Skip to content

Surat buat calon mantu

Di Magetan, subuh hari ketika matahari belm memunculkan sinarnya, ada segelumit kisah ataupun curhatan yg dikeluarkan oleh pak puh ku. Beliau adalah seorang yg dituakan di kalangan keluargaku, dikarenakan bukan hanya faktor usia, melainkan beliau juga termasuk yg paling bijak diantara yang lain. Dingin udara, tak menjadikan suasana menjadi dingin, dikarenakan begitu banyak kisah serta nasehat yang beliau berikan, dan semuanya itu merupakan hasil dari banyaknya pengalaman hidup serta kemampuan beliau membaca situasi lingkungan.

Beliau tak henti2nya menceritakan betapa senangnya memiliki mantu yg benar-benar mengerti bagaimana berlaku baik terhadap mertua. Prilaku mantunya itu kadang bikin geleng2 karena kok ada manusia seperti itu, tingkah polahnya benar2 menunjukkan jika anak ini benar2 cerdas, cerdas dalam bersikap terhadap mertuanya. Sebagai contoh, si mantu ini yg kebetulan seorang perempuan pernah mengantar si pak puh ini pergi kondangan, lucu kedengarannya, karena kok aku belm liat ada yg gitu ya, kebanyakan banyak yg kayak ada jarak gitu, apakagi terhadap mertua laki-laki.

Nah, tulisan inu sedikit ingin mewakili apa yg beliau rasakan, meskipun tentunya yg dirasakan lebih dari ini, ini sedikit kesimpulannya.

Nak, ini bukan permintaan ataupun semacam paksaan terhadapmu
Ini hanya beberapa kisah yg didengar dari orang2 yg sudah memiliki mantu.

Bukankah mertua itu layaknya juga orang tuamu, perlakukan kami dengan sebaik2nya, kami ingin dekat denganmu ingin akrab denganmu,
Tapi kami ini sudah tua, terkadang kami terlalu takut untuk meminta padamu, takut jika nanti dikira kami ini banyak permintaan, banyak tuntutan dan sebagainya.

Maka, jangan buat jarak dengan kami, engkau sudah dianggap sebagai anak sendiri, keluh kesahmu sudah jadi keluh kesah kami juga.
Terbukalah terhadap dalam segala hal, jangan tutup dirimu. Biarkan kita mendekat dan akrab selayaknya keluarga.

Aku nulis ini sebagai pengingat buat diriku juga, jika kelak nantinya aku diberikan rezeki berupa jodoh, aku ingin belajar untuk memahami seperti apa selayaknya berlaku terhadap mertua sehingga bisa dekat, selayaknya dekat dengan orang tua sendiri.

Ditulis di Magetan, tepatnya didesa Ngalo, didapur desa yg khas dengan kayu bakarnya, dan ditulis menggunakan handphone oleh Andriyas Efendi

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.