Skip to content

Tabir surya

Mentari pagi tak jenuh-jenuhnya memancarkan sinarnya, kali ini disambut dengan datangnya bulan Ramadhan, bulan penuh berkah yang ditunggu-tunggu bagi setiap orang yang ingin memperbaiki diri serta ingin dosa-dosanya yang ada selama 11 bulan yang lalu dihapuskan. Yapp ini adalah sebuah bulan berkah yaitu bulan Ramadhan. Bulan dimana yang jauh akan mendekat dan yang dekat akan semakin dekat. Itulah sedikit ilustrasi bagiku yang Ramadhan kali ini Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga tercinta.

Tak terasa sudah 3 hari Ramadhan ini berlalu, dan aku belum menulis satupun mengenai kesan serta pesan yang dirasakan selama beberapa hari ini. Begitu banyak hal yang terjadi, sehingga mungkin kata-kata ini takkan banyak menceritakannya hanya mengambil bagian-bagian penting yang bisa dijadikan sebuah kisah dan nantinya akan bisa diambil beberapa manfaatnya.

Diiringin suara Cak Nun yang menggema mencoba mencari kata yang tepat untuk mengunggapkan semua yang aku rasakan kini. Kala itu Selasa 31 Mei 2016, hari yang nantinya akan jadi hari bersejarah buatku, karena waktu itulah aku benar-benar meninggalkan jogja untuk mungkin waktu yang lama, bukan selamanya karena mungkin saja masih diberikan kesempatan untuk mengunjungi kembali tempat itu kan. Selasa itu pagi hari jam 5 pagi dimulai mempersiapkan beberapa barang yang sehari sebelumnya sudah aku packing dengan rapi dan nantinya akan aku bawa pulang kerumah. Berat rasa hati meninggalkan kamar 3x4m ini, tempat selama hampir 5 tahun aku ditempa dijogja untuk dijadikan manusia yang semoga menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Sepinya subuh hari ditambah sedikit rintik embun sisa hujan semalam menjadikan suasana menjadi lebih sunyi dari biasanya, atau karena mungkin ini adalah perjalanan subuh terakhir kali aku dijogja. Ya, dahulunya sering kali aku subuh hari sudah siap dan pergi kemanapun yang aku suka, kebetulan ya dahulu ada pengajian yang terletak di Mesjid UGM, Mesjid itu menurut aku menjadi satu-satunya mesjid yang kalau lagi bener-bener galau gak kaluan kujadikan tempat berlabuh. Disana tak bertemu dengan siapapun, hanya sekilas menikmati suasanan mesjid ini dengan seksama.
Bandara Adisujipto, satu-satunya bandara dijogjakarta yang menjadi saksi nyata bagi pertemuan serta perpisahan orang-orang dengan kota jogja, kota yang istimewa yang ngangenin. Kayak kamuuuu,, ehhhhh.

Pesawatku terbang jam 07.00 dan waktu sudah menunjukkan waktu jam 06.30 tetapi belum ada tanda-tanda jika pesawat sudah boleh dimasuki, entah mengapa hati gelisah untuk pertama kalinya ketika naik pesawat, mungkin terlalu banyak kenangan yang akan ditinggalkan, atau mungkin karena ini pertama kali setelah sekian lama aku gak naik pesawat yang transit ya. Waktu hampir menunjuk ke pukul 07.00 dan penumpang pun di minta untuk masuk kedalam pesawat, wah untung delay gak begitu lama kali ini ya. Bismillah, semoga perjalanan lancar sampai tujuan, aku bertawakkal kepadamu ya Allah.

2 jam perjalanan tak terasa sudah sampai di Batam, bandara yang aku enggak tahu seperti apa yang jelas kesan pertama yang aku rasakan adalah capek jalan kaki, iya dari ketika pesawat turun dan penumpang diturunkan melalui bawah, lalu jalan naik kelantai 2 dan kembali lagi turun ke lintasan pesawat karena tidak ada pintu langsung yang menuju ke pesawat, alhasil jangankan untuk merasakan gimana kota Batam itu, menghirup udara segarnya pun tak sempat, ya inilah nasib transit yang cuma sebentar ya. Kurang lebih 50 menit perjalanan ke Pekanbaru dan ini lah perjalanan terakhir untuk rute kali ini.

Ada yang sebenarnya dari pagi itu aku rasakan tapi ndak sempat juga terlampiaskan, yappp laperr, aku cuma sarapan roti doang dan gak bawa minum apapun, jadinya ya gitu kaliren bener-bener laper dahhh. Dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki akupun mencari barang-barang yang aku bawa dan secepatnya menuju tempat yang jual roti, kali ini pilihan ke Roti O, yaa roti yang bau kopinya itu bener-bener menggoda, beli 2 sekaligus, untuk minumnya ambil air jeruk dan harganya 2 kali lipat,, waaawwww. Okelah, daripada kaliren kamu yass.

