Skip to content

Tersadar

Pernahkah dikau dikecewakan? Atau bahkan kita menjadi salah satu faktor pembuat kecewa itu, seringkali kita dihadapkan pada situasi yang sesungguhnya benar-benar kita rasakan bahwa efek untuk diri kita kedepannya tidak jelas akan baik atau tidaknya. Ini bukanlah curhatan diri, tapi ini adalah sebuah refleksi diri yang mengalami begitu banyaknya gonjang-ganjing kehidupan yang bisa dikatakan sudah entah harus kemana lagi kaki ini berpijak. Tak tahu akan kemana arah yang kita tuju, dan seolah semuanya serasa menjadikan kita manusia yang semakin lama semakin jauh dengan kuasa yang pencipta.

Bulan tak lagi bersinar terang, begitu juga gemerlap bintang yang biasanya begitu indah terlihat, tetapi entah mengapa kali ini semuanya terlihat suram. Hanya gelap yang didefinisikan sebuah keadaan kekurangan cahaya. Apa ini juga refleksi dari diri ini? Apakah memang suasana diri ini sedang dalam keadaan gelap gulita? Apakah aku butuh cahaya?

Ya, sepertinya aku memang membutuhkannya. Lalu cahaya seperti apa yang aku butuhkan? Mungkin sedikit merenungi semua kejadian dan apa saja yang telah dialami bisa membuatku menemukan sebenarnya apa yang sedang aku cari saat ini. Sebagian dari kita mungkin begitu mudah dan sudah mendapatkan cahaya yang dia inginkan, tapi entah mengapa, tidak dengan diriku, entah mengapa seolah sedikit demi sedikit semuanya itu menjadi semakin suram dan bahkan hilang sama sekali.

Apa iya keinginan untuk tidak terlihat menonjol itu malah sebenarnya tombak yang menghujam kepada diri ini? Apa iya jika aku hanya menginginkan menjadi orang yang bersorak saja dan tidak menjadi pahlawan itu merupakan sebuah hal yang salah. Entah mengapa saat ini aku merasa kok sepertinya diri ini tiada berharga sama sekali. Semua yang telah aku capai bukan apa-apa, dan bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang telah didapatkan orang lain.

Lagi-lagi sepertinya alam ingin menunjukkan langkah yang tepat yang seharusnya aku tempuh sebelum mengambil sebuah keputusan.

Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu salah dan kita tetap melakukannya, lantas disebut apa diri kita ini?

Pernahkah kita merasa kecewa dengan diri kita sendiri atas apa saja yang pernah dilakukannya. Sepertinya memang sudah saatnya kita menata diri kembali, mengembalikan apa yang sudah terbiasa dilakukan. Menjadikannya sebuah teguran singkat yang kelaknya akan menjadikan kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.

AESP

Andriyas Efendi

Author: Andriyas Efendi

Anak dari petani yang pengin tinggal didesa yang sepi, tapi tetep ada internet yang memadai serta kuota yang unlimited.