tak banyak yang berubah dari rumah ini, hanya lokasi kamarku yang lagi-lagi berpindah, dari awalnya di belakang pindah kekamar paling depan, ya sesuai permintaan aku juga sih.

***

Sabtu itu tanggal 4 Juni 2016 merupakan hari persiapan untuk memasuki Ramadhan, meskipun senin baru akan dimulai puasa, tetapi di lingkunganku ini terutama yang satu RT, sudah mulai menetapkan yang dikatakan “mapak tanggal” atau bahasa sederhananya ya menjemput datangnya bulan Ramadhan, biasanya dimulai dengan membaca beberapa dzikir lalu dilengkapi dengan bancaan. Ya ini diniatkan sebagai acara kumpul-kumpul saja, karena sebenarnya tidak ada kewajiban mengenai hal ini. Karena tradisi saja, mungkin diniatkan untuk memberikan pengajaran kepada generasi muda jika bulan yang berkah disambutlah dengan cara yang berkah juga.

Ramadhan kali ini dari sejak awal aku sudah dirumah, dan mungkin ini yang pertama kalinya, setelah beberapa tahun, tepatnya sejak aku kuliah dijogja, keseringan pulang setelah beberapa hari puasa. Karena kan dulu masih ngikut jadwal dari kampus, tapi kali ini serasa kan sudah bebas ya kan karena sudah lulus.

Ramadhan pertama pun disambut dengan suka cita, kali ini hari pertama puasa jatuh pada hari senin, ya ini seperti mau awal pertama kali memulai aktifitas jadinya. Puasa pertama Alhamdulillah dijalani dengan lancar, karena ya kan masih awal, aktifitas belum begitu banyak, jadinya ya gak begitu terasa, sore harinya baru mulai panas, karena ngambil barang yang aku kirimkan melalui bus kan. Dan itu dilogas, dan cuaca lagi panas-panasnya, ini baru namanya cobaan kan. Kalau puasa cuma menahan lapar dan haus saja tentunya ndak akan greget, semakin banyak godaan dan cobaan semoga menjadikan puasa ini menjadi lebih berkah dan bermanfaat.

Hari kedua puasa pun aku jadikan moment untuk mengurus yang namanya surat-surat kendaraanku, ya biar cepat selesai jadi ya secepatnya diurus ini semuanya. Perjalanan dari rumah ketaluk kuantan tak terasa melelahkan ketika berangkat, ini karena hari belum begitu panas, jadi ya sampai di taluk pun masih semangat 45. Ngurus ini itu dan akhirnya semua urusan mengenai kendaraan kelar deh, tinggal belikan titipan emak aja. Setiap ketaluk ni emak pastinya mesen sesuatu, ya kan karena kebutuhan keluarga kan, ya sebenarnya di Sungai Kuning juga ada, tapi karena kebiasaan belanja di taluk ya emak penginnya ditaluk.

Pulang dari taluk ini kok rasanya ada yang beda, ya sekilas kenangan masa lalu itu timbul, kenangan ketika aku sekolah dahulu, ketika kalo siang hari mudik kerumah, ataupun ketika aku lari-lari sore yang rutenya dari SMKN1 lewat jalan atas kearah kantor bupati, jalan ini tidak banyak berubah tetapi dalam bayangan terlintas dulu kok aku bisa lari sampai persimpangan TK ya, padahal kalo sekarang mungkin?? belum tau juga, karena ndak pernah nyoba juga kan.

Setelah semua aktifitas yang melelahkan itu setiba dirumah ya cuma bisa tidur saja sampai sore hari, ya itung-itung biar ndak terlalu capek sehingga malam harinya bisa semangat beribadah lagi kan.

Diselesaikan di Sungai Kuning oleh Andriyas Efendi, dan dibaca dimana saja.


Seharian cuma mimpiin mantan

Beberapa hari yang lalu aku pergi ke malang, yappp lagi-lagi ada agenda iring-iring manten dan seperti biasa cuma bisa ngiringi karena belum diiring. Perjalanan yang lumayan jauh ditempuh dengan menggunakan satu buat bus besar dan satu buah mobil travel. Dimulai dengan berkumpulnya para peserta iring-iring serta para manten yang sudah siap dengan dandanannya, pagi itu masih gelap, mataharipun belum menunjukkan sinarnya, tetapi masyarakat sudah berkumpul, dikarenakan sesuai undangan bahwa bus akan berangkat dipagi hari.

Keberangkatan dimulai dengan di nyalakannya mesin mobil, dari nampu menuju malang, prediksi beberapa orang, perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 6 jam, ya jam 12 lah kira-kira bakal sampainya. Pertama kali aku naik bus itu rasanya asing, karena ndak biasa naik bus, dalam hati sudah ada perasaan was-was, gimana nanti jika aku mabuk ya?? Ya dimuntahkan lahhhh..

Selama perjalanan karena pagi kan jadinya dingin cocok banget untuk tidur, jadi ya hampir sepanjang perjalanan ya tidur aja isinya karena kalo gak gitu kepala makin pusing dan ujung-ujungnya bakal hueeeekkkkkk.