2 Roti habis dilahap, ada anak kecil yang ngeliatin, mungkin pengen tapi karena aku laper bodok amat ahhhhh, mungkin dalam hati si anak kecil itu, itu si om kok gak bagi-bagi ya. Bodok amat, ada emaknya aja kok, biar minta emaknya aja. Jemputan kali ini selalu tertuju ke mas topik, langganan kalo jemput ya beliau, cuman kali ini nunggunya lebih lama dari biasanya, sampek jenuh dan bener-bener mumet efek jetlag juga kan. Turun di bandara sekitar jam sebelas, dan beliau baru datang ngejemput jam setengah satu, okelah yang jelas udah gak begitu laper. Perjalanan belum berakhir, karena inilah saat-saat yang melelahkan dimulai, 3 jam perjalanan menggunakan mobil dari pekanbaru menuju desa tercintaku Sungai Kuning.

Kali ini alhamdulillah perut masih bisa diajak untuk bersahabat sehingga tidak terjadi mual dan sebagainya, sesampainya dirumah ya langsung aja itu deh minta makan sama emak, yapp pertama kali langsung nanya mak masak apa? Apa aja yang ada di meja makan itu di embat aja deh, yang penting ndak kelaperan lagi dehhh.
Tak banyak yang berubah dari rumah ini, hanya lokasi kamarku yang lagi-lagi berpindah, dari awalnya di belakang pindah kekamar paling depan, ya sesuai permintaan aku juga sih.

***

Sabtu itu tanggal 4 Juni 2016 merupakan hari persiapan untuk memasuki Ramadhan, meskipun senin baru akan dimulai puasa, tetapi di lingkunganku ini terutama yang satu RT, sudah mulai menetapkan yang dikatakan “mapak tanggal” atau bahasa sederhananya ya menjemput datangnya bulan Ramadhan, biasanya dimulai dengan membaca beberapa dzikir lalu dilengkapi dengan bancaan. Ya ini diniatkan sebagai acara kumpul-kumpul saja, karena sebenarnya tidak ada kewajiban mengenai hal ini. Karena tradisi saja, mungkin diniatkan untuk memberikan pengajaran kepada generasi muda jika bulan yang berkah disambutlah dengan cara yang berkah juga.

Ramadhan kali ini dari sejak awal aku sudah dirumah, dan mungkin ini yang pertama kalinya, setelah beberapa tahun, tepatnya sejak aku kuliah dijogja, keseringan pulang setelah beberapa hari puasa. Karena kan dulu masih ngikut jadwal dari kampus, tapi kali ini serasa kan sudah bebas ya kan karena sudah lulus.

Ramadhan pertama pun disambut dengan suka cita, kali ini hari pertama puasa jatuh pada hari senin, ya ini seperti mau awal pertama kali memulai aktifitas jadinya. Puasa pertama Alhamdulillah dijalani dengan lancar, karena ya kan masih awal, aktifitas belum begitu banyak, jadinya ya gak begitu terasa, sore harinya baru mulai panas, karena ngambil barang yang aku kirimkan melalui bus kan. Dan itu dilogas, dan cuaca lagi panas-panasnya, ini baru namanya cobaan kan. Kalau puasa cuma menahan lapar dan haus saja tentunya ndak akan greget, semakin banyak godaan dan cobaan semoga menjadikan puasa ini menjadi lebih berkah dan bermanfaat.

Hari kedua puasa pun aku jadikan moment untuk mengurus yang namanya surat-surat kendaraanku, ya biar cepat selesai jadi ya secepatnya diurus ini semuanya. Perjalanan dari rumah ketaluk kuantan tak terasa melelahkan ketika berangkat, ini karena hari belum begitu panas, jadi ya sampai di taluk pun masih semangat 45. Ngurus ini itu dan akhirnya semua urusan mengenai kendaraan kelar deh, tinggal belikan titipan emak aja. Setiap ketaluk ni emak pastinya mesen sesuatu, ya kan karena kebutuhan keluarga kan, ya sebenarnya di Sungai Kuning juga ada, tapi karena kebiasaan belanja di taluk ya emak penginnya ditaluk.

Pulang dari taluk ini kok rasanya ada yang beda, ya sekilas kenangan masa lalu itu timbul, kenangan ketika aku sekolah dahulu, ketika kalo siang hari mudik kerumah, ataupun ketika aku lari-lari sore yang rutenya dari SMKN1 lewat jalan atas kearah kantor bupati, jalan ini tidak banyak berubah tetapi dalam bayangan terlintas dulu kok aku bisa lari sampai persimpangan TK ya, padahal kalo sekarang mungkin?? belum tau juga, karena ndak pernah nyoba juga kan.

Setelah semua aktifitas yang melelahkan itu setiba dirumah ya cuma bisa tidur saja sampai sore hari, ya itung-itung biar ndak terlalu capek sehingga malam harinya bisa semangat beribadah lagi kan.

Diselesaikan di Sungai Kuning oleh Andriyas Efendi, dan dibaca dimana saja.

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.