Skip to content

Seperti juga bulan, aku juga bisa merindu

Mungkin tak semestinya ini semua diungkapkan, karena tak semua kalimat akan sama maknanya ketika yang membaca berbeda, tetapi tak ada kalimat yang tak bisa dimengerti. Karena kalimat merupakan salah satu cara atau gaya bahasa seseorang untuk menyampaikan sesuatu, ada yang menggunakan bahasa isyarat dan ada juga yang terang-terangan mengungkapkannya. Terkadang itu yang membuatnya menjadi mudah dimengerti. Seperti juga bulan, aku juga bisa merindu, kalimat ini buat anak-anak jaman 90an kayaknya familiar banget, kala itu masih awal-awalnya punya hape, dan beberapa lagu juga ada yang sampai sekarang masih terkenang, kalo ndak salah lagunya siti nurhaliza yang judulnya “Wulan merindu”.

Apa yang terjadi belakangan ini terhadap diriku setidaknya membuka sedikit cakrawala lagi dalam memandang hidup ini, seolah akan menunjukkan ke sebuah titik dimana tujuan hidup kita ini menjadi jelas, jadi bukan hanya sekedar mengalir bagai air begitu saja, tapi jelas tujuannya menuju ke arah yang lebih rendah. Itu jika mengambil filosofi air, tapi berlaku juga bagi para kapal, yang kemanapun dia berlayar, dia juga pasti tahu tujuan dermaga tempat dia berlabuh dan nantinya untuk berhenti dan memutuskan untuk menetap didermaga itu.

Seperti juga pesawat terbang, yang dalam satu waktu bisa berpindah-pindah tujuan, terkadang dalam perjalanan akan terjadi gejolak yang menghambat atau bisa lancar seperti apa adanya. Jadwal penerbangan yang tidak menentu juga terkadang menjadikan proses menunggu menjadi lebih lama lagi, tetapi tetap saja, akan ada kepastian berapa lama para penumpang akan menunggu.

Halah, ngomong apa ini. Ada kala saat-saat terburuk bagi seseorang untuk memutuskan menyendiri, karena tidak selamanya sendiri itu akan memberikan efek yang baik, ada kalanya menyendiri akan menjadikanmu menjadi lebih terpuruk lagi.
Apalagi jika yang ada didalam benakmu hanyalah hal-hal yang menyakitkan dirimu untuk diingat, apalagi dikenangkan. Tidak semua yang kita ingat adalah hal-hal yang bahagia, pastinya ada kala sesuatu yang berusaha keras kita lupakan, dia akan hadir begitu saja. Seperti angin yang terkadang hadirnya memberikan kesejukan, tetapi jika terlalu kencang juga bakalan bikin ribet.

Kata menjadi tak berarti lagi ketika sudah tak ada lagi rasa dalam hati, karena sedikit banyaknya kata merupakan hasil dari olahan fikiran dan yang dirasakan dengan hati. Apa yang dirasakan tentunya juga akan sedikit banyak mempengaruhi apa yang akan diucapkan dan yang akan tertuliskan.

Seperti juga rindu, ada kalanya yang dirindukan adalah dia yang selama ini sudah engkau yakinkan dan engkau pilih melalui beberapa proses pendekatan, atau yang dirindukan adalah masa-masa bersamanya. Atau bahkan hal-hal yang kamu benci sekalipun akan bisa memberikan efek rindu yang bisa jadi tidak terbendung.

Lalu salahkah rindu jika kehadirannya hanya mendatangkan luka baru? Karena ada beberapa luka yang bisa sembuh tapi dengan resiko masih meninggalkan begitu banyak bekas. Itu mengapa bagi para pecinta, sudah menjadi resiko akan banyaknya bekas-bekas luka hati yang dideritanya.