Yang unik dari keberangkatan ini orang-orang belum pada sarapan yo podo kaliren gitu, lantas berhenti di POM Bensin gitu, jadi kayak orang ilang gitu duduk dipinggir jalan itu lantas makan bareng-bareng disana, bener-bener piknik nek iki. Selain numpang kamar mandi tentunya orang-orang pada gak tahan untuk ngerokok kan soalnya di bus kan dilarang, karena AC, tapi anehnya diPOM Bensin itu mereka berani-beraninya merokok, padahal kan kalo di bus yang rusak paling ya cuman AC sedangkan kalo di POM ini kan bisa meledak ta, bahkan bisa membunuh sang perokok, tapi kok malah takut AC rusak tapi ndak takut kalo POM tersebut meledak. Itulah kalo udah kecanduan rokok, logikanya mati.

Sesampainya di malang disambut oleh keluarga besar dari mempelai laki-laki, acara dimulai dari basa-basi gitu, ya semacam sambutan yang sebenarnya ane gak ngerti, maklum nganggo boso jowo alus, lha aku ki kan pemula yo gak dongg. Tapi yo berusaha untuk mengerti sedikit-sedikit.
Salah satu hal yang menarik adalah ketika mempelai pria ditanya tentang alasan menikahi sang perempuan, dengan lantangnya dia menjawab “Yo mergo ayune lan patuh mareng agomone” artinya kurang lebih “Karena cantiknya dan patuh terhadap agamanya”, ini alasan seng jossshhh menurut aku.

Menurut aku, alasan itu ya alasan utama sih sebenarnya, selain dikarenakan keinginan memiliki istri yang shalehah tentunya yo seng ayu to. Tetatpi ayu bukanlah satu-satunya parameter ukuran, melainkan ada tambahannya yaitu agamanya. Karena sebaik-baik perempuan adalah yang agamanya baik, karena ketika agamanya baik maka biasanya yang lain-lain juga baik kok. Lagi mau belajar memahami gimana sebaiknya alasan yang baik itu, apakah mau dibilang kalo “Aku menikahimu tanpa alasan” nek iki yo malah bubrah, setidaknya pasti ada tujuan serta alasan khusus mengapa aku memilihmu.

Setelah melalui rangkai acara ya saatnya untuk kembali lagi ke kota Ngawi, padahal yo belum hilang rasa capek serta mual-mual ini ya tetep balik, soalnya ya memang gitu kan rencananya. Akhirnya perjalanan pulang dimulai, tentunya ketika bepergian akan berbeda ketika kita berangkat maupun pulang, ketika berangkat tidak ada yang kita tinggalkan karena kita akan kembali, tetapi ini tentunya akan menjadi perpisahan terhadap kota Malang ini, karena ini pertama dan mungkin saja jadi yang terakhir bagiku kekota ini. Ya karena arep ngopo juga rono ta.

Sampai di Ngawi hampir mencapai waktu jam 10 malam, ya karena perjalanannya santai, ya ini faktor yang bikin aku ndak mabuk juga kan, kalo ngebut dan seperti bus lainnya mungkin udah tepar aku dibuat jadinya. Malam-malam tiba di ngawi, suasana sudah sangat sepi ya karena biasanya kalo jam segini ya pada udah tidur, jadi ya berangkat pada belum bangun eh pulangnya pada udah tidur dehh. Pulang deh kerumah masing-masing para peserta iring-iring, begitupun aku yang dititipi beberapa barang, berupa snack juga. Ini kan lumayan buat kletikan malam-malam.

Sesampainya dirumah rasa penat udah ndak tertahankan lagi, jadi ya langsung mengistirahatkan diri saja jadinya. Soalnya kan perut dalam keadaan kenyang, ditambah lagi kepala yang terasa muter-muter gitu ya jadi tidur aja deh. Pagi setelah shubuh rasanya badan kok gak enak gitu, keluar sebentar ngantar dek irfan sekolah trus liat-liat pemandangan sebentar, trus balik lagi kerumah dan tidur.

Nah, tidur yang kedua ini yang rada-rada gak enak, mimpinya itu lo kok aneh-aneh, seng pertama ngipi ketemu karo si kae karo si kae, kan rodok gak penak, mimpine yo mbuh opo sebenere. Trus tersadar kan, bangun dan nginget-nginget lagi apa yang sebenarnya terjadi, trus lanjut tidur lagi berharap mimpinya ganti, eh malah mimpi ketemu si itu lagi. Kan ini sebenarnya kenapa ya? Difikir-fikir kok gak ketemu kenapa-kenapanya.

Apakah masih ada tersisa rasa didalam diri ini, opo yo aku ki ugong ikhlas melepas mereka semua ya, Nek seandainya gong ikhlas yo arep kepiye? Wes podo nduwe masalahe, ya tetep sabar aja yas. Apalagi bentar lagi kamu pulang, semoga ya ndak malah langsung dapet undangan gitu. Takutnya ngko aku bertindak bodoh pulak kan, koyok neng facebook kae.

Cuman yang perlu jadi catatanku adalah, kamu mau ikhlas atau tidak mereka yo tetep bakal ninggalke awakmu yas, kepiye maneh kann, arepo awakmu ki ra trimo karo takdir yo ujung2e bakal dirabi wong liyo to. Nah sekarang mendingan kamu merangkai jalan takdir dirimu sendiri, banyak hal yang perlu kamu lakukan biar ndak cuma mikirin mereka, fikirin diri kamu dulu deh biar ntar kalo memang sudah waktunya semuanya bakal indah, meskipun tidak seindah yang diharapkan, tapi itu pasti yang terbaik untukmu.

Selesai ditulis di Dusun Nampu, Bringin, Ngawi, sebuah desa kecil diatas bukit dengan sinyal yang minim. Tetapi disinilah tempat aku dilahirkan dahulu. Bagaimanapun disini adalah salah satu tempat ternyaman untukku.

19 Mei 2016 19:39 oleh Andriyas Efendi


Lingkunganku

Siang ini mentari bersinar begitu panasnya, teriknya matahari tak membuat kulit terbakar melainkan memberikan rasa panas ditubuh kalo kata orang jawa ya sumuk. Aktifitas warga Nampu sudah mulai mereda, dan mulai kembali kerumah masing-masing. Terlihat sepasang muda mudi sedang berboncengan menggunakan sepeda motor ninja, dan mereka terlihat begitu akrab layaknya pasangan yang sudah dimabuk asmara dan lupa akan lingkungan yang berada disekitarnya.

Aku pun terduduk diteras rumah sambil sedikit menikmati semilir angin yang bisa meredakan rasa panas ini. Kulihat ada seorang nenek yang sedang duduk diteras rumah dan sedang melihat-lihat apa saja yang ada disekitar nya. Aku melihat beliau begitu menikmati hidupnya saat ini, beliau bukanlah orang yang kaya ataupun selalu dalam keadaan beruntung. Melainkan dia bahagia dikarenakan sikap2 orang jawa yang nerimo serta dekat dengan orang-orang yang menyayanginya. Teringat dikepalaku akan sosok kedua orang tuaku yang jauh di sana, disebuah desa kecil yang bernama Sungai Kuning, bagaimana keadaan mereka sekarang baikkah? Atau dalam keadaab yang tidak baik, jika biasanya jam segini aku dirumah, bapak biasanya masih diladang dan ibuk baru saja selesai beres-beres rumah.

Mereka berdua merupakan partner yang menurut aku sangat klop, ini bisa dilihat dari bapak yang tekun serta ulet bekerja, serta ibu yang selalu ada dan mendukung setiap apapun yang dilakukan bapak, bahkan di beberapa kesempatan ibuk selalu menemani bapak juga bekerja. Bukanlah dalam hidup ini menemukan partner yang bisa bekerja sama dengan kita juga merupakan faktor penting, meskipun dalam menilai seseorang kita tidak harus selalu menggunakan analisa yang ribet seperti kalo orang jawa melihat bibit, bebet, serta bobotnya. Tapi kita sudah dewasa, kita bisa melihat sekilas apakah kita bisa berpartner dengan baik dengannya atau tidak.

Suasana di dusun Nampu ini begitu sepi, cocok bagi para warga perkotaan yang sedang stres dengan macetnya, kerjaan serta pola hidup mewahnya. Disini bisa belajar banyak, terutama tentang kesederhanaan dan rasa syukur. Bangunan-bangunan yang ada disini tidak begitu mewah, bahkan jalananpun masih terbuat dari batu-batu padas yang disusun sedemikian rupa, sehingga bisa digunakan untuk jalan. Masyarakatnya yang ramah menambah suasana nyaman berada disini, hanya saja, bagi orang-orang yang terbiasa dengan teknologi, akan lumayan kesulitan, terutama masalah sinyal. Disini sinyal bisa dikatakan sangat sulit, ada, tapi jika digunakan tidak bisa. Untuk sms perlu beberapa kali kirim, itupun terkadang masih pending dan lama sekali diterimanya. Telfon juga begitu, nyambung, tetapi suaranya macet-macet dan terkadang tidak ada suara sedikitpun yang terdengar. Apalagi internet, bisa dikatakan lebih parah, karena ya hilang timbul, jika dikota kota berlomba-lomba sinyal 4G, disini mendapatkan 3G saja sudah senang, dan itupun terkadang tidak bisa digunakan. Sungguh ironi.

Sudah hampir setahun yang lalu aku menghampiri desa ku yang di Sumatera, disana kondisinya ya hampir tidak jauh berbeda, yang membedakan disana kondisi ekonomi sudah mendingan dan beberapa fasilitas seperti jalan umum sudah mulai bagus. Tahun lalu ketika aku disana, sinyal operator sudah lumayan meskipun masih agak lambat menurutku. Itu jika tidak mati lampu, lain lagi jika tiba-tiba listrik dari PLN padam, seketika sinyal mulai hilang.