Dan luka yang paling menyakitkan adalah melihatnya mengabaikan diri kita, seolah bidadari yang sudah dicuri selendangnya tapi sang pencuri tak mengembalikannya sehingga dia hanya bisa menatap bulan karena tak bisa lagi mencapainya.
Atau seperti layaknya para pecinta itu yang masih juga bisa sabar ketika dirinya begitu sering dilukai, begitu sering diabaikan, karena mereka meyakini, jika cinta memang takkan selancar jalan tol, ataupun semulus lembaran kertas, ada kalanya cinta layaknya pedang, yang akan menikam dan melukai kita jika kita tidak pandai dalam merawatnya.

Lalu bagaimana caranya agar rindu yang hadir itu takkan berefek pada diri kita, setidaknya ada beberapa hal yang sering dilakukan para korban-korban patah itu, dan mungkin juga ini akan dilakukan mereka yang berusaha menjada diri agar tidak lagi gagal dalam menjalin sebuah hubungan dan kecewa berlebihan.

Menangis.
Ya, pertama kali bagi para korban itu biasanya menangis, menangislah, sesalilah semuanya, bahkan jika perlu salahkan dirimu dan salahkan dirinya dengan kesalahan yang benar salah, ini akan memberikanmu dorongan untuk menjadi lebih sedih lagi dan nantinya kamu bakal lebih lega, jika perlu menangislah sampai engkau bisa minum dengan air matamu sendiri. (by Wira)

Menatap masa depan dengan lebih optimis.
Ada yang lagi dipersiapkan untukmu, ada yang sedang menunggumu dengan setia, dan ada yang sedang memperjuangkanmu. Katakan kalimat-kalimat itu yang akan sedikit memberikan dorongan bahwa kesedihan harusnya berlalu, tukang ojek saja yang begitu lelah menunggu dan terkadang tak mendapatkan penumpangpun esok harinya masih tetap berangkat mangkal untuk mencari penumpang lagi. So, mulailah mencari-cari apa saja yang hilang selama ini karena terlalu sibuk dengannya, perbanyak belajar apa saja yang menurutmu perlu, dan jangan lupa untuk lebih banyaklah senyum, tapi perlu diingat, senyumlah untuk semua orang, tapi hatimu jangan. (JANGAN)

Mencari makna dibalik kegagalan.
Nah, akhirnya langkah terakhir ya coba diselami lagi dalamnya samudera kegagalan itu, dan akan sampai mana dasarnya. Coba engkau cek dalam dirimu, apa yang kurang yang ada padamu, karena mungkin bisa jadi momen ini adalah saat yang tepat buatmu untuk memperbaiki diri. Tentunya akan banyak hal yang bisa engkau koreksi, entah itu karena terlalu terlena, terlalu cuek atau bahkan karena engkau merasa dialah sang pemilik hatimu maka engkau lebih sering merasakan luka daripada kelukaan itu sendiri.

Setelah ketika hal itu kamu lakukan, maka mulailah tetapkan tujuan hidupmu kembali, bergaullah dengan siapa saja yang menurutmu akan membantumu, hubungi sahabat-sahabat yang peduli padamu, mereka yang memandangmu bukan karena engkau berkulit putih, anak baik atau bahkan anak dari orang kaya, tapi mereka yang memandangmu apa adanya dirimu, karena mereka adalah teman-teman terbaik yang akan selalu mendukungmu meskipun saat itu engkau sedang tak butuh mereka sekalipun. Dan tentunya cobalah untuk saling berbagi pengalaman, mencari cari apa saja yang pernah dilakukan, ceritakan dan semoga engkau sedikit banyak rindu yang tadinya itu sangat membuatmu terpuruk, hanya akan jadi bahan candaan yang tidak lucu dan tentunya tidak melukai juga.

Kesimpulannya, merindulah jika rindu itu memang benar-benar hadir dalam hadirmu, karena tidak semua yang kita lawan lantas kita akan menang, berdamailah dengannya, karena bisa jadi itu akan membuatmu menjadi lebih bahagia.

Ditulis ketika mentari bersinar terang, seolah mengatakan, aku tetap bersinar meskipun beberapa hari yang lalu aku ditutupi oleh awan-awan itu.

By Andriyas Efendi

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.