Jika dilihat dari kondisi lingkunganku diatas maka perlu juga diceritakan tentang lingkunganku dijogja. Ya, sudah tertebak, pasti jauh berbeda dijogja dengan daerah manapun. Bagi siapa saja yang pernah kejogja pasti kesan yang dirasakan cuma satu, nyaman. Itulah jogja, apapun ada, sarana bagus serta warganya yang ramah serta biaya hidup yang murah menjadikannya salah satu tujuan tempat tinggal yang direkomendasikan. Tapi apakah untuk bahagia kita harus memerlukan tempat seperti jogja? Bagiku tidak, karena menurut beberapa orang yang aku temui, tinggal didesa adalah sebaik-baik tempat. Desalah yang memiliki tingkat kebahagiaan paling tinggi, meskipun kondisi ekonomi yang pas-pasan tapi tetep hubungan dengan tetangga terasa dekat sekali. Berbeda dengan dikota, bahkan jogja sekalipun, keakraban itu sudah tidak seperti didesa lagi. Apalagi belakangan ini sedikit demi sedikit biaya hidup dijogja sudah mulai naik, ini bisa dilihat dari naiknya harga kos-kosan, kontrakan bahkan makanannya. Bagi yang menemukan makanan yang murah biasanya tempatnya biasa2 aja berbeda dengan yang mahal, fasilitas mulai lengkap. Ini kalo dilihat, beberapa tahun lagi sepertinya jogja akan jadi kota2 lainnya.

Pernah merasakan hidup dilingkungan yang berbeda juga merupakan kenikmatan, karena kita bisa belajar banyak hal, terutama menjadi manusia yang lebih dewasa lagi. Dari pengalaman hidup itulah yang nantinya akan menuntun kita menjadi manusia yang bisa bermanfaat. Itulah mengapa banyak orang tua menyarankan untuk merantau bagi anak-anak muda, ini agar bisa melihat dunia lebih luas, lalu nantinya kembali ke desanya dan membawa hal-hal positif yang ada dan mulai menjadikan desanya menjadi desa yang nyaman.

Ngawi, dusun Nampu, desa Bringin, kecamatan Bringin. Oleh Andriyas efendi


Urip ke golek dalan, dalan seng lurus

Pagi hari di desa nampu tercinta, ada segelumit kisah yg menarik. Ini cerita dari para orang2 tua dari masa2 dahulu bahkan penduduk awal yg ada didesa nampu tersebut. Yapp sejak 1970,, sungguh sudah lama sekali itu. Baik, sedikit demi sedikit akan kucoba tuk menceritakannya.

Pagi itu ku terbangun di pagi hari, dan seketika aroma segar khas pedesaan muncul, kuputuskan untuk jalan2 ke arah waduk, ya kalo singkatnya sih pengin liat sunrise, ben koyo wong kuto. Kali ini aku ditemani irfan, sepupu ku yang paling kecil. Memang biasanya dialah yg nemani aku jalan2 ke waduk ini kalo aku kengawi.

Seperti biasa, kalo pagi2 gini ya enak buat liat yg ijo2 sama sekalian ya foto2 dikit lahh,, itung itung testing kamera hape sama ya buat koleksi pribadi. Abis merasakan nikmatnya udara segar ini, sekalian mampir ke tempat mbah aku, bukan mbah kandung sih tapi lebh tepat ya mbah yg ngurus ibu dari kecil dahulu. Selain karena ngurus ibu,, ternyata mbah ini merupakan mantan calon mertua dari bapak, Hahahahahaha,, ya anaknya dahulu calon istri bapak, tetapi takdir berkata lain, sang calon istri dipanggil terlebih dahulu oleh sang kuasa. So, jadinya ya sama ibuk aku deh. Memang takdir berkata lain.

Baik, seperti biasa kalo aku mampir kesini ya udah disiapin kopi hitam sama biasanya ya sarapan. Lumayanlah, adem2 ngombe kopi, josssss.
Bukan hanya kopi tapi ya ditambahin sarapan, sarapan khas pedesaan,, gak spesial2 amat cuma nasi, sambel teri, sama ya ditambahin telur dadar. Mantapp,, yg bikin enak adalah suasana pedesaan yang nyaman banget trus kesederhanaan yang mantap bener dehh.

Abis sarapan pada njagong didepan rumah, ya pada cerita2 gitu,, datanglah seorang tua yg aku juga lupa namanya tetapi ya namanya didesa yg penting hidup rukun dan tidak saling membenci ya ndak masalah tidak memanggil nama.

Cerita ngalor ngidul dari yg ngebahas soal2 ekonomi didesa sampai ke masa lalu. Diceritakan juga mengenai asal usul dari jalan yg ada dinampu ini,, awalnya ya karena ada orang2 nekat yg memaksa agar orang membuat jalan,, uniknya adalah daripada sibuk sengketa tanah, si mbah tersebut langsung ngambil cangkul dan membuka jalan, dulu orang2 pada kesel sama beliau, tetapi lihat sekarang, anak cucunya bisa menikmati jalan tersebut. Dan beliau berpesan,

urip ki ya gor golek dalan to  dalan seng lurus.

Dari obrolan tersebut, sampailah pada sebuah cerita tentang seorang yang dulunya dianggap dukun sakti “Mbah Nang Sembung”, aku ndak tau kenapa kok beliau dianggap sakti karena katanya beliau itu bisa menyelesaikan banyak masalah, termasuk bagi mereka yg kesulitan memiliki anak, katanya dikasih saran2 trus bakalan punya anak. Kalo aku mah ya ndak percaya, karena kita sebaiknya menyadari kalo anak juga merupakan rezeki, ini bukan cuma soal penyakit ataupun kondisi emosi pasangan, tetapi ini tentang apakah kita cukup dipercaya untuk bisa mendidik seorang anak. Bahkan seorang Nabi pun ada yg diberi anak dalam usia yg sangat tua, jadi jika yakin Allah memberikan yg terbaik buat kita, tentunya akan lebih banyak bersyukur daripada mengeluh sana sini, apalagi sampek datang ke dukun kan.

Nah, ada yg lucu ternyata, kalo katanya orang dulu kalo ada yg ndak tidur berbulan-bulan maka dianggap orang sekti, tapi aku baru tau ternyata ini permainan logika semata. Ternyata fakta yg terjadi adalah dia tidur, tetapi dalam keadaan duduk, nah sejatinya orang tidur itu kan berbaring, jadi jika ada yg tidur dalam keadaan duduk maka dianggap tidak tidur. Kadang selucu itu,

Nah omong2 soal jalan, aku jadi kangen sama jalan depan rumahku itu, jalan kecil tapi syahdu, Hahahahahaha. Karena bisa tiap sore aku liat jalan itu, ya sekedar liatin orang lewat. Belum aspal jalannya, tapi ya ndak jelek lah kalo buat ukuran jalan desa.

So, sekali lagi, yang namanya jalan ya kadang ada yang bagus ada yg jelek, tapi tetep manfaat jalan pasti lebh besar kan. Jadi,

Hidup ini sebisa mungkin bisa bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Biar kelak ada pendorong ataupun bantuan ketika kita di tagih terhadap apa saja yg kita lakukan di hidup ini.


Rumangsamu opo penak dek

Bahagia yg terlihat diluar, sejatinya merupakan hasil dari sakit-sakit yg begitu banyak, itulah realita yg sering terjadi. Karena ya itu merupakan perjuangan untuk bisa bahagia kan. Dimanapun itu atau apapun pekerjaan yg tujuannya ingin bahagia, pasti tetep ada sakitnya.

Itu kenapa sejak kecil sama orang tua ndak pernah yg namanya dikatakan ataupun diajari untuk hidup sante dan ndak bersusah payah,, bisa dikatakan sejak kecil sudah di didik biar jadi orang yg mengerti mengenai susahnya hidup. Mungkin belm banyak yang tahu dan sebenarnya mungkin akan dikatakan pamer, tapi ya maksud aku cerita bukan buat itu kan.

Sejak kecil ama bapak ma ibuk aku dilatih kerja, itu kelihatan karena bapak ama emak kan petani,, seperti anak petani kebanyakan ya kalo pagi udah diajak keladang, kebetulan ladangnya rawa belakang rumah, n dulu sungainya itu airnya masih deras dan bersih. Kalo sekarang sudah wassalam.

Masa-masa kecilku sebenernya lebih banyak diladang, karena kalo pas bapak kerja aku diajak bareng, ya ikut nimbrung ataupun dijak keliling. Ya memang aku tidak secara langsung kerja, karena waktu itu bapak cuma ingin nunjukin kalo ini lo nak kerjane bapak, sekolah seng bener yo. Kalimat singkat itu yg kuinget2 sampek sekarang, nek orang tua itu ndak pernah main2 merencanakan masa depan buat anaknya. Tu ngapa, sampek sekarang aku bisa gini ya karena sebisa mungkin aku serius belajar, karena aku gak bisa kasih banyak kemereka, cuma jadi anak yg nurut dan ndak neko2 aja.

Lalu apa hubungannya dengan judulnya, sebenernya yo ndak ada, karena cuma ingin sekedar mengingatkan kalo hidup ya memang seperti ini, ada masa sulitnya karena itu yg bikin kita sedikit mengerti tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup ini.


Surat buat calon mantu

Di Magetan, subuh hari ketika matahari belm memunculkan sinarnya, ada segelumit kisah ataupun curhatan yg dikeluarkan oleh pak puh ku. Beliau adalah seorang yg dituakan di kalangan keluargaku, dikarenakan bukan hanya faktor usia, melainkan beliau juga termasuk yg paling bijak diantara yang lain. Dingin udara, tak menjadikan suasana menjadi dingin, dikarenakan begitu banyak kisah serta nasehat yang beliau berikan, dan semuanya itu merupakan hasil dari banyaknya pengalaman hidup serta kemampuan beliau membaca situasi lingkungan.

Beliau tak henti2nya menceritakan betapa senangnya memiliki mantu yg benar-benar mengerti bagaimana berlaku baik terhadap mertua. Prilaku mantunya itu kadang bikin geleng2 karena kok ada manusia seperti itu, tingkah polahnya benar2 menunjukkan jika anak ini benar2 cerdas, cerdas dalam bersikap terhadap mertuanya. Sebagai contoh, si mantu ini yg kebetulan seorang perempuan pernah mengantar si pak puh ini pergi kondangan, lucu kedengarannya, karena kok aku belm liat ada yg gitu ya, kebanyakan banyak yg kayak ada jarak gitu, apakagi terhadap mertua laki-laki.

Nah, tulisan inu sedikit ingin mewakili apa yg beliau rasakan, meskipun tentunya yg dirasakan lebih dari ini, ini sedikit kesimpulannya.

Nak, ini bukan permintaan ataupun semacam paksaan terhadapmu
Ini hanya beberapa kisah yg didengar dari orang2 yg sudah memiliki mantu.

Bukankah mertua itu layaknya juga orang tuamu, perlakukan kami dengan sebaik2nya, kami ingin dekat denganmu ingin akrab denganmu,
Tapi kami ini sudah tua, terkadang kami terlalu takut untuk meminta padamu, takut jika nanti dikira kami ini banyak permintaan, banyak tuntutan dan sebagainya.

Maka, jangan buat jarak dengan kami, engkau sudah dianggap sebagai anak sendiri, keluh kesahmu sudah jadi keluh kesah kami juga.
Terbukalah terhadap dalam segala hal, jangan tutup dirimu. Biarkan kita mendekat dan akrab selayaknya keluarga.

Aku nulis ini sebagai pengingat buat diriku juga, jika kelak nantinya aku diberikan rezeki berupa jodoh, aku ingin belajar untuk memahami seperti apa selayaknya berlaku terhadap mertua sehingga bisa dekat, selayaknya dekat dengan orang tua sendiri.

Ditulis di Magetan, tepatnya didesa Ngalo, didapur desa yg khas dengan kayu bakarnya, dan ditulis menggunakan handphone oleh Andriyas Efendi


Sabar dalam menunggu

Tak ayal lagi jika kegiatan menunggu sudah jadi salah satu dari banyaknya kegiatan manusia. Ini terlihat dari hampir semua kegiatan pasti ada bagian nunggunya. Nah, kali ini nunggunya bukan nungguin pacar yg lagi dandan ataupun nunggu gajian yang belm cair juga.

Nunggu service motor, bosan akan datang dengan sendirinya, tetapi tinggal bagaimana kita menikmati masa-masa menunggu tersebut sehingga tidak jadi membosankan.
Kali ini salah satu tempat service favorit adalah depan YKPN, yappp kampus ekonomi yg lumayan banyak mbak2nya. Beda kayak kampus aku yg isinya laki2 kebanyakan, walaupun ada mbak2nya biasanya udh sold out. Ini seperti lagi mengumpulkan kenangan-kenangan yg muncul dikota jogja ini, sekilas melihat para mahasiswa yg hilir mudik kesana kemari mungkin ada urusan kampus atau lainnya, mungkin juga ya cuman seliweran sekedar main aja kan, tapi ya itu suasananya mahasiswa. N kayaknya itu udah mulai aku tinggalkan, ya kan udah gak jadi mahasiswa lagi. Sore ini rencananya aku mau ke ngawi, ngehadiri beberapa agenda resepsi pernikahan mbak2 aku, ya mbak2 yg dulunya masih single sekarang satu demi satu mulai sold out.

Jika dahulunya ikatan keluarga dimulai dari orang tua yg bersaudara, maka ini mungkin langkah awal untuk para putra putrinya untuk saling mengakrabkan diri, agar nantinya keluarga ini tetap merasakan keluarga yg utuh sebagaimana mestinya.

Diselesaikan di Magetan, didapur sambil minum kopi, oleh Andriyas Efendi.


Jalan-jalan ke pantai krakal

Ada kisah dibalik datang serta perginya hari libur, termasuk cara menghabiskan waktu liburan. Kali ini bersama teman2 masa lalu, eh,, teman2 kuliah dulu pada ngajakin camping ke pantai. Seperti apa kisahnya? Baikk, kita bahas…

Dimulai dengan datangnya hari libur pada bulan mei yang kebetulan pas banget mepet dengan hari libur kerja,, yappp ada sekitar 4 hari libur. Lumayanlahh,, nah datanglah ajakan dari beberapa teman kuliah dahulu untuk jalan-jalan. Awalnya mau camping ke pantai, kenapa ke pantai karena kalo ke gunung lebih ribedd. Jadi pantailah yang jadi tujuan awal. Awal janjian mau berangkat dari jogja sekitar jam 9, tapi aku baru balik kerja ya jam segitu, jadi mau gak mau ya dibuat agak nelat-nelat dikitlah.

Akhirnya berangkat jam 11 malam dari jogja, jalanan sepi banget, hampir bisa dikatakan udah gak ada lagi orang yang bepergian jauh jam segitu. Tapi sekali lagi, karena ini bareng2 maka ya gak ada yang ditakutin. Sekitar jam 12an malam mampir di wonosari sebentar, mau cari makan karena pada kelaperan pada belum makan sama sekali. Cari-cari makan susah banget karena udah pada bongkar tenda dan pada cuci piring serta alat-alat masak udahan. Mutar-muter akhirnya ketemu tempat makan yang masih buka, ya walau cuma nasi goreng yang tersisa, tak apa lah,, yang penting ada yang bisa dimakan dan gak jadi deh kalirennnn.

Tujuan pantai awal adalah dipantai krakal, dikarenakan tempatnya yang bagus dan tidak terlalu ramai tentunya, kami sampai di pantai tersebut sekitar jam 2 pagi, jadi ya gelap banget masihan, udah pada ngantuk dan semilir angin pantai bikin mata makin gelap, sewa tiker, langsung deh pada tidur di pinggir pasir pantai, ini camping tanpa tenda karena udah kemalaman nyampenya, percuma juga mau pake tenda kan. Nanggung,

Pagi shubuh pada bangun, karena suara ombak yang begitu indah, serta semilir angin udara pagi yang menurut gue seger banget, gak ada duanya dehhh.. Matahari udah mulai terbit, saatnya yang ditunggu-tunggu, yapp foto. Jarang-jarang ada pemandangan seperti ini jadi ya dipersiapin deh foto-foto mataharinya. N gak selfi, buat apa??

Pagi hari di pantai krakal
Itu yang difoto mas danang terlihat dia menikmati kann,, padahal ngakunya gak kuat kenak dingin ataupun panas, tetep aja pagi-pagi dipantai yang nyebur duluan.
sunrise di pantai krakal
Sunrisenya gak kelihatan, cuma nampak cahaya-cahaya dikit aja, tapi ya gak papa, lumayan buat seger dimata.
ini waktu shubuh
Kalo yang ini masih suasana shubuhan, masih pagi banget, minim cahaya, tapi lumayanlah bisa ke shoot.

Lumayan dapet foto yang keren abiss. Sebenernya masih banyak yang perlu di ekspos dari pantai krakal ini, tapi karena melihat airnya yang jernih serta ombak yang menggulung-gulung, pada gak sabaran buat nyebur, yaudah deh gak kefikiran banyak-banyak foto, seng penting yo nyeburrr…

Setelah puas dengan pantai krakal, lebih tepatnya kurang puas sih, karena sesuai namanya pantai krakal, isinya karang kabehh, jadi kaki ya pada luka, badan pada baret-baret. Jadi sebenarnya kurang puas aja main airnya. Lalu diputuskanlah untuk menuju pantai selanjutnya, yaitu pantai Baron.

Perjalanan ke pantai baron ini radak-radak gila, masih pada basah-basah, nekat pergi naik motor kesana, mungkin kalo orang lihat, ini orang aneh dari mana, basah-basah nekat pergi. Ya daripada ribedd kan gonta-ganti pakaian mending ya langsung aja pergi, toh pakaian yang dipake masih sopan kan. Sesampai di pantai baron, suasananya udah lumayan rame ya, karena udah agak siangan juga sih. Udah ada beberapa payung-payung yang menghiasi pantai, dan beberapa orang yang udah nyebur, gak sabaran ya langsung aja pada nyebur untuk yang kedua kalinya, airnya suegerrrrr dan yang lebih penting lagi gak ada karangnya. Hahahahahaha

Temen sekelas kuliah
Pasukan yang siap nyebur ke tahap kedua, masih pada basah-basah itu.
pantai baron
Sudah lumayan siang, tapi belum begitu panas, masih asiklah buat nyebur-nyebur.
pantai baron sudah ramai
Udah banyak payung-payung yang terhampar, dan sebenernya agak risih, jadi kurang mantap pantainya.
pantai baron pagi
Lihat airnya, serta ombaknya, ini seger banget nyebur disini.

Itulah beberapa cerita sekilas mengenai kedua pantai ini. Lalu kenapa ada yang spesial dengan momen ini. Agak aneh sebenarnya tapi ini sepertinya seperti mau ada perpisahan dengan jogja, yaa beberapa saat lagi aku akan pergi meninggalkannya. Hahahahaha, terlalu mellow. Niatku ingin pergi dari jogja ini dengan baik-baik juga, gak mau ada kenangan ataupun penyesalan-penyesalan yang tidak penting, jadi biarlah yang buruk-buruk itu hanyut terbawa ombak. Sudah kuikhlaskan semua yang pernah terjadi di jogja ini, baik itu cinta maupun cita-cita yang belum tercapai. Dan sesi kehidupanku selanjutkan akan dilanjutkan di tanah aku dibesarkan, Sungai kuning atau Kali kuning atau “Yellow River”.

 

 

 


Dia yg dulu kucinta, kini telah ..??

Ada getar getar cinta kala kutatap wajahnya,, senyumannya, indah suaranya, itulah yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta. Namun kemanakah rasa itu saat ini?? Rasanya sudah terlalu lama sendiri jadi kok ngerasa udah lama banget aku gak ngerasain masa-masa seperti itu.

Ah mungkin itu hanya sedikit egoku saja, aku yakin aku gak sendiri kok ngalamain semua ini. Oke, kali ini sepertinya akan sedikit bernostalgia dengan masa lalu, terutama tentang “Dia yang dulu kucinta”. Akan ada masa ketika kita suka terhadap seseorang, dan lambat laun rasa itu semakin memudar seperti aroma parfum. Wangi di awal, tapi lama-lama akan hilang juga. Tergantung berapa botol make parfumnya juga si.

Setiap orang pasti akan berubah, baik dari segi fisiknya saja, maupun dari segi sikap serta emosionalnya. Nah, perubahan-perubahan inilah yang terkadang menjadikan diri kita yang mencintainya masih memandangnya seperti awal dahulu jumpa pertama kali, ini yang keliru, itu kenapa banyak yang ngerasa aneh dan pangling ketika setelah sekian lama tak jumpa kok ada yang beda. Bukannya beda, melainkan ada sedikit perubahan yang tidak kamu lihat.

Terkadang perubahan itu menjadi lebih baik, dan kadang malah lebih parah. Tapi tentunya seiring berjalannya waktu dan menambahnya usia maka akan lebih banyak hal-hal baik yang akan terjadi. Jadi ada baiknya memandang seseorang bukan dari segi yang buruk saja, jika ternyata ada banyak kebaikan-kebaikan yang dimilikinya bukan?

Lalu kemanakah rasa yang dahulunya kita rasakan tetapi ketika melihat si tujuan hati ini kok sudah berbeda, tenang itu bukanlah masalah yang terlalu besar, manusia diberikan kemampuan untuk beradaptasi sangat luar biasa. Itu kenapa kita hanya perlu sedikit untuk membiasakan diri dengannya saja, sehingga lama-kelamaan akan menemukan kembali hal-hal apa saja yang membuat kita menjadi suka padanya.

Selain itu, kemampuan untuk saling menerima juga menjadi faktor penting apakah proses adaptasi tersebut akan berjalan dengan baik atau tidak. Jadi, kesimpulannya

“Dia yg dulu kucinta, kini telah menjadi lebih dewasa”


Pergi untuk kembali

Belum hilang rasa lelah di tubuh, masih terasa dinginnya udara di ngawi, serta segarnya udara di Sarangan. Semua itu beralu begitu saja tanpa ada sisa-sisa kenangan yang ada, hanya untuk menapaki kaki ini, serta menjadi saksi bahwasanya aku pernah tiba ditempat itu.

Pergi, kata yang menyisakan sedikit luka bagi orang yang ditinggalkan, tetapi akan menjadi sebuah pendorong motivasi baru bagi yang akan pergi. Didunia ini ada berbagai macam jenis kepergian. Tetapi anehnya semuanya menyisakan sebuah kesedihan.

Entah itu kepergian seorang anak untuk menuntut ilmu, ataupun kepergian saudara maupun sanak famili untuk bekerja ditempat yang jauh dari keluarga. Itu hanyalah sedikit dari banyaknya kepergian yang ada. Tetapi, setiap yang pergi pasti akan kembali. Hanya saja apakah yang pergi dan yang kembali suatu hal yang sama atau berbeda?

Tahun 2011, aku memutuskan untuk pergi menuntut ilmu ke Jawa, entah dimanapun itu, yang aku tuju yang penting di Jawa. Itu aku lakukan agar sedikit demi sedikit aku ingin melihat, seperti apa sebenarnya Jawa itu. Ingin tau letaknya, manusianya serta apapun itu yang berkaitan dengan Jawa. Itu mengapa aku begitu kekeuh ketika meminta izin kepada orang tua untuk melanjutkan sekolah ke Jawa.

Kepergianku keJawa, tentunya dengan niat baik, tetapi tetap saja aku tau sebenarnya ada yang sedih dengan perginya aku ke Jawa, Pacar?? bukan, emmm itu termasuk sih,, tapi sebenarnya kedua orang tua aku pastinya sedih, karena aku tau yang mereka inginkan sebenarnya  cuma ingin dekat dengan anak2nya. Tapi inilah anaknya, yang haus akan ilmu, yang selalu ingin tahu hal baru, yang ingin melihat dunia lebih luas, maka aku selalu berharap untuk merelakan kepergianku.

Setiap kehidupan pasti ada kematian, setiap yang bertemu pasti akan merasakan berpisah. Begitu juga yang pergi, pasti akan kembali. Percayalah, sejauh apapun kita pergi, tetap akan kembali ketempat awal kita memulai hidup, yaitu “Rumah”